Novel

Chapter 10: Detik-detik Terakhir

Aris mengumpulkan delapan kunci terakhir dari para pedagang di ruang belakang toko penjahit. Dengan tekanan waktu yang semakin menipis, ia membuka brankas bawah tanah dan menemukan ledger asli yang berisi daftar suap serta bukti keterlibatan pengembang dengan otoritas korup. Saat ia menggenggam ledger, suara penyusupan terdengar dari atas—ia memutuskan harus segera pergi meski menyadari bahaya sudah sangat dekat. Aris menyelinap ke basement gedung Grand Horizon menggunakan seragam petugas kebersihan curian dan kunci duplikat. Ia berhasil menemukan map berisi daftar transfer bank ke pejabat kota—bukti suap yang terkait langsung dengan kematian kakeknya. Saat hendak kabur, ia dikejar satpam malam, melarikan diri melalui tangga darurat, namun dihalangi Enforcer yang sudah menanti di luar bersama bala bantuan polisi. Dalam pelarian dari gedung Grand Horizon, Aris terpojok di lorong parkir bawah tanah. Ia berkelahi mati-matian dengan Enforcer dan pengawalnya, berhasil merebut kembali ledger asli meski terluka parah di lengan. Darahnya menetes ke sampul ledger saat ia akhirnya mencapai pintu keluar, hanya untuk disambut sorot lampu mobil polisi yang sudah mengepung—menandakan bahwa pertarungan belum berakhir.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Detik-detik Terakhir

Delapan Kunci di Tangan

Aris berdiri di tengah ruang belakang toko penjahit yang sudah gelap, hanya diterangi lampu neon kecil di atas meja potong. Delapan kunci tergeletak di atas kain flanel tua, masing-masing berbeda bentuk dan ukuran, tapi semuanya sudah aus karena bertahun-tahun disembunyikan di saku dalam, di bawah laci kasir, atau di balik panel dinding toko masing-masing pemilik.

Bibi Lian memegang kunci terakhir—kunci miliknya sendiri—dan menatap Aris lama sekali sebelum meletakkannya di antara yang lain. Jari-jarinya gemetar sedikit, tapi matanya kering.

“Delapan,” katanya pelan. “Sekarang kau pegang semuanya.”

Pak Heng berdiri di sudut, lengan disilang, napasnya berat. Dua pedagang lain—Bu Mei dari toko obat herbal dan Pak Lim dari warung kopi—masih berdiri di ambang pintu ruang bawah tanah, wajah mereka pucat di bawah cahaya redup. Tidak ada yang berbicara setelah kunci terakhir diletakkan.

Aris merasakan detak jantungnya sendiri di telinga. Jam dinding di atas sudah menunjukkan pukul 03:47. Kurang dari tiga jam lagi sebelum alat berat Grand Horizon mulai menggeram di ujung gang.

Ia mengambil kunci-kunci itu satu per satu, memasukkannya ke dalam saku jaketnya yang sudah robek di bagian siku. Setiap kunci terasa lebih berat dari yang sebelumnya, seolah-olah mereka membawa nama-nama pemiliknya: Pak Heng, Bu Mei, Pak Lim, Tante Siu, dan yang lain-lain yang sudah menyerahkan bagian mereka malam ini.

“Masih ada yang ragu?” tanya Aris, suaranya lebih tenang daripada yang ia rasakan.

Pak Heng menggeleng pelan. “Kami sudah terlalu jauh untuk mundur. Tapi kalau kau gagal, Aris, bukan cuma toko yang hilang. Nama kami juga akan tercatat di buku mereka sebagai pengkhianat.”

Aris mengangguk. Ia tahu. Nama-nama itu ada di ledger—dan nama dia sendiri ada di urutan paling akhir, sebagai jaminan terakhir.

Bibi Lian melangkah maju, membuka pintu besi kecil di lantai yang selama ini tertutup karpet usang. Tangga menuju ruang bawah tanah tercium bau lembap dan minyak mesin tua. Ia menyalakan lampu senter dari ponselnya.

“Mau aku ikut turun?” tanyanya.

“Tidak,” jawab Aris. “Kalau ada yang datang, kalian yang jaga atas. Beri tahu kalau ada gerakan.”

Ia turun lebih dulu, tangan memegang pagar besi yang dingin. Di belakangnya, langkah Bibi Lian dan Pak Heng mengikuti pelan. Ruangan bawah tanah sempit, hanya cukup untuk satu meja kerja tua dan brankas hijau besar yang sudah berkarat di sudut. Di atas brankas, sebuah pita pengukur kain tua tergantung, angka delapan dilingkari dengan spidol merah pudar.

Aris berlutut di depan brankas. Delapan lubang kunci tersusun dalam lingkaran sempurna. Ia mulai memasukkan kunci satu per satu, mengikuti urutan yang diberikan Pak Heng tadi malam: urutan tahun toko dibuka, bukan urutan alfabet.

Klik. Klik. Klik.

Setiap kunci masuk membuat jantungnya melonjak. Pada kunci keenam, ia mendengar suara gemeretak logam di atas—langkah kaki cepat di lantai toko.

Bibi Lian menoleh ke atas. “Mereka datang lebih cepat dari yang kita kira.”

Aris tidak berhenti. Kunci ketujuh masuk. Klik.

Kunci terakhir—milik Bibi Lian—ia masukkan dengan tangan yang mulai berkeringat. Mekanisme dalam brankas berderit panjang, lalu terdengar dentuman kecil.

Brankas terbuka.

Di dalamnya hanya satu benda: buku besar bersampul kulit hitam, tebal, dengan halaman pertama sudah disobek separuh. Aris mengambilnya, jari-jarinya langsung membuka halaman tengah.

Daftar nama. Tanggal. Jumlah uang. Tanda tangan. Dan di bagian paling bawah, daftar transfer ke rekening-rekening yang ditandai dengan inisial polisi dan pejabat daerah. Nama perusahaan Grand Horizon muncul berulang-ulang, disertai catatan “pelicin” dan “jaminan tanah”.

Aris menutup buku itu dengan cepat. “Ini lebih dari sekadar hutang keluarga,” katanya, suaranya serak. “Ini daftar suap yang bisa menenggelamkan mereka semua.”

Pak Heng menggumam pelan. “Dan kau sekarang memegangnya.”

Langkah di atas semakin keras. Ada suara pintu toko didobrak.

Aris memasukkan ledger ke dalam tas selempangnya, mengencangkan resleting. Ia menoleh ke Bibi Lian. “Aku harus keluar sekarang. Kalian tetap di sini. Jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali aku kembali.”

Bibi Lian meraih lengan Aris. “Kau terluka nanti.”

“Mungkin,” jawab Aris. “Tapi kalau ledger ini sampai ke tangan mereka lagi, semua yang kalian serahkan malam ini sia-sia.”

Ia berbalik, naik tangga dengan cepat. Di atas, lampu senter polisi sudah menyapu ruangan depan toko. Aris menggenggam tas erat-erat, napasnya pendek.

Ledger ada di tangannya.

Tapi ia tahu, pintu belakang sudah diblokir.

Dan malam ini belum selesai.

Penyusupan di Tengah Malam

Aris menarik napas pendek di balik topi petugas kebersihan yang terlalu besar. Seragam biru tua itu bau kapur barus dan keringat orang lain—milik anak Pak Heng yang sudah tiga bulan tidak muncul di gedung ini. Kunci duplikat di saku celananya terasa panas, seolah tahu dia sedang meminjam nyawa orang lain.

Pintu servis belakang gedung Grand Horizon terbuka dengan bunyi klik pelan. Lampu koridor basement menyala kuning redup, hanya setiap lampu ketiga yang hidup. Aris melangkah masuk, troli sampah kosong di depannya berderit pelan seperti peringatan. Jam di dinding menunjukkan 02:47. Kurang dari empat jam sebelum fajar menghancurkan blok toko penjahit.

Dia mendorong troli melewati lorong sempit menuju ruang arsip. Kamera di sudut atas berkedip merah sekali setiap sepuluh detik. Aris menunduk, membiarkan topi menutupi sebagian wajah. Setiap langkah terasa seperti taruhan: satu gerakan salah, satu bayangan terlalu jelas, dan semuanya selesai.

Ruang arsip terkunci. Aris mengeluarkan kunci lain—yang diberikan Mbok Siti dari warung kopi sebelah. Kunci itu masuk dengan mulus, tapi pintu berderit lebih keras daripada yang dia harapkan. Dia membeku. Tidak ada langkah kaki. Belum.

Di dalam, lemari baja berderet rapi. Aris tahu persis apa yang dicari: map berlabel “Transfer Q3–Q4” yang pernah disebut Enforcer secara tidak sengaja di restoran tua itu. Bukan ledger utama—ledger itu masih di brankas toko penjahit—tapi bukti pendukung yang bisa membuat seluruh jaringan runtuh jika sampai ke tangan yang tepat.

Dia menemukannya di laci ketiga dari bawah, di antara tumpukan dokumen lain yang tampak terlalu rapi untuk kantor konstruksi. Map cokelat tua, tebal, dengan tulisan tangan di sampul: “Disetujui – Direktur”. Aris membukanya sekilas. Nama-nama pejabat kota berderet di kolom kiri. Di sebelah kanan: jumlah transfer, tanggal, nomor rekening. Dan di baris ketiga dari atas: Tan Wei Long – 1,2 M – 14 Agustus. Tanggal kematian Kakek.

Jantungnya berdegup kencang sampai terasa di tenggorokan. Ini bukan sekadar hutang. Ini pembayaran atas nyawa.

Tiba-tiba lampu ruangan menyala terang. Aris menjatuhkan map ke lantai, berbalik cepat.

Satpam berdiri di ambang pintu, tangan sudah di radio. “Kau bukan petugas malam ini.”

Aris mengangkat kedua tangan perlahan. “Saya cuma... membersihkan. Laci ini terbuka tadi.”

Satpam melangkah masuk, mata menyipit ke arah map yang tergeletak. “Ambil tasmu. Ikut ke atas.”

Aris menunduk seolah patuh, tapi tangan kanannya meraih map itu dari lantai dan menyelipkannya ke dalam seragam di dada. Satpam maju satu langkah lagi.

Saat itulah Aris bergerak. Dia mendorong troli keras ke arah satpam. Troli menghantam lutut pria itu, membuatnya terhuyung. Aris berlari ke pintu, tapi satpam sudah menarik peluit. Bunyi nyaring memecah keheningan basement.

Tangga darurat hanya sepuluh meter di depan. Aris melompat, kakinya menghantam anak tangga dua-dua. Di belakang, terdengar langkah berat dan teriakan radio: “Intruder! Lantai bawah! Kirim tim ke pintu timur!”

Dia mencapai pintu keluar darurat, mendorong palang besi. Udara malam dingin menyapu wajahnya. Map masih menempel di dada, kertasnya basah oleh keringatnya sendiri.

Tapi baru dua langkah ke luar, sorot lampu senter menyambar dari sisi gedung. Suara yang dikenalnya terlalu baik terdengar di kegelapan.

“Kau pikir bisa lari bawa itu, Aris?”

Enforcer melangkah keluar dari bayang mobil hitam yang diparkir di gang samping. Di tangannya bukan pistol—tapi telepon, dan di layar terlihat wajah Aris dari kamera keamanan tadi. Di belakangnya, dua mobil polisi tanpa sirene sudah memblokir ujung gang.

Aris berhenti. Napasnya tersengal. Map di dadanya terasa lebih berat daripada delapan kunci yang sudah dia kumpulkan sebelumnya.

Enforcer tersenyum tipis. “Serahkan. Atau malam ini bukan hanya toko-toko yang hilang.”

Darah di Atas Kertas

Aris berlari menuruni tangga darurat, napasnya terengah-engah, tas kain lusuh yang berisi ledger asli menekan dada kirinya seperti beban batu. Darah sudah merembes dari luka sayatan di lengan kiri—pisau pengawal tadi hampir mengenai urat nadi. Setiap langkah membuat darah menetes ke lantai beton lorong parkir bawah tanah, meninggalkan jejak kecil yang berkilau di bawah lampu neon kuning pucat.

Ia hampir sampai di pintu keluar ketika bayangan besar muncul dari sisi kolom beton. Enforcer berdiri di sana, jaket kulit hitamnya masih rapi, tapi matanya sudah liar seperti binatang yang terpojok. Di belakangnya dua pengawal lagi, satu memegang tongkat besi, yang lain pistol di pinggang.

“Kau pikir bisa keluar begitu saja, Aris?” suara Enforcer rendah, hampir seperti doa. “Ledger itu bukan milikmu. Itu milik semua orang yang pernah membayar harga supaya nama mereka tidak tercatat di halaman terakhir.”

Aris berhenti, tangan kanannya menekan luka di lengan kiri. Darah hangat mengalir di sela-sela jari. “Justru karena nama saya ada di halaman terakhir, ledger ini sekarang milik saya. Bukan milik perusahaan holding. Bukan milik kalian.”

Enforcer melangkah maju. “Delapan kunci itu cuma membuka kotak. Yang keluar dari kotak itu akan menghancurkan lebih banyak orang daripada yang kau lindungi. Termasuk dirimu sendiri.”

Aris menarik napas pendek. Ia bisa mendengar deru mesin mobil di atas, suara sirene samar-samar dari kejauhan—waktu sudah hampir habis. Fajar tinggal beberapa jam lagi. Toko-toko akan rata dengan tanah kalau ia gagal malam ini.

Pengawal pertama maju dengan tongkat besi terayun. Aris menunduk, membiarkan ayunan itu mengenai udara, lalu menendang lutut pria itu keras. Tulang berderit. Pengawal jatuh berlutut sambil mengumpat. Yang kedua mengeluarkan pistol, tapi Aris sudah bergerak lebih cepat—ia melempar tas berisi ledger ke arah Enforcer sebagai pengalih perhatian.

Enforcer menangkap tas itu secara refleks. Itu kesalahan.

Aris melompat, menabrak Enforcer hingga keduanya terjepit di antara mobil van putih dan dinding. Ia meraih pergelangan tangan Enforcer yang memegang tas, memelintir keras sampai tas terlepas. Ledger jatuh ke lantai dengan bunyi keras. Sampul kulit tua itu terbuka sedikit, memperlihatkan halaman yang disobek di bagian belakang—tempat nama-nama terakhir seharusnya ada.

Enforcer mendorong Aris mundur, tapi Aris tidak melepaskan. Ia meninju rahang Enforcer sekali, dua kali, sampai darah muncrat dari hidung pria itu. Enforcer terhuyung, tapi tangannya masih mencoba meraih tas.

“Berhenti!” teriak Enforcer, suaranya pecah. “Kau tidak mengerti. Kalau ledger ini sampai ke tangan polisi yang benar, bukan yang sudah dibeli, seluruh jaringan runtuh. Termasuk nama Bibi Lian. Termasuk nama kakekmu yang sudah mati. Mereka akan bilang dia bagian dari ini semua.”

Aris membeku sesaat. Gambar kakek di kursi roda, tersenyum tipis di depan toko penjahit, muncul di benaknya. Lalu gambar yang lain—kakek yang sama tergeletak di trotoar, darah menggenang, mobil hitam melaju pergi.

“Itu sudah terlambat,” kata Aris pelan. “Kakek sudah dibunuh karena ledger ini. Aku tidak akan membiarkan nama-nama lain ikut mati.”

Ia menendang perut Enforcer keras. Pria itu jatuh terduduk. Aris meraih tas, menutup resleting dengan tangan gemetar, lalu berlari menuju pintu keluar.

Darah menetes dari lengan ke sampul ledger yang menonjol dari tas. Tetesan merah membasahi kulit tua itu, meresap ke pori-pori seperti tinta lama yang kembali hidup.

Ia mendorong pintu besi berat. Udara malam menyapu wajahnya, dingin dan basah oleh embun fajar. Tapi sebelum ia bisa melangkah keluar, sorot lampu biru-merah menyilaukan mata. Dua mobil polisi memblokir jalan keluar parkir, pintu terbuka, petugas bersenjata turun dengan senapan di tangan.

Aris berdiri di ambang pintu, tas di dada, darah masih menetes dari lengan ke lantai. Ledger sudah di tangannya. Tapi di depannya, polisi korup yang sudah menunggu sejak awal malam ini.

Ia tahu—malam ini belum selesai.

Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi berlari sendirian.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced