Chapter 2
Tiga Saksi, Satu Salah Paham, dan Harga Sebuah Perlindungan
Nara membawa Alya ke ruang pertemuan warisan pada hari kedua, di depan tiga saksi hostile dan Ibu Ratna. Tuduhan kebocoran dokumen dipelintir untuk menjatuhkan Alya, tetapi Nara memilih mengambil alih kesalahan dan menyebut Alya sebagai istri di hadapan keluarga. Alya menegaskan agensinya dengan menuntut jalur legal yang sah, lalu menandatangani addendum kehadiran. Di akhir scene, mereka mengamankan halaman kunci dari buku besar terakhir, dan muncul petunjuk baru bahwa arsip tersegel hanyalah pintu pertama menuju rangkaian pengkhianatan yang lebih luas. Di aula warisan pada hari kedua hitungan enam hari, Ibu Ratna memelintir isu kebocoran arsip menjadi tuduhan halus terhadap Alya di depan tiga saksi hostile. Alya membantah dengan detail legal tentang buku besar terakhir, mengungkap bahwa ia tahu lebih banyak dari yang mereka kira. Saat ruangan hampir memihak narasi keluarga, Nara berdiri eksplisit di sisi Alya dan menanggung risiko sosial dengan menyatakan ia sendiri yang mengajukan kontrak. Perlindungan itu mahal: status Nara terguncang, Alya makin terlihat, dan malamnya mereka mengamankan halaman kunci buku besar terakhir—namun menemukan petunjuk bahwa arsip yang disegel hanyalah pintu pertama menuju pengkhianatan yang lebih besar. Alya memaksa akses ke halaman kunci dari buku besar terakhir dan membuktikan dirinya bukan penerima perlindungan pasif. Saat tuduhan publik dipelintir di depan tiga saksi hostile, Nara memilih berdiri di sisinya dan memerintahkan akses arsip dibuka atas nama kontrak, meski itu merusak citra keluarganya sendiri. Mereka mengamankan bukti awal tentang pengkhianatan pertama, tetapi juga menemukan petunjuk bahwa arsip yang disegel hanyalah pintu awal dari skandal yang jauh lebih besar.