Novel
Chapter 9: Chapter 9
Dian menghadapi tekanan langsung dari warga dan Pak Arif di toko kelontong yang mengungkap beban utang komunitas yang mulai menular dan mengancam stabilitas jalan utama. Dalam ritual teh malam di rumah teh warisan, Dian, Mira, dan Pak Arif membahas resep roti tradisional sebagai simbol harapan sekaligus beban besar yang harus mereka pikul. Keesokan harinya, Pak Arif menuntut komitmen penuh dari Dian untuk gotong royong, menegaskan risiko besar jika perjuangan setengah hati. Sore harinya, Dian menerima kabar mendesak tentang utang pajak yang mengancam rumah teh, sementara Mira datang membawa bahan roti tradisional, memperkuat ikatan dan harapan. Bab ini berakhir dengan Dian menatap peta dan buku warisan, menghadapi dilema berat antara mempertahankan warisan atau menyerah pada tekanan ekonomi yang semakin nyata.