Spiral yang Berakhir
Ruang rapat utama Aditama terasa seperti ruang interogasi. Cahaya lampu gantung kristal yang biasanya memancarkan kemewahan, kini hanya menyorot wajah-wajah tegang dewan direksi. Di kepala meja, Bramantya duduk dengan punggung tegak, jemarinya bertaut di atas dokumen wasiat asli yang baru saja Aruna geser ke hadapan mereka. Di seberang, Pak Hardi dan faksi konservatif dewan menatap Aruna dengan permusuhan yang tak lagi disembunyikan.
“Kami tidak peduli dengan kejatuhan Wijaya,” suara Pak Hardi memecah kesunyian, tajam dan penuh penekanan. “Yang kami butuhkan adalah legitimasi. Pernikahan ini tampak seperti skenario
Preview ends here. Subscribe to continue.