Palu Pertama yang Bergetar
Udara di ruang lelang Pelabuhan Utama terasa berat, berbau karat besi dan keputusasaan yang dipoles rapi. Di depan, Bramantyo berdiri dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk palu kayu di atas meja jati—simbol otoritas yang telah ia manipulasi selama dua dekade. Di sampingnya, layar proyektor menampilkan proyeksi tender logistik kuartal depan yang penuh dengan angka-angka fiktif.
Maya duduk di samping Arya, jemarinya meremas map kontrak pengalihan aset hingga buku jarinya memutih. "Jika aku tidak menandatangani ini, mereka akan membekukan seluruh izin operasional kita besok pagi," bisik Maya, suaranya bergetar. "Arya, kita tidak punya jalan keluar."
Arya tidak menoleh. Matanya tertuju pada Bramantyo yang sedang menatap para investor dengan senyum predator. Bagi Arya, Bramantyo bukan seorang penguasa; ia hanyalah seorang pencuri yang lupa menghapus jejak di buku besar. Arya meraih tangan Maya di bawah meja, genggamannya dingin dan kokoh. "Tunggu palu itu diangkat. Saat itulah kita akan memutar balik permainan ini."
"Lelang ini mencapai tahap final," suara Bramantyo menggema, penuh kemenangan. "Tanpa ada keberatan, kita akan mengesahkan pengalihan aset ini. Tiga... dua..."
Arya bangkit. Ia tidak terburu-buru, namun langkahnya membelah kerumunan dengan otoritas yang membuat orang-orang di sekitarnya tanpa sadar memberi jalan. Dua petugas keamanan pelabuhan yang mengenali Arya segera mencegatnya. Tanpa sepatah kata, Arya memutar pergelangan tangan penjaga pertama dengan presisi militer, membiarkan pria itu tersungkur ke lantai marmer tanpa suara. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan.
Arya berdiri tepat di depan podium, meletakkan map tipis di bawah tangan Bramantyo yang masih memegang palu. "Sebelum Anda mengetuk palu itu, Tuan Bramantyo, mungkin Anda ingin menjelaskan mengapa catatan logistik tahun 1998 dan 2018 memiliki tanda tangan yang identik untuk dua entitas yang berbeda?"
Bramantyo tertawa, meski sudut bibirnya bergetar. "Siapa kau berani menginterupsi? Menantu sampah ini hanya bisa mengarang cerita untuk menutupi kebangkrutan istrinya."
Arya membuka map tersebut, memaparkan salinan foto dokumen yang menunjukkan pola pencucian uang sistematis. "Ini bukan karangan. Ini adalah sejarah kejahatan Anda yang tertulis rapi di buku besar yang Anda kira sudah musnah di gudang arsip."
Para investor merangsek maju. Saat mereka melihat angka-angka yang selama ini disembunyikan di balik cangkang perusahaan, riuh rendah ruangan berubah menjadi desas-desus ketakutan. Bramantyo memucat, palu di tangannya terjatuh, menghantam meja dengan suara dentuman yang ganjil. Lelang dibatalkan seketika.
Di pintu keluar, Arya menyudutkan Bramantyo. Saat ia mencengkeram kerah jas pria itu, sebuah kartu akses perak terjatuh dari saku Bramantyo dan berdenting di lantai. Arya memungutnya. Di permukaannya terukir lambang tiga bilah pedang bersilang—tanda pengenal 'Sindikat Sembilan Naga', organisasi bayangan yang mengendalikan jalur logistik ilegal di pesisir utara.
Arya menatap ke arah pelabuhan yang gelap. Ia bukan lagi menantu sampah yang diremehkan; ia adalah target utama dari kekuatan yang selama ini ia buru. Perang sesungguhnya baru saja dimulai.