Novel

Chapter 1: Debu di Atas Buku Besar

Arya Wira, yang dianggap menantu parasit, menemukan bukti kecurangan sistematis dalam buku besar pelabuhan saat Bramantyo mempermalukan istrinya, Maya, di depan investor. Arya berhasil mengamankan bukti transaksi ilegal yang akan menjadi kunci pembalasan statusnya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Debu di Atas Buku Besar

Bau besi berkarat dan air laut yang membusuk menyengat hidung di gudang arsip Pelabuhan Nusantara. Di bawah lampu neon yang berkedip sekarat, Arya Wira membalik halaman buku besar bersampul kulit yang sudah retak. Angka-angka di sana adalah sisa-sisa kejayaan pelabuhan dua puluh tahun lalu, jauh sebelum korporasi modern mengubahnya menjadi mesin pemeras uang.

"Masih sibuk dengan sampah-sampah itu, Menantu Parasit?"

Suara itu memecah keheningan. Bramantyo berdiri di ambang pintu, setelan jas mahalnya tampak ganjil di tengah debu gudang. Di belakangnya, dua staf pelabuhan tertawa kecil. Bagi mereka, Arya adalah lelucon—seorang pria yang hanya pantas mengurus arsip busuk sementara istrinya, Maya, berjuang mempertahankan perusahaan keluarga di ambang kebangkrutan.

Arya tidak menoleh. Ia tetap fokus pada kolom transaksi tahun 1998. "Gudang ini butuh inventarisasi ulang, Bram. Ada selisih tiga persen pada logistik dermaga empat yang tidak pernah dilaporkan."

Bramantyo melangkah mendekat, sepatunya yang mengkilap menginjak tumpukan map di lantai. "Siapa yang peduli dengan angka dua dekade lalu? Istrimu sedang di ruang rapat, memohon perpanjangan tender agar perusahaan tidak disita. Dan kau? Kau di sini bermain dengan kertas busuk. Kau benar-benar beban yang memalukan bagi keluarga itu."

Arya menutup buku besar itu dengan tenang. Ia tidak membalas hinaan itu. Baginya, Bramantyo hanyalah predator yang terlalu sombong untuk menyadari bahwa mangsanya sedang memegang tali jerat. Arya telah menemukan pola penggelapan sistematis yang masih berlanjut hingga hari ini. Angka-angka itu tidak berbohong; mereka adalah bukti bahwa Bramantyo telah memanipulasi tender selama bertahun-tahun.

Beberapa jam kemudian, Arya melangkah menuju ruang rapat utama. Suasana di dalam ruangan mencekam. Suara tawa sumbang Bramantyo memecah ketegangan saat ia melemparkan berkas ke meja kayu ek.

"Maya, lihat angka-angka ini," ujar Bramantyo dengan nada merendahkan. "Proyeksi laba perusahaanmu tidak masuk akal. Apakah kau sudah kehabisan akal sehat, atau kau hanya mencoba menipu investor dengan data sampah?"

Maya berdiri tegak, meski jemarinya yang mencengkeram tepi meja memutih. "Data itu valid, Bramantyo. Audit internal kami menunjukkan bahwa kapasitas dermaga—"

"Audit internal?" Bramantyo memotong dengan tawa keras. "Kau mempekerjakan suamimu yang bahkan tidak bisa membedakan antara bill of lading dan kertas bekas untuk mengurus audit? Sungguh sebuah lelucon bagi industri ini."

Gelak tawa dari para investor mengalir. Arya berdiri di ambang pintu, menatap Bramantyo dengan ketenangan yang dingin. Ia tidak berteriak. Ia tidak membela diri. Ia hanya menatap Bramantyo dengan intensitas yang membuat sang konglomerat tertegun sejenak sebelum kembali mencibir.

Malam harinya, saat pelabuhan sunyi, Arya kembali ke gudang. Ia harus mengamankan bukti fisik sebelum Bramantyo memerintahkan pembersihan total. Langkah kakinya tidak bersuara. Ia menuju rak besi paling sudut, tempat buku besar operasional tahun 2018 tersimpan. Bramantyo telah memerintahkan patroli keamanan untuk 'membersihkan' jejak transaksi mencurigakan sebelum audit tender besok pagi.

Lampu senter Arya menyapu deretan map cokelat. Tiba-tiba, ia berhenti. Sebuah kotak kayu kecil terselip di balik tumpukan dokumen pengiriman logistik. Ia menarik kotak itu. Di dalamnya bukan sekadar laporan, melainkan salinan asli dari sealed bid yang seharusnya tidak ada di tempat penyimpanan arsip biasa. Ia membuka map tersebut, dan matanya menyipit saat melihat catatan transaksi ilegal yang menghubungkan Bramantyo dengan sindikat yang lebih tinggi. Bukti ini bukan sekadar untuk memenangkan tender, melainkan ancaman fatal yang bisa menghancurkan Bramantyo selamanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced