Novel

Chapter 12: Chapter 12

Arga berhasil membatalkan lelang secara permanen dan memojokkan Hadi Wiranata di pesta elit kota dengan membongkar bukti transaksi ilegalnya. Kemenangan ini mengukuhkan posisi Arga sebagai pusat gravitasi baru, meski ia menyadari bahwa kekuatan yang lebih besar di balik dewan kota kini mulai mengincarnya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 12

Lampu neon di depan Rumah Makan Pradipta berkedip, memancarkan cahaya kuning yang lelah ke arah aspal basah. Arga Pradipta berdiri di sana, tangannya terbenam di saku jaket, menatap mobil hitam berpelat dinas yang baru saja pergi. Di dalam map cokelat yang ia genggam, terdapat surat penangguhan lelang permanen—bukan lagi sekadar penundaan, melainkan pembatalan total atas klaim Tuan Hadi Wiranata.

Bu Ratna keluar dari balik pintu dapur, menyeka tangan di celemek yang sudah pudar warnanya. "Mereka benar-benar pergi?" suaranya bergetar, antara lega dan ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.

"Mereka tidak punya pilihan lain, Bu," jawab Arga tenang. "Buku logistik itu bukan sekadar catatan minyak. Itu adalah arsip sejarah kota yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun di dewan pengawasan."

Arga tidak menunggu jawaban. Ia tahu, Hadi Wiranata hanyalah pion yang dikorbankan oleh jaringan yang lebih besar. Di dalam rumah makan, Nadira sedang merapikan tumpukan berkas tender yang telah ia validasi. Notaris itu menatap Arga dengan sorot mata yang berbeda—bukan lagi sebagai penyidik yang curiga, melainkan sebagai sekutu yang kini mengerti bahwa Arga adalah pemegang kunci dari sistem yang selama ini menindas mereka.

"Hadi sudah habis, Arga," ujar Nadira, suaranya tajam. "Tapi atasannya, orang-orang yang duduk di balik meja dewan kota, mereka tidak akan membiarkan bukti ini tersebar luas. Mereka akan mencoba membungkam kita sebelum fajar."

Arga melangkah ke meja kayu tua di tengah ruangan, tempat di mana keluarganya dulu membangun pengaruh. "Biarkan mereka mencoba. Semakin keras mereka menekan, semakin dalam mereka akan terperosok ke dalam bukti yang mereka buat sendiri. Kita tidak sedang bertarung untuk rumah makan ini saja, Nadira. Kita sedang membongkar fondasi busuk kota ini."

Arga mengeluarkan kartu akses emas dari balik saku. Cahaya lampu dapur memantul di permukaannya, memancarkan kilau yang dingin dan otoritatif. Kartu itu bukan sekadar akses; itu adalah simbol dari otoritas yang melampaui hukum lelang kota. Nadira tertegun, menyadari bahwa identitas Arga jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.

"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Nadira.

"Kita akan menghadiri pesta elit di Hotel Marina malam ini," jawab Arga. "Bukan sebagai tamu, tapi sebagai penentu arah. Hadi akan ada di sana, mencoba mencari perlindungan. Kita akan memastikan dia tidak menemukannya."

Di ballroom Hotel Marina yang megah, suasana berubah seketika saat Arga melangkah masuk. Ia tidak mengenakan setelan mahal, namun kehadirannya memiliki gravitasi yang membuat para pengusaha di ruangan itu terdiam. Tuan Hadi Wiranata, yang sedang memegang gelas kristal di sudut ruangan, hampir menjatuhkan minumannya saat melihat Arga berjalan lurus ke arahnya.

Arga berhenti tepat di depan Hadi. Tanpa suara, ia menyebutkan satu nomor berkas logistik yang memuat transaksi ilegal Hadi dengan dewan kota. Wajah Hadi memucat, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Para sekutu bisnis yang tadi mengerumuninya perlahan mundur, menciptakan jarak yang nyata antara mereka dan pria yang kini dianggap sebagai beban.

"Permainan sudah berakhir, Hadi," bisik Arga, suaranya tenang namun mematikan. "Dan ini baru permulaan dari apa yang akan terjadi pada orang-orang di belakangmu."

Saat Arga melangkah keluar dari ballroom, ia meninggalkan Hadi yang terisolasi di tengah kemewahan yang kini terasa seperti penjara. Arga kembali ke Rumah Makan Pradipta, tempat di mana semuanya dimulai. Ia berdiri di depan serambi, menatap cakrawala kota yang diterangi lampu-lampu gedung tinggi.

Ia tahu, kemenangan ini hanyalah satu langkah kecil. Kekuatan yang lebih besar, yang selama ini bersembunyi di balik tirai, kini mulai menyadari kehadirannya. Namun, Arga tidak gentar. Ia telah memegang kendali, dan kota ini tidak akan pernah sama lagi. Lampu dapur di belakangnya tetap menyala, terang dan kokoh, menandakan bahwa warisan keluarga Pradipta telah kembali, dan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced