Surat Pemakaman dan Hutang yang Tak Terbayar
Bau apak kain tua dan sisa minyak mesin jahit menyambut Aris saat ia mendorong pintu kayu toko itu. Di luar, hiruk-pikuk Chinatown masih berdenyut dengan ritme yang sama seperti sepuluh tahun lalu, namun di dalam sini, waktu seolah berhenti tepat di titik di mana kakeknya berhenti bernapas. Aris tidak berniat tinggal lebih dari satu jam. Ia hanya perlu mencari akta kematian yang terselip di laci kasir, menandatanganinya, lalu membiarkan pengacara keluarga mengurus sisanya.
Ia melangkah masuk, menghindari tumpukan kain sutra yang kini berdebu dan dimakan rayap. Toko penjahit ini—tempat kakeknya dulu menjahit setelan untuk para petinggi kota—kini tampak seperti bangkai yang perlahan membusuk. Aris menarik napas panjang, menahan diri untuk tidak menyentuh apa pun. Baginya, warisan hanyalah beban yang ingin ia buang jauh-jauh. Langkahnya terhenti di depan meja potong utama. Di sana, di atas permukaan kayu yang kasar, tergeletak sebuah pita pengukur penjahit. Posisinya tidak acak; pita itu melingkar dengan presisi yang ganjil, membentuk angka delapan yang sempurna di tengah meja. Aris merasakan tengkuknya meremang. Ia ingat betul kakeknya adalah orang yang sangat rapi, namun ia tidak pernah meninggalkan pita pengukur seperti ini. Ini bukan kebiasaan seorang penjahit yang sedang beristirahat. Ini adalah sebuah pesan.
Saat Aris hendak meraih pita itu, suara derit lantai kayu di belakangnya memicu insting pertahanannya. Ia berbalik, namun pintu depan sudah tertutup rapat, terkunci dari luar.
"Kamu terlambat dua puluh tahun, Aris," suara itu rendah, datar, dan tajam seperti pisau yang baru diasah. Seorang pria berdiri di balik tirai beludru yang memudar. Tubuhnya ramping, terbungkus jaket kulit hitam yang tampak tidak sinkron dengan suasana toko penjahit yang kuno. Ia adalah Enforcer, sosok yang Aris ingat samar-samar dari masa kecilnya sebagai bayangan yang selalu muncul saat kakeknya sedang sibuk dengan pembukuan.
Aris mengeraskan rahang, mencoba menutupi kegugupan dengan sikap dingin yang ia pelajari selama bertahun-tahun di luar negeri. "Saya tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Saya di sini hanya untuk mengurus pemakaman, bukan untuk melayani nostalgia atau utang masa lalu."
Pria itu tersenyum tipis, sebuah gerakan yang tidak mencapai matanya. Ia melangkah maju, meletakkan sebuah amplop cokelat kusam di atas meja kayu tempat pita pengukur kakeknya masih tergeletak melingkar. "Pemakaman hanyalah formalitas, Aris. Tapi hutang? Hutang darah tidak mengenal kata pensiun."
Aris membuka amplop itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Di dalamnya terdapat surat sita aset yang mencantumkan nama asli kakeknya—nama yang seharusnya sudah terkubur bersama rahasia-rahasia lama. Surat itu bukan sekadar kertas; itu adalah ancaman yang menyebutkan nama asli kakeknya yang seharusnya sudah terkubur, sebuah pengingat bahwa ia tidak bisa lagi melarikan diri dari akar yang mencoba mencekiknya.
Setelah pria itu pergi dengan ancaman terselubung, Aris menarik laci meja jahit yang terkunci. Kayu yang lapuk itu menyerah dengan decit tajam. Di dalamnya, tidak ada sisa-sisa kain sutra, melainkan sebuah buku besar bersampul kulit hitam. Aris membuka buku itu. Halaman-halamannya penuh dengan catatan angka yang ditulis dengan tinta yang mulai memudar, namun polanya konsisten. Itu bukan catatan pesanan jas. Itu adalah catatan aliran dana, daftar nama yang disamarkan dengan inisial, dan serangkaian tanggal yang bertepatan dengan setiap kali kakeknya mengirimkan uang 'tambahan' ke luar negeri.
Ia membalik halaman ke bagian tengah, di mana kertas-kertasnya sengaja disobek dengan kasar. Di balik halaman yang robek itu, ia menemukan daftar nama pemilik toko lain di blok tersebut—dan namanya sendiri tertulis di urutan terakhir sebagai pewaris yang sah. Aris menyadari bahwa ia bukan hanya pewaris toko, tetapi target berikutnya dari jaringan yang tidak terlihat; ia tidak bisa lagi memalingkan wajah.