Novel

Chapter 3: Ujian Pertama di Depan Kamera

Elena menghadapi interogasi keluarga Adrian dan berhasil mempertahankan citra pertunangan mereka. Namun, ia menemukan bukti pengkhianatan sekretaris Adrian yang bekerja untuk Aris. Adrian mengungkapkan bahwa ia membiarkan pengkhianatan itu terjadi sebagai bagian dari strategi untuk menjebak Aris.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Ujian Pertama di Depan Kamera

Lampu kristal di ruang makan kediaman keluarga besar Adrian memancarkan cahaya yang terlalu tajam, seolah sengaja dirancang untuk menelanjangi setiap ketidaksempurnaan. Elena duduk tegak, punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi kayu jati yang dingin. Di hadapannya, piring porselen berisi hidangan mewah tampak seperti penghalang yang tak tertembus.

“Jadi, Elena,” suara berat Ibu Adrian memecah keheningan. Wanita itu meletakkan garpunya dengan denting yang sengaja dibuat keras. “Adrian tidak pernah membawa wanita pulang sejak perceraiannya yang berantakan itu. Tiba-tiba, pengumuman pertunangan muncul di semua media pagi ini. Apakah ini strategi bisnis, atau sekadar pelarian?”

Elena merasakan tatapan menghakimi dari kerabat-kerabat Adrian yang duduk mengelilingi meja panjang itu. Mereka adalah dewan pengawas yang memegang kendali atas warisan dan reputasi keluarga. Aris, mantan suaminya, pasti telah membisikkan sesuatu di telinga mereka—narasi tentang wanita yang tidak punya apa-apa lagi selain sisa-sisa harga diri yang hancur.

“Pertunangan ini adalah keputusan yang sudah dipertimbangkan matang oleh kami berdua, Nyonya,” jawab Elena tenang, suaranya stabil meski jantungnya berpacu. Ia tidak membiarkan matanya goyah. “Dalam dunia di mana aset bisa dicuri dengan satu tanda tangan palsu, kepercayaan adalah kemewahan yang hanya bisa kita beli dengan komitmen publik.”

Adrian, yang duduk di sampingnya, meletakkan tangannya di atas tangan Elena. Sentuhannya dingin namun mantap, sebuah perlindungan yang terasa seperti perintah taktis. “Elena adalah aset yang paling berharga bagi masa depan perusahaan saya,” ujar Adrian, suaranya rendah namun mematikan. “Jika ada di antara kalian yang meragukan keputusanku, berarti kalian meragukan kemampuan perusahaan ini untuk bertahan di tahun mendatang.”

Setelah makan malam yang mencekam itu, Elena tidak langsung beristirahat. Ia menyelinap ke ruang kerja Adrian. Begitu pintu tertutup, ia mendekati meja mahoni di mana tablet kerja milik sekretaris pribadi Adrian tergeletak. Elena membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di bawah folder yang disamarkan, ia menemukan bukti transaksi mencurigakan: aliran dana besar yang mengarah langsung ke rekening luar negeri milik Aris. Sekretaris itu telah menjual akses internal perusahaan.

“Mencari sesuatu, Elena? Atau sekadar memastikan investasi Anda belum hangus?”

Elena tersentak. Adrian berdiri di ambang pintu, bayangannya menelan ruang gerak Elena. Gadis itu tidak memutar tubuh, ia menyodorkan tablet itu tanpa ragu. “Sekretaris Anda bukan hanya tidak kompeten. Dia adalah mata-mata Aris.”

Adrian melangkah maju, mengambil tablet itu dengan gerakan tenang yang menakutkan. “Saya tahu,” ucapnya datar.

Elena tertegun. “Anda tahu? Anda membiarkan dia mencuri data perusahaan hanya untuk—”

“Untuk memancingnya keluar dari persembunyian,” potong Adrian, matanya menatap tajam ke arah Elena. “Aris merasa dia memegang kendali, Elena. Tapi dia lupa satu hal: dalam permainan ini, saya selalu membiarkan pion bergerak sebelum saya menjatuhkan raja.”

Di dalam limusin yang melaju membelah gemerlap lampu kota, keheningan terasa jauh lebih tajam. Elena menatap lurus ke luar jendela, menyadari bahwa pertunangan ini bukan sekadar kontrak bisnis—ini adalah jebakan yang jauh lebih dalam. Adrian tidak melindunginya karena kasihan; ia melindunginya karena Elena adalah bagian dari rencana besar untuk menghancurkan Aris. Elena kini memegang rahasia yang bisa menghancurkan keamanan perusahaan Adrian, namun ia juga menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam pusaran yang tidak bisa ia hindari lagi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced