Novel

Chapter 11: Harga dari Sebuah Kebenaran

Lina menghadapi Pak Hardi dan keluarganya dengan bukti penggelapan dana. Ibu Sien akhirnya mengakui bahwa jaringan tersebut dibangun untuk menutupi utang judi mendiang ayah Lina, memberikan resolusi emosional yang pahit bagi Lina.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga dari Sebuah Kebenaran

Udara di Balai Komunitas masih terasa berat, sisa-sisa aroma dupa dari pemakaman Paman bercampur dengan bau kertas ledger yang lembap. Tiga hari setelah konfrontasi di podium, gedung ini bukan lagi tempat perlindungan, melainkan ruang interogasi. Lina Tan berdiri di tengah ruangan, memeluk tas kanvas berisi buku catatan berkode dan salinan rekaman pengakuan Kong Atek.

Di depannya, Pak Hardi—pejabat kota yang selama ini menjadi pelindung bayangan jaringan—berdiri dengan tangan terlipat. Matanya menyapu ruangan, mencari celah. "Lina, ini bukan lagi masalah keluarga. Ini masalah aset negara. Serahkan buku-buku itu, dan kita bisa memastikan namamu bersih dari skema 'Tan Lian' yang membusuk itu," ujar Hardi, suaranya licin seperti minyak.

Lina tidak bergeming. Ia tahu seragam itu hanyalah topeng. "Anda bicara tentang aset negara, atau aset yang Anda curi dari para pedagang di sini? Saya bukan lagi keponakan yang bisa Anda tekan dengan ancaman administratif. Saya pemegang ledger resmi. Menurut aturan komunitas yang Anda sendiri bantu sahkan, saya memiliki hak veto atas setiap dokumen yang menyangkut dana perlindungan ini."

Hardi hendak melangkah maju, namun Maya Suryani muncul dari balik pintu samping, ponselnya merekam dengan lampu indikator yang menyala merah. Kehadiran Maya membuat Hardi mundur selangkah. Ancaman administratif yang dulu begitu menakutkan kini kehilangan taringnya di depan mata publik yang mulai terbangun. Lina menyadari bahwa otoritas hukum formal telah terkontaminasi hingga ke akarnya; ia tidak lagi bisa berharap pada sistem, ia harus menjadi sistem itu sendiri.

Di kediaman keluarga, suasana lebih menyesakkan. Pintu kayu dibanting hingga kaca kecilnya bergetar saat Lina melangkah masuk. Ibu Sien dan Raka sudah menunggu di ruang makan. Raka tampak kusut, sisa-sisa keangkuhannya hancur bersama reputasi yang ia bangun di atas penipuan.

“Bakar saja buku itu,” desis Raka tanpa basa-basi. “Selama nama keluarga ini belum habis diinjak orang, masih ada jalan. Kalau ledger itu keluar, semua habis.”

Lina menatap mereka dengan dingin, telapak tangannya menekan kunci brankas utama di saku celananya. “Jalan buat siapa, Raka? Buat menutupi lubang yang kau gali sendiri?”

Ibu Sien tidak menatap Lina. Ia terpaku pada amplop-amplop transfer yang menumpuk di meja—bukti nyata dari pengkhianatan yang ia biarkan terjadi. “Kau harus berhenti bicara soal bukti, Lina,” suara Ibu Sien bergetar, namun tatapannya tetap tajam. “Kau tidak mengerti harga yang harus dibayar agar keluarga kita tetap berdiri saat orang-orang di luar sana mencoba merobohkan pintu kita.”

Lina mendorong buku catatan berkode ke tengah meja, membelah tumpukan amplop itu. “Aku melihat semuanya. Aku melihat namaku, 'Tan Lian', digunakan untuk menutupi jejak kalian. Kalian mengorbankan masa depanku bahkan sebelum aku sempat memilikinya. Katakan yang sebenarnya, atau aku akan membiarkan bukti ini diserahkan langsung ke kejaksaan besok pagi.”

Keheningan mencekam menyelimuti dapur. Ibu Sien perlahan menundukkan kepala, bahunya yang biasanya tegak kini merosot. “Ayahmu… dia tidak pernah meninggalkan warisan yang bersih,” bisik Ibu Sien, suaranya pecah. “Dana itu, dana perlindungan yang kau banggakan, habis untuk menutupi utang judi mendiang ayahmu dua puluh tahun lalu. Aku melakukan ini bukan untuk kekayaan, Lina. Aku melakukannya agar kau tidak pernah tahu bahwa nama keluarga kita dibangun di atas debu dan rasa malu.”

Ibu Sien akhirnya menangis, sebuah ledakan emosi yang pahit dan terlambat. Lina menatap wanita itu—bukan sebagai arsitek jaringan yang kuat, melainkan sebagai korban dari sistem yang sama yang ingin ia hancurkan. Lina tidak lagi mencari pengakuan keluarga; ia kini memegang kendali atas masa depan komunitas itu sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced