Novel

Chapter 1: Gaun yang Terkoyak di Ballroom

Elena dipermalukan secara publik oleh mantan suaminya, Aris, di sebuah acara amal. Adrian, rival bisnis Aris, menawarkan pertunangan kontrak sebagai perlindungan sekaligus alat untuk menjatuhkan Aris. Elena terpaksa menerima tawaran tersebut di depan para tamu undangan untuk menyelamatkan reputasinya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Gaun yang Terkoyak di Ballroom

Lampu kristal di Ballroom Grand Metropolis bukan sekadar penerangan; itu adalah instrumen bedah yang menelanjangi setiap inci gaun sutra Elena. Ia berdiri di sudut ruangan, memaku tumitnya ke lantai marmer agar tidak gemetar. Dua bulan sejak perceraiannya dengan Aris diputuskan, namun pria itu masih saja merasa berhak memamerkan Elena sebagai trofi yang rusak di depan para kolega bisnis.

Di panggung utama, Aris memegang mikrofon dengan senyum yang dipoles sempurna. "...keberhasilan perusahaan kami tentu saja berkat perampingan manajemen yang drastis," suara Aris menggema, tenang namun penuh racun. "Saya harus mengambil keputusan sulit untuk melepaskan pihak-pihak yang tidak kompeten, bahkan jika itu harus melibatkan mantan istri saya sendiri."

Gelak tawa para tamu undangan—kolega yang dulu menjilat Elena saat ia masih menjadi direktur operasional—terdengar seperti suara pecahan kaca yang diinjak. Elena menggenggam gelas sampanye begitu erat hingga buku jarinya memutih. Aris tidak hanya menceraikannya; ia sedang menghapus jejak kontribusi Elena demi mengamankan posisi mutlaknya sendiri. Reputasi Elena sedang dibakar hidup-hidup, dan setiap detik ia diam di sini, ia semakin tenggelam dalam narasi palsu yang Aris bangun.

Ia ingin berbalik dan pergi, namun ia tahu langkah itu adalah pengakuan bersalah yang mutlak. Di tengah bisik-bisik yang mulai menghakiminya, seseorang berdiri tepat di sampingnya. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang tajam menyeruak, menutupi bau parfum murahan di sekitarnya.

Adrian.

Adrian adalah predator yang jauh lebih berbahaya daripada Aris. Ia berdiri dengan bahu tegap, menatap panggung dengan tatapan yang bisa membekukan darah. Ia tidak menawarkan simpati, karena bagi Adrian, simpati hanyalah komoditas yang tidak berharga.

"Lari hanya akan mengonfirmasi kebohongan Aris," suara Adrian rendah, nyaris tanpa emosi, namun tajam seperti silet. "Jika kau keluar sekarang, kau bukan lagi sekadar mantan istri yang diceraikan. Kau adalah pecundang yang melarikan diri dari kebenaran yang kau ciptakan sendiri."

Elena menoleh, menatap pria yang selama ini menjadi rival bisnis Aris. "Dan apa yang kau inginkan, Adrian? Menikmati pemandangan kehancuranku dari barisan depan?"

Adrian melangkah sedikit lebih dekat, mengabaikan kerumunan yang mulai menyadari kehadiran mereka. "Aku menginginkan apa yang seharusnya menjadi milikku sejak lama: kendali atas aset yang Aris curi darimu. Aku tahu rahasia di balik perceraianmu, Elena. Aku tahu kau tidak diceraikan karena ketidakmampuan, melainkan karena kau terlalu pintar untuk dikendalikan."

Jantung Elena berdegup kencang, bukan karena pesona Adrian, melainkan karena kebenaran yang pria itu lontarkan. "Apa maksudmu?"

"Aku butuh sekutu yang sah untuk menggulingkan Aris dari dewan direksi," Adrian mengeluarkan sebuah dokumen tipis dari saku jasnya. "Dan kau butuh perlindungan yang tidak bisa dibeli dengan harga murah. Kita akan mengumumkan pertunangan kita malam ini. Jika kau setuju, reputasimu akan pulih dalam semalam, dan Aris akan kehilangan pijakannya."

Elena menatap dokumen itu, lalu menatap Aris yang kini mulai turun dari panggung, matanya mencari keberadaan Elena dengan seringai kemenangan. Aris mendekat, siap memberikan pukulan terakhir di depan para investor.

"Kenapa aku harus percaya padamu?"

"Karena kau tidak punya pilihan lain," bisik Adrian.

Aris sudah berjarak lima langkah, senyumnya semakin lebar saat melihat Elena terpojok. Tanpa membuang waktu, Adrian menarik pinggang Elena dengan posesif, mengunci tubuh wanita itu di sisinya. Di hadapan para tamu yang mulai terdiam, Adrian mengangkat gelas sampanyenya tinggi-tinggi.

"Tuan-tuan dan nyonya-nyonya," suara Adrian menggelegar, menghentikan langkah Aris seketika. "Saya rasa ada pengumuman yang lebih penting daripada laporan keuangan tahunan. Elena dan saya baru saja memutuskan untuk mengikat janji. Kami bertunangan."

Keheningan menyelimuti ballroom. Wajah Aris yang semula angkuh mendadak pucat pasi, matanya membelalak melihat Elena yang kini berdiri di bawah perlindungan Adrian. Adrian menunduk, menyodorkan kontrak di saku jasnya tepat di depan mata Elena, menuntut tanda tangan di tengah kerumunan yang mencemooh dan terperangah. Elena tahu, saat ia membubuhkan tanda tangan itu, ia bukan lagi wanita yang diceraikan—ia adalah pion yang baru saja berubah menjadi ancaman.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced