Novel

Chapter 4: Retakan dalam Perjanjian

Elena menemukan bukti bahwa pernikahannya adalah jebakan strategis Adrian untuk menguasai aset keluarganya. Saat terjebak dalam pemadaman listrik di lift, Adrian mengakui bahwa ia sengaja memilih Elena karena kerentanan dan martabatnya yang tersisa, mengubah dinamika hubungan mereka dari sekadar kontrak menjadi aliansi bertahan hidup yang berbahaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Retakan dalam Perjanjian

Ruang kerja Adrian di lantai empat puluh Wiryawan Tower bukan sekadar kantor; itu adalah pusat kendali. Udara di sana terasa tipis, beraroma kayu mahoni yang dipoles dan ketegangan yang statis. Di luar pintu, derap langkah para eksekutif yang cemas terdengar seperti detak jantung yang tidak beraturan, namun di dalam sini, hanya ada keheningan yang menekan.

Adrian sedang berada di ruang rapat, berhadapan dengan para investor yang mulai mencium bau busuk di balik pernikahan mendadak ini. Elena berdiri di dekat meja mahoni yang luas, jemarinya yang dingin menyentuh permukaan map hitam yang terselip di bawah tumpukan laporan keuangan. Ia tidak berniat mengintip, namun nama keluarganya yang tertera di sudut dokumen itu menarik perhatiannya seperti magnet.

Ia membukanya. Itu bukan draf merger yang selama ini dipublikasikan. Itu adalah skema likuidasi aset pribadi keluarga Wiryawan—properti peninggalan ayahnya, tanah di pinggiran kota, bahkan hak paten perusahaan—semuanya telah disiapkan untuk disita oleh pihak ketiga yang selama ini memeras keluarganya. Adrian tidak menyelamatkannya dari skandal. Adrian telah merancang skenario ini agar Elena tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan sisa-sisa harta keluarganya sebagai jaminan atas kontrak pernikahan mereka.

Napas Elena tertahan di tenggorokan. Ia bukan pengantin pengganti yang beruntung; ia adalah bidak yang sengaja dijebak.

Pintu kayu ek terbuka. Adrian melangkah masuk dengan langkah yang tenang, kemeja putihnya yang digulung hingga siku memperlihatkan urat lengan yang menegang. Ia tidak terkejut melihat Elena di sana. Matanya yang gelap menatap Elena dengan kalkulasi dingin, seolah ia sudah menunggu momen ini.

"Mencari sesuatu yang berharga, Elena?" Suara Adrian memecah kesunyian, tajam dan tanpa emosi.

Elena tidak mundur. Ia menegakkan bahunya, memaksakan ketenangan yang menjadi satu-satunya senjata yang tersisa. "Aku mencari alasan mengapa namaku tertulis di sini sebagai aset yang harus diamankan, bukan sebagai istri yang harus dilindungi."

Adrian melangkah mendekat, memangkas jarak hingga aroma parfum maskulinnya memenuhi indra penciuman Elena. "Perlindungan adalah bentuk kompensasi, Elena. Jika kau merasa terhina karena menjadi aset, ingatlah siapa yang memegang kendali atas kebangkrutan keluargamu. Musuh yang memerasmu adalah orang yang sama yang ingin menghancurkan Wiryawan. Pernikahan ini bukan jebakan. Ini adalah benteng."

Sebelum Elena sempat membalas, gedung itu bergetar hebat. Listrik padam total, menelan ruangan dalam kegelapan pekat. Lift kantor yang mereka gunakan untuk berpindah lantai macet di antara lantai dua puluh dan dua puluh satu. Lampu darurat berpendar redup, menyisakan bayangan tajam yang membelah wajah Adrian.

"Kau sudah membacanya, bukan?" Suara Adrian kini lebih rendah, sarat dengan beban yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Ia bersandar pada dinding lift, melipat tangan di depan dada. "Arini melarikan diri karena dia tahu aset itu adalah umpan. Aku sengaja membiarkannya pergi agar musuh keluar dari persembunyiannya."

Elena meremas kertas di tangannya hingga buku jarinya memutih. "Jadi aku hanyalah pion untuk memancing mereka?"

Adrian melangkah maju, memaksa Elena terpojok ke dinding lift. Ia tidak menyangkal. "Aku tahu siapa kamu sejak awal, Elena. Aku tahu setiap utang, setiap ketakutan, dan setiap martabat yang kau pertahankan. Dan itulah sebabnya aku memilihmu. Karena hanya orang yang tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan yang berani bertaruh melawan monster yang sama denganku."

Elena menatap tajam ke dalam mata Adrian, menyadari bahwa ia kini terikat dengan musuhnya untuk melawan ancaman yang jauh lebih besar. Aliansi ini bukan lagi tentang cinta atau kontrak, melainkan tentang bertahan hidup di tengah sisa-sisa kehancuran yang mereka berdua ciptakan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced