Kompensasi yang Tak Terduga
Penthouse itu terasa seperti ruang hampa. Di atas meja marmer hitam, map krem berisi dokumen aset Arini tergeletak—sebuah pengakuan legal atas apa yang pernah dirampas Adrian. Arini tidak menyentuhnya. Ia menatap Bramantya, yang berdiri membelakangi jendela, siluetnya tajam melawan cahaya pagi Jakarta yang menyengat.
"Semua sudah kembali," ujar Bramantya. Suaranya datar, tanpa nada kemenangan. "Utang-utang itu dihapus, properti atas namamu dipuli
Preview ends here. Subscribe to continue.