Novel

Chapter 1: Debu di Atas Buku Besar

Arya Yudha, mantan komandan yang menyamar sebagai juru arsip, dipermalukan oleh Bramantyo di depan istrinya, Maya, saat dokumen tender mereka dirusak. Setelah mereka pergi, Arya menggunakan keahlian analitisnya untuk menemukan bukti sabotase dalam buku besar pelabuhan, sekaligus menemukan kembali palu lelang warisan kakeknya sebagai simbol otoritas yang akan ia gunakan untuk membalas dendam.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Debu di Atas Buku Besar

Bau amis air laut dan aroma kertas lapuk yang menguning menyengat indra penciuman Arya Yudha. Di sudut ruang arsip Pelabuhan Tanjung Perak, Arya membalik halaman buku besar setebal bantal dengan gerakan mekanis. Tangannya yang kasar—penuh bekas luka yang ia sembunyikan di balik lengan kemeja—bergerak teliti, menyeka debu dari angka-angka transaksi sepuluh tahun silam. Baginya, angka-angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah napas kota yang sedang sekarat karena korupsi.

Suara langkah sepatu kulit yang beradu keras dengan lantai semen memecah keheningan. Arya tidak perlu menoleh. Wangi parfum mahal dan arogansi yang menguar dari setiap langkah adalah ciri khas Bramantyo.

"Masih sibuk dengan sampah masa lalu, Arya?" suara Bramantyo meremehkan. Pria itu berdiri di ambang pintu, di belakangnya Maya, istri Arya, tampak pucat dengan tumpukan dokumen tender yang ia peluk erat.

Arya berdiri, menunduk sedikit sebagai tanda hormat yang sopan—sebuah topeng kepatuhan yang ia gunakan untuk bertahan hidup. "Arsip ini perlu dirapikan, Tuan Bramantyo. Data tender hari ini ada di urutan paling bawah."

Bramantyo tertawa pendek. Tanpa peringatan, ia berjalan mendekat dan sengaja menyenggol meja kerja Arya. Kopi hitam yang ia bawa tumpah, membasahi dokumen tender milik Maya. Tinta angka-angka krusial di sana kini memudar, menyatu dengan noda kopi.

Maya memekik tertahan. "Bram, apa yang kau lakukan? Itu dokumen tender yang harus diserahkan dalam satu jam!"

Bramantyo mengangkat bahu, menatap Arya dengan tatapan predator. "Ops, tanganku licin. Lagipula, perusahaanmu tidak akan memenangkan tender ini, Maya. Mengapa repot-repot dengan kertas yang sudah ditakdirkan untuk dibuang? Suamimu saja hanya pantas mengurus debu, bukan bisnis besar."

Maya menatap Arya, bukan dengan cinta, melainkan dengan frustrasi yang tajam. "Lihat apa yang kau buat, Arya! Seharusnya kau berjaga di depan, bukan malah membiarkannya masuk ke ruang arsip!"

Arya diam. Ia tidak membela diri. Ia membiarkan Maya menyalahkan ketidakbecusannya demi menjaga kedamaian semu. Setelah Bramantyo pergi dengan tawa kemenangan, Arya memungut sisa dokumen yang masih terbaca. Begitu pintu besi berat itu berderit menutup, ia segera meletakkan tas kerjanya dengan gerakan terukur.

Ia tidak memungut kertas-kertas itu dengan tergesa-gesa. Ia membiarkan napasnya stabil, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang dipenuhi rak-rak besi berkarat. Ini adalah jantung pelabuhan—tempat di mana nasib perusahaan ditentukan oleh catatan tinta yang tidak pernah berbohong. Dengan jemari yang tenang namun presisi, Arya membuka buku besar logistik tahunan yang tersimpan di brankas tersembunyi. Ia mulai membandingkan data.

Satu menit berlalu. Keheningan di ruang arsip itu pecah oleh suara gesekan pena Arya di atas kertas coretan. “Selisih tiga belas persen,” gumamnya lirih. Suaranya datar, namun sarat dengan ketegasan yang dingin. Angka dalam dokumen tender yang disegel oleh Bramantyo tidak sinkron dengan catatan volume bongkar muat pelabuhan yang resmi. Bramantyo telah melakukan kesalahan fatal: dia terlalu percaya diri bahwa tidak ada seorang pun di pelabuhan ini yang mampu membaca pola logistik selain dirinya.

Arya menarik laci meja kayu jati yang sudah reyot. Di bagian dasar yang tersembunyi, jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan berat: sebuah palu lelang tua milik kakeknya—mantan penguasa pelabuhan yang namanya kini hampir dilupakan oleh zaman. Benda itu bukan sekadar alat, melainkan simbol otoritas yang pernah menentukan hidup dan mati ribuan ton kargo di kota ini. Arya menggenggam gagang palu itu sejenak, merasakan bobot masa lalu yang menuntut untuk dibayar. Ia tidak lagi sekadar juru arsip. Ia adalah pengamat yang sedang menunggu waktu untuk menghancurkan.

Saat ia menelusuri kembali setiap baris angka, ia menemukan selisih yang tidak masuk akal dalam buku besar tender yang disegel. Itu adalah bukti sabotase terencana yang melibatkan elit kota. Di balik pintu ruang arsip, di koridor pelabuhan yang remang-remang, Bramantyo tiba-tiba berhenti melangkah. Ia merasa tengkuknya meremang, seolah ada mata tajam yang sedang mengawasi setiap gerak-gerik ilegalnya dari balik bayang-bayang kantor yang seharusnya kosong.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced