Novel

Chapter 10: Kejatuhan Sang Pion

Aris menghancurkan reputasi Bram di balai lelang dengan mempublikasikan bukti manipulasi tender dan transaksi ilegal. Bram ditangkap, dan Aris menyerahkan kendali perusahaan kepada Maya, menegaskan posisinya sebagai penguasa bayangan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kejatuhan Sang Pion

Balai Lelang Cakrawala tidak lagi terasa seperti ruang bisnis; malam ini, ia adalah ruang eksekusi. Bau parfum mahal bercampur dengan aroma dingin dari pendingin ruangan yang dipaksakan bekerja maksimal, menciptakan atmosfer steril yang menyesakkan. Di baris terdepan, Bram duduk dengan punggung tegak, senyum tipis tersungging di bibirnya. Di sampingnya, para investor besar berbisik-bisik, menganggap tender medis ini sudah dalam genggaman.

Aris melangkah masuk. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, namun setiap ketukan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti detak jam yang menghitung detik terakhir kebebasan Bram. Saat ia mendekat, Bram menoleh. Matanya menyipit, lalu ia tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar sumbang di tengah keheningan ruangan.

"Kau berani datang ke sini, Aris?" Bram berdiri, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh para elit di sekitarnya. "Keamanan sudah diperintahkan untuk menyeretmu keluar jika kau berani menginjakkan kaki di sini. Tender ini milikku. Jangan mempermalukan dirimu sendiri lebih jauh di depan orang-orang penting ini. Kembalilah ke dapur atau tempat sampah mana pun yang kau sebut rumah."

Maya, yang duduk beberapa kursi dari Bram, menoleh. Wajahnya pucat, namun saat matanya bertemu dengan Aris, ada kilatan pengakuan akan otoritas yang selama ini ia abaikan. Ia tidak lagi melihat menantu yang tidak berguna, melainkan sosok yang memegang kendali atas segalanya.

Aris tidak membalas provokasi itu. Ia berhenti tepat di depan mimbar lelang, mengabaikan pengawal Bram yang mulai bergerak mendekat. "Tender ini bukan milikmu, Bram. Ini adalah barang bukti kejahatan keuangan yang terstruktur," ucap Aris datar. Suaranya rendah, namun mampu memotong kebisingan ruangan.

Bram tertawa sinis, memberi isyarat kepada petugas lelang. "Usir dia! Sekarang!"

Namun, saat petugas mendekat, Aris mengangkat satu lembar dokumen tersegel dengan lambang otoritas keuangan nasional. "Periksa sistem lelangmu sekali lagi, Bram. Jika kau masih punya akses."

Bram membeku. Ia mencoba menyentuh tablet kendali di mimbar, namun layar tersebut berubah menjadi merah. ACCESS DENIED. Sistem telah terkunci total. Aris melangkah ke arah panggung, mengambil alih kendali utama. Dengan satu ketukan, layar proyektor raksasa di belakang mereka menyala, menampilkan rekaman suara Handoko yang memerintahkan manipulasi audit tender medis.

Ruangan itu mendadak sunyi. Angka-angka transaksi ilegal yang mengalir ke rekening pribadi Bram muncul dalam grafik real-time, sebuah vonis mati bagi karier sang pengusaha. Bram jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi. Ia tidak lagi tampak seperti pengusaha karismatik, melainkan pion yang baru saja menyadari bahwa ia telah dikorbankan oleh tuannya sendiri.

Petugas otoritas hukum masuk ke ruangan, bukan untuk mengusir Aris, melainkan untuk memborgol tangan Bram. "Bram Wijaya, Anda ditahan atas tuduhan manipulasi tender dan pencucian uang," suara petugas itu bergema, memecah keheningan yang mencekam.

Setelah keributan mereda dan Bram diseret keluar, para elit kota mulai mendekat, mencoba mencuri perhatian Aris dengan tawaran posisi direktur. Aris hanya menatap mereka dengan dingin. Ia menyerahkan kunci kendali perusahaan kepada Maya. "Ini milikmu sekarang, Maya. Kelola dengan benar. Jangan biarkan orang lain menginjakmu lagi."

Aris berbalik, meninggalkan ruang tunggu VIP yang kini terasa sempit. Ia berjalan keluar menuju balkon, menatap gedung Handoko dari kejauhan. Kemenangan hari ini hanyalah awal. Di balik bayangan, ia tahu Handoko tidak akan tinggal diam. Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai, dan Aris siap memastikan setiap pion yang tersisa akan tumbang satu per satu. Ia tidak butuh kursi direktur; ia adalah penguasa yang sebenarnya, dan ia lebih memilih untuk tetap tak terlihat.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced