Puncak Menara: Awal dari Akhir
Lantai Lima bukan sekadar ruangan; ini adalah jantung mekanis yang berdenyut dengan frekuensi kematian. Di pusat kendali, Kael menatap konsol kristal yang memancarkan cahaya merah—peringatan Sistem Pertahanan Otomatis yang kini mengunci target padanya.
Anomali terdeteksi. Inisiasi protokol penghapusan.
Kael merasakan sensasi terbakar di nadinya. Sisa umurnya—kini 15 tahun, 6 bulan, 12 hari—adalah satu-satunya bahan bakar yang tersisa untuk menembus enkripsi inti. Ia menempelkan telapak tangan ke panel. "Sistem, korbankan sisa umur untuk akses root penuh," perintahnya. Angka di statusnya merosot drastis. Rasa sakit menghantam kepalanya seperti palu godam, namun akses terbuka. Gerbang-gerbang lantai yang selama ini tertutup rapat mulai bergetar hebat, memicu alarm yang melengking ke seluruh penjuru kota menara.
"Hentikan, Kael!"
Sera berdiri di ambang pintu, napasnya tersengal. Seragam elitnya robek, wajahnya pucat pasi. Ia bukan lagi Pengawas yang angkuh; ia adalah saksi dari kehancuran warisan ayahnya. "Jika kau meretas inti itu, kau menghancurkan fondasi energi yang menjaga jutaan orang tetap hidup. Kau membunuh mereka semua!"
Kael tidak menoleh. Ia sedang menyerap fragmen memori yang ia curi dari Lantai Empat. Visi dunia luar—tanah luas tanpa dinding logam, menara-menara lain yang berdiri sebagai penjara raksasa di cakrawala—membanjiri pikirannya. "Mereka tidak hidup, Sera. Mereka hanya menunggu giliran untuk dipanen. Menara ini bukan pelindung, ini mesin pemanen waktu."
Sera tertegun. Ia melihat fragmen memori yang diproyeksikan Kael ke udara. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada serangan fisik mana pun. Ia menurunkan senjatanya, bahunya merosot. "Lakukan," bisik Sera, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin yang meledak di balik dinding. "Jika ini satu-satunya cara agar manusia bisa melihat langit, maka hancurkanlah."
Kael menanamkan perintah overload ke inti sistem. Lantai Lima menjerit. Papan peringkat publik yang selama ini menjadi simbol status dan keamanan bagi para elit kini memudar, huruf-hurufnya luruh ke lantai seperti debu yang terbakar.
Sistem menara hancur secara berantai. Gerbang-gerbang lantai terbuka paksa, melepaskan ribuan orang yang selama ini terkurung. Untuk pertama kalinya, langit asli tersingkap di atas puncak menara, bukan lagi proyeksi holografik. Namun, di saat yang sama, Kael merasakan sensasi dingin menjalar di tengkuknya. Detak jam sistem berhenti, digantikan oleh keheningan total yang mencekam. Ia menyadari bahwa dengan meruntuhkan menara, ia baru saja menarik perhatian entitas yang jauh lebih besar di luar sana. Ia kini buronan kelas atas di dunia yang jauh lebih luas dan berbahaya. Kael menatap cakrawala, bersiap menghadapi realitas baru yang menanti di balik reruntuhan.