Novel

Chapter 1: Pesan Suara yang Tak Seharusnya Ada

Di tengah hiruk-pikuk studio livestream Mira yang dibangun untuk sensasi, Raka menerima pesan suara dari Alia yang seharusnya mustahil ada. Pesan itu menyebutkan 'Buku Hitam' dan arsip tersegel yang segera hilang dalam enam hari. Saat Pak Hadi muncul di layar dan menyatakan Alia mungkin sudah tiada, Raka sadar hitung mundur dimulai. Ia memilih meninggalkan studio untuk mengejar alamat pertama yang disebut Alia, meski tahu langkahnya diawasi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pesan Suara yang Tak Seharusnya Ada

Lampu sorot berkedip cepat, memecah gelap studio Mira yang dipenuhi suara riuh penonton daring. Di antara teriakan dan komentar liar, Raka berdiri di sudut ruang kontrol, tubuhnya membeku dengan ponsel yang bergetar di tangan. Suara Mira menggema, mengalir deras tanpa jeda, merangkai narasi kehilangan Alia menjadi tontonan sensasi yang penuh tipu daya.

"Alia sudah hilang hampir tiga hari," Mira membacakan dengan senyum dingin, "tapi keluarga besar menyangkal ada yang aneh. Mereka bilang, mungkin, dia memang memilih pergi."

Raka menelan ludah, matanya menatap layar yang menampilkan wajahnya sendiri dalam sudut kecil siaran langsung. Di luar studio, kamera-kamera menyorot tanpa henti, menangkap setiap gerak dan kerutan di wajahnya. Ia tahu, setiap detik di sini adalah taruhannya reputasi dan nyawa.

Tiba-tiba, ponsel Raka mengeluarkan suara notifikasi — pesan suara masuk. Ia menekan tombol putar dengan jari gemetar, berusaha agar tak ada yang memperhatikan. Suara Alia, jelas dan dingin, memecah hiruk-pikuk itu: "Raka, Buku Hitam ada di arsip lama. Enam hari lagi semuanya hilang. Jangan percaya siapa pun, terutama keluarga."

Jantung Raka tercekat. Pesan itu mustahil—bagaimana mungkin Alia, yang hilang dan dicari oleh semua orang, mengirim pesan ini? Suaranya penuh kecemasan tapi tegas, seperti petunjuk yang sengaja ditinggalkan, bukan jejak korban penculikan biasa.

Di belakangnya, suara Mira terus mengalir, memaksa narasi keluarga yang rapuh menjadi hiburan gelap. Raka tahu studio ini dibangun bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk mengalihkan perhatian dan membungkam jejak sebenarnya.

Lampu studio masih menyala terang ketika wajah Pak Hadi muncul di layar utama, menggantikan Mira yang sibuk mengatur peralatan. Suara Pak Hadi tenang tapi penuh wibawa: "Saudara-saudara yang menyaksikan, saya tahu berita tentang Alia telah mengguncang kita semua. Namun saya harus menyampaikan kenyataan pahit: Alia mungkin sudah pergi untuk selamanya."

Ruang itu seakan membeku. Kamera fokus pada Pak Hadi yang menguasai layar, sementara Raka berdiri kaku di sudut ruangan. Ia ingin berteriak, membantah, tapi tangan Mira menariknya maju ke depan kamera. "Ayo, Raka, kita harus tunjukkan rasa duka yang tulus," bisik Mira dengan senyum yang dipaksakan.

Tapi Raka menolak duduk. Ia mundur, menatap tajam kamera yang terus merekam. Dalam kepalanya, pesan Alia berputar: "arsip tersegel", "Buku Hitam", dan ancaman yang tersirat.

Setelah siaran, Raka menyelinap ke koridor belakang studio. Ia mengulang pesan suara itu, mencari petunjuk lebih jelas. "Rumah tua di Jalan Melati 27," bisikan Alia masih membekas, "... arsip itu... jangan biarkan mereka bakar."

Pintu keluar di depan matanya, dan suara Mira yang masih memekakkan telinga dari ruang siaran membuatnya sadar: di sini, kebenaran dijual sebagai sensasi. Raka tahu, bertahan di studio hanya akan mengubur fakta dan melindungi narasi keluarga yang dipaksakan.

Ia merogoh sakunya, merasakan berat ponsel yang kini menjadi satu-satunya senjata melawan kebohongan. Mengejar alamat itu berarti membuka risiko baru—hilangnya reputasi, pengawasan ketat, bahkan mungkin bahaya fisik.

Namun, pesan itu bukan sekadar suara. Ada desakan, ada petunjuk yang sengaja ditinggalkan oleh Alia, bukan jejak korban biasa.

Langkah Raka berat saat ia melangkah keluar ke malam yang pekat, membawa alamat rumah tua di benaknya. Dari kejauhan, lampu merah kecil kamera drone menyala, mengintip dan merekam setiap gerakannya.

Raka tahu, hitung mundur enam hari telah dimulai — dan setiap detik yang berlalu membawa konsekuensi yang semakin berat.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced