Detik Terakhir di Lantai Nol
Engsel pintu apartemen Aris menjerit sebelum hancur, disambar paksa oleh alat pembongkar otomatis milik otoritas Sektor Bawah. Di lantai yang kotor, tumpukan notifikasi hologram merah menyala, memproyeksikan denda pajak Menara yang mustahil dilunasi oleh seorang pekerja kasar sepertinya. Aris menatap layar retak di pergelangan tangannya: Sisa waktu akses lantai 1: 59 menit.
Jika ia tidak melangkah masuk ke Menara dalam satu jam, hak tinggalnya di Sektor Bawah akan dicabut permanen. Dia akan menjadi gelandangan tanpa identitas di distrik luar yang mematikan, tempat di mana hukum sistem tidak lagi melindungi nyawanya.
“Satu jam lagi, Aris. Setelah itu, sistem akan menghapus namamu dari daftar penduduk,” suara dingin Operator 'Glitch' bergema di kepalanya, memotong napasnya yang tersengal. Itu bukan suara manusia, melainkan distorsi mekanis yang langsung menyerang saraf pendengarannya.
Aris bangkit, mengabaikan nyeri tajam di rusuknya akibat benturan dengan agen penagih tadi. Dia tidak punya pilihan. Menara adalah satu-satunya sumber daya yang tersisa di dunia ini. Di luar sana, jutaan mata tertuju pada papan peringkat publik yang diproyeksikan di langit kota. Nama-nama elit seperti Kiran terpampang dengan huruf emas, sementara nama Aris bahkan tidak layak masuk dalam daftar seribu besar. Baginya, Menara bukan tempat mencari kejayaan, melainkan lubang hitam yang menelan utang keluarganya.
Dia berlari menuju gerbang rotasi Sektor Bawah. Udara di sana berbau ozon dan logam terbakar. Di depannya, gerbang lantai satu yang megah mulai bergetar hebat, sinyal bahwa rotasi permanen akan segera dimulai—menutup akses ke lantai ini selamanya bagi siapa pun yang gagal masuk.
*
Udara di Lantai 1 terasa seperti logam berkarat yang dipaksakan masuk ke paru-paru. Aris tersungkur di atas lantai beton retak, napasnya memburu. Di atas kepalanya, sebuah layar hologram transparan berkedip merah: SISA WAKTU AKSES: 00:14:22. Di depannya, bayangan hitam setinggi dua meter—sebuah Scrap-Stalker—muncul dari balik tumpukan puing. Makhluk itu bukan sekadar monster; ia adalah sisa-sisa program gagal yang dipaksa menempati lantai ini. Taring besinya beradu, mengeluarkan percikan listrik statis yang menyambar lantai.
"Data korup terdeteksi," suara dingin Operator 'Glitch' kembali bergema. "Jika kau mati di sini, utang keluargamu akan dilimpahkan ke sistem pembersihan lantai. Kau akan dihapus secara permanen dari daftar warga."
Aris menggeram, tangannya mencengkeram pipa besi berkarat yang ia temukan di ambang pintu. "Berhenti bicara dan berikan aku sesuatu yang bisa dipakai!"
"Sinkronisasi memori fragmen 001 dimulai," jawab sistem itu.
Seketika, rasa sakit yang merobek otot menghantam Aris. Penglihatannya berubah. Dunia yang tadinya kelabu kini dipenuhi garis-garis cahaya biru yang saling silang—sebuah cetak biru dari masa lalu Menara yang terhapus. Garis-garis itu menonjolkan titik lemah pada Scrap-Stalker: sebuah sirkuit yang terbuka di antara lempengan armor dada makhluk itu.
Makhluk itu menerjang. Aris tidak menghindar dengan naluri biasa; dia bergerak mengikuti alur cahaya biru yang ditunjukkan sistem. Dengan satu gerakan presisi yang tidak masuk alur, ia menghujamkan pipa besi tepat ke celah sirkuit tersebut. Percikan api meledak, monster itu ambruk, dan notifikasi sistem berkedip: Anomali Lantai Terpicu: Sinergi Data 10% tercapai.
*
Dinding lorong Lantai 1 bergetar, mengeluarkan suara dentuman logam yang menyakitkan telinga. Di depan Aris, gerbang keluar—sebuah celah vertikal yang memancarkan cahaya biru pucat—mulai menyusut. Sistem pengawasan publik di atas langit-langit berkedip merah, menandai sisa waktu: 00:02:14.
Aris tersungkur, napasnya tersengal. Keringat dingin bercampur debu industri membasahi wajahnya. Di belakangnya, gema langkah berat Scrap-Stalker yang baru saja ia kalahkan masih terdengar seperti peringatan. Namun, bukan monster itu yang membuat ototnya gemetar. Itu adalah 'Glitch', entitas sistem yang kini bersarang di kesadarannya, memaksa aliran data kuno masuk ke syaraf motoriknya.
Sinkronisasi 88%... 92%... Peringatan: Beban saraf melebihi kapasitas inang.
Aris memaksakan diri berdiri. Kakinya terasa seperti ditusuk jarum panas. Ia tidak punya pilihan. Jika dia tidak keluar sebelum timer mencapai nol, akses ke lantai ini akan disegel permanen oleh sistem, dan dia akan terjebak di zona mati selamanya. Ia melangkah tertatih, lalu berlari. Setiap pijakan kakinya meninggalkan bekas retakan di lantai beton yang rapuh.
Aris melihat bayangan seseorang berdiri di balik pilar penyangga, tepat di samping gerbang keluar. Sosok itu mengenakan jubah sutra teknis yang bersih dari noda debu Menara—pakaian seorang elit. Itu Kiran. Tatapan dinginnya menembus Aris, seolah melihat seekor serangga yang seharusnya sudah mati di dalam sana. Aris menatap celah memori yang bercahaya biru, satu-satunya jalan keluar. Saat sinkronisasi mencapai puncaknya, rasa sakit yang merobek ototnya membuat pandangannya kabur, namun ia tahu, di balik bayang-bayang itu, sang elit sedang memperhatikannya dengan minat yang berbahaya.