Di Balik Ledger yang Terbuka
Lobi Kantor Berita Suara Rakyat bukan lagi sekadar ruang tunggu; itu adalah benteng terakhir. Aris berdiri di depan meja resepsionis, napasnya memburu, sementara Dian berdiri di sampingnya dengan ketenangan yang lebih tajam daripada ancaman apa pun. Di luar, sirine polisi membelah malam, namun di dalam sini, keheningan terasa mencekik. Aris menyodorkan kartu identitas arsipnya yang kini tak lebih dari selembar plastik tak berguna—tanda bahwa ia bukan lagi bagian dari sistem, melainkan musuh yang harus dihapus.
Preview ends here. Subscribe to continue.