Kode yang Membunuh
Layar monitor di warnet kumuh kawasan Senen itu berkedip kasar, memancarkan cahaya biru pucat yang membuat wajah Aris tampak seperti mayat. Di sudut kanan bawah, angka digital berwarna merah menyala dengan ritme yang menyiksa: 32:47:09. Waktu itu bukan sekadar angka; itu adalah sisa napas terakhirnya sebelum sistem kepolisian—yang kini mengenalnya sebagai buronan—menghapus eksistensinya sepenuhnya.
Aris mengetik dengan jemari gemetar. Setiap baris kode yang ia masukkan dari dongle milik Maya terasa seperti membakar ujung sarafnya. Ia tidak lagi berurusan dengan arsip kertas; ia sedang meretas jantung dari sesuatu
Preview ends here. Subscribe to continue.