Novel

Chapter 2: The Public Misread

Alena menghadapi kebocoran foto yang menjadikannya skandal di mata hotel dan keluarga. Ia menolak dipermalukan tanpa imbalan, menuntut kursi di meja keputusan jika namanya dipakai menahan aib. Nadim mengambil risiko nyata dengan menutup sementara seluruh akses rapat, menggeser kuasa dan melindunginya di depan publik. Scene berakhir dengan tekanan meningkat dan benih perang waris saat nama notaris dipanggil, menyiapkan serangan balik terhadap identitas Alena. Alena menantang Bramanta di luar ruang rapat yang dikunci, membuka map waris di hadapan Nadim dan notaris, serta membuktikan bahwa namanya masih tersisa di arsip keluarga. Saat foto bridal suite bocor ke tim hotel dan keluarga, Nadim menghentikan akses rapat demi melindungi Alena dan menaruh satu kursi di meja keputusan untuknya malam itu. Bramanta kemudian menyebut nama asli Alena di depan notaris, memancing pertanyaan lama dan membuka ancaman waris yang lebih besar. Di ujung meja keputusan bridal suite, foto Alena yang bocor memicu tekanan publik baru. Bramanta mencoba mengalihkan semua kembali ke agenda darurat, tetapi Alena memotong dengan map waris dan menuntut jawaban soal nama yang dihapus. Nadim memberi perlindungan mahal dengan menghentikan sementara seluruh akses rapat dan menutup jalur kontrol Bramanta. Ia lalu menempatkan Alena di meja keputusan untuk satu malam. Saat Bramanta menegang melihat dokumen itu, perang waris yang lebih kotor mulai terbuka. Alena menghadapi tekanan langsung dari keluarga yang mengancam memutus akses jika ia tidak mundur. Di ruang rapat hotel, Nadim menghentikan akses rapat demi melindunginya dari skandal foto yang bocor, sekaligus mengubah keseimbangan kuasa. Alena kemudian membeberkan petunjuk penting bahwa Raisa kabur setelah melihat arsip transfer dan notaris lama yang terkait dengan asal-usul yang disembunyikan. Perlindungan Nadim memberi Alena kursi di meja keputusan untuk satu malam, namun Bramanta langsung menyerang dengan menyebut nama asli Alena di depan notaris, membuka pertanyaan yang selama ini dikubur.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Public Misread

Foto Bocor, Pintu Terkunci

Ponsel staf hotel berdering serentak di atas meja rias, lalu layar-layar kecil itu menyala seperti alarm. Alena melihat sekilas fotonya sendiri di bridal suite—gaun belum dipakai, rambut masih dipin, wajahnya tertangkap setengah berbalik, terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Dua nama grup muncul di notifikasi: tim hotel dan keluarga Pradipta. Seseorang sudah memilih sisi untuk mempermalukan dia sebelum dia sempat memilih jalan keluar.

“Siapa yang kirim?” suara Alena datar, tetapi tangannya sudah meraih map waris di dekat cermin.

Tak ada yang menjawab. Seorang staf hotel menunduk seperti ingin lenyap ke karpet krem. Di koridor, langkah cepat terdengar, lalu pintu suite dibuka tanpa ketukan oleh Bramanta Pradipta. Wajahnya tetap rapi, tetapi rahangnya mengeras ketika melihat layar yang masih menyala di tangan salah satu staf.

“Matikan semua layar,” katanya. “Sekarang.”

“Foto itu sudah masuk ke grup,” jawab staf dengan suara pecah. “Ada dari pihak keluarga juga.”

Ibu Laras datang tepat sesudahnya, anggun dalam kebrutalan yang biasa ia sebut pengorbanan. Matanya berhenti di Alena hanya sekejap, cukup lama untuk membuat penghinaan itu terasa resmi.

“Lepaskan gaun itu,” ucapnya. “Kita hentikan ini sebelum makin buruk.”

“Buruk untuk siapa?” Alena mengangkat dagu. Di telapak tangannya, ujung map waris menekan kulitnya, mengingatkan bahwa keributan ini bukan satu-satunya perang. “Untuk nama baik keluarga, atau untuk orang yang sengaja membuat saya tampak seperti skandal yang bisa dibuang?”

Bramanta melangkah lebih dekat. “Kamu tidak sedang dalam posisi menawar.”

Alena menoleh padanya, tenang sekali sampai itu justru mengganggu. “Kalau begitu jangan minta saya menutup mulut tanpa memberi saya sesuatu yang bernilai.”

Ibu Laras terdiam sesaat. Di sela diam itu, Alena menangkap sesuatu: bukan panik, melainkan ketakutan yang ditata rapi. Raisa kabur bukan sekadar lari dari pernikahan. Ada sesuatu yang ia bawa pergi. Sesuatu yang sekarang membuat keluarga ini rela mengorbankan Alena agar transaksi tetap hidup.

Pintu dalam suite terbuka lagi. Nadim Santosa masuk tanpa tergesa, jasnya masih sempurna, tetapi sorot matanya langsung memindai layar ponsel, wajah staf, lalu Alena. Tidak ada kejutan di sana—hanya keputusan yang sudah dihitung dan mungkin sudah mahal bahkan sebelum ia mengucapkannya.

“Siapa yang punya akses ke ruang rapat?” tanyanya.

Bramanta menoleh padanya. “Apa pentingnya sekarang?”

“Penting kalau foto ini beredar sebelum notaris masuk.” Nadim mengeluarkan ponselnya, mengetik satu kali, lalu berbicara kepada seseorang di ujung sambungan dengan suara yang tidak meninggi, justru lebih berbahaya karena terlalu tenang. “Tutup sementara seluruh akses rapat. Kunci daftar tamu. Tidak ada yang naik ke lantai ini tanpa izin saya.”

Bramanta menegang. “Kamu tidak bisa menutup akses rapat seenaknya.”

“Saya baru saja melakukannya.” Nadim memutus sambungan, lalu menatap Bramanta dengan dingin yang bersih. “Kalau kalian ingin menyelamatkan merger, jangan mulai dengan menjadikan perempuan ini korban pembakaran publik.”

Alena menahan napas yang nyaris lolos. Itu bukan bela diri yang manis. Itu tindakan yang memotong uang, waktu, dan muka orang-orang penting sekaligus. Perlindungan mahal. Perlindungan yang membuat semua pihak membayar.

“Jangan kira saya berterima kasih,” katanya pada Nadim.

“Bagus,” jawabnya singkat. “Saya tidak meminta itu.”

Di luar suite, telepon staf mulai bergetar lagi. Satu pesan, lalu dua, lalu banyak. Alena melihat nama-nama yang muncul di notifikasi: kepala humas hotel, asisten keluarga, nomor tak dikenal dari ruang notaris. Foto itu sudah bergerak lebih cepat daripada penjelasan mana pun. Dan dengan setiap getaran baru, namanya terasa makin dekat ke ruang publik yang ingin menelannya hidup-hidup.

Ia melangkah ke meja kecil di dekat jendela, meletakkan map waris di samping tanda kehadiran yang tadi ia tandatangani. “Kalau nama saya akan dipakai untuk menahan kebocoran ini,” ucapnya, “maka malam ini saya duduk di meja keputusan. Bukan di sudut ruangan, bukan sebagai pengganti yang bisa dibuang setelah tanda tangan.”

Bramanta menatapnya seolah ia baru berubah menjadi persoalan yang sulit disapu. Nadim tidak langsung menjawab. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya lebih rendah, lebih tajam.

“Untuk satu malam,” katanya. “Kursi di meja itu milikmu. Setelah itu, kita lihat siapa yang sebenarnya sedang disembunyikan keluarga ini.”

Alena sempat menangkap kilatan di wajah Bramanta—bukan kalah, melainkan waspada. Seolah satu kata saja bisa membangunkan sesuatu yang sudah lama dikubur. Nadim baru saja memberi Alena tempat di depan mata publik. Harga dari itu belum terlihat seluruhnya.

Di saat yang sama, di layar ponsel yang masih menyala di tangan staf, foto Alena sudah tersebar ke tim hotel dan keluarga. Dan di ujung lorong, seseorang memanggil nama notaris.

Kursi yang Belum Pantas

Pukul bergeser cepat di atas jam dinding hotel ketika Alena berdiri di luar ruang rapat eksekutif yang pintunya sudah dikunci dari dalam. Dua staf keamanan memblokir lorong, sementara ponsel salah satu koordinator hotel menyala tanpa henti di tangannya—nama-nama keluarga, tim legal, dan satu grup perusahaan yang seharusnya tidak pernah melihat wajahnya muncul di notifikasi.

“Maaf, Bu. Perintah dari atas. Akses rapat ditahan sementara,” kata pria itu, suaranya kaku seperti dasi yang terlalu ketat.

Dari balik pintu, Alena mendengar suara kursi digeser, lalu bisik-bisik yang sengaja dikecilkan. Nama Raisa belum disebut keras, tapi absennya sudah menjadi bau yang memenuhi koridor. Nama Alena, sebaliknya, beredar terlalu cepat.

Bramanta muncul dari ujung lorong dengan langkah teratur dan wajah yang dibuat tidak tergesa. Di tangannya ada map krem yang isinya tidak ia serahkan kepada siapa pun. “Kamu sudah cukup bikin kacau,” katanya pelan, hanya untuk dia. “Sekarang jangan bikin tambah mahal. Keluarga sudah menyiapkan solusi yang pantas.”

“Pantas untuk siapa?” Alena menatap map itu, lalu menatap wajah pamannya. “Untuk reputasi, atau untuk menutup orang yang kabur?”

Bramanta tersenyum tipis, seperti sedang memaafkan anak kecil yang terlalu banyak bertanya. “Kamu tetap cadangan. Jangan paksa dirimu duduk di meja yang belum pantas.”

Kalimat itu mendarat tepat di tempat yang selama ini dilatih keluarga untuk sakit. Alena tidak mengangkat suara. Ia justru merapikan ujung lengan blazer yang dipinjamkan hotel, lalu melangkah satu langkah lebih dekat ke pintu rapat—langkah yang cukup untuk membuat kedua petugas keamanan saling pandang.

“Kalau aku cadangan,” katanya datar, “kenapa namaku ada di sini?”

Ia mengeluarkan map waris dari tasnya. Bukan dengan teater, bukan dengan gemetar. Dengan dua jari, seperti membalik kartu yang sudah ia hafal luka di belakangnya. Di depan Bramanta, Nadim, notaris yang baru tiba, dan staf keamanan yang pura-pura tidak mendengar, Alena membuka halaman pertama. Nama lengkapnya tercetak di atas akta keluarga yang semestinya sudah bersih dari dirinya. Di bawahnya ada jejak arsip, paraf lama, dan satu nomor berkas yang mengarah ke dokumen pemindahan hak yang tak pernah diumumkan.

Nadim, yang sejak tadi berdiri sedikit di belakang, tidak memotong. Tatapannya turun ke kertas itu, lalu kembali ke wajah Alena—tajam, membaca, tapi tidak meremehkan. Ada sesuatu yang bergerak di rahangnya ketika ia menangkap nomor berkas itu. Ia paham nilai benda di tangan Alena jauh lebih berbahaya daripada foto di grup hotel.

“Buka daftar saksi,” kata Alena.

Notaris ragu sepersekian detik. Bramanta sudah membuka mulut untuk menyela, tetapi Nadim mengangkat satu tangan. Isyarat kecil itu cukup untuk membuat semua orang diam.

“Lanjut,” ujar Nadim.

Itu bukan kelembutan. Itu keputusan. Dan keputusan di hotel semahal ini selalu berarti biaya.

Alena membuka lipatan berikutnya. Di sana, di antara nama-nama yang dihitamkan, ada satu catatan yang sengaja disembunyikan: ruang arsip keluarga pernah dipindah dua bulan lalu, bersamaan dengan perubahan surat kuasa dan rekening cadangan. Bukan hanya Raisa yang kabur dari pernikahan. Ada sesuatu yang melarikan diri dari pengawasan keluarga lebih dulu.

Bramanta kehilangan sedikit warna di wajahnya. Hanya sedikit, tapi Alena melihatnya.

Lalu ponsel staf keamanan bergetar keras. Ia menatap layar, lalu pucat. “Foto dari bridal suite… sudah masuk ke tim hotel dan pihak keluarga.”

Koridor seolah menyempit. Alena tahu betul gambar apa yang beredar: dirinya dengan map di tangan, wajah terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya malu, dan kebetulan yang bisa dibaca siapa pun sebagai skandal baru.

Sebelum Bramanta sempat memanfaatkan itu, Nadim bergerak. “Hentikan seluruh akses ke ruang rapat. Sekarang.”

“Termasuk—”

“Termasuk siapa pun yang tidak berkepentingan langsung.” Nada Nadim tetap rata, tapi instruksinya mengandung biaya. Beberapa staf hotel langsung panik; satu pintu samping dibuka, lalu ditutup lagi. Jalur masuk tamu VIP diputus. Notifikasi rapat internal berhenti. Nama-nama dari tim perusahaan mendadak tidak bisa masuk.

Alena menoleh padanya. “Kau baru saja menahan setengah hotel untuk satu foto.”

“Bukan untuk foto.” Nadim menatap map di tangannya, lalu Alena. “Untuk orang yang mereka coba telan hidup-hidup.”

Bramanta menyesuaikan kancing jasnya, berusaha kembali memimpin. “Kau terlalu cepat memberi ruang keputusan pada orang yang bahkan belum—”

“Dia duduk di meja keputusan malam ini,” potong Nadim.

Ia mengambil satu kursi kosong dari sisi ruang tunggu eksekutif, menggesernya ke meja rapat kecil di depan pintu yang terkunci, lalu menepatkannya di samping tempat duduknya sendiri. Satu kursi. Sementara. Tapi di hotel, kursi berarti saksi. Kursi berarti akses. Kursi berarti nama yang diakui, walau hanya untuk semalam.

Alena tidak tersenyum. Ia hanya meletakkan map waris di meja, tepat di antara dirinya dan Bramanta.

Dan di sana, tepat ketika Nadim hendak mempersilakan notaris membuka daftar saksi, Bramanta menatapnya dengan dingin yang terlanjur takut. “Kalau begitu,” katanya pelan, lalu menyebut nama asli Alena yang selama ini dikubur keluarga di depan notaris.

Pertanyaan-pertanyaan lama langsung menguat di udara.

Nama yang Dihapus

Setelah dua staf hotel mengetuk pintu bridal suite dengan wajah tegang, Alena tahu kabar foto itu sudah bergerak lebih cepat daripada akal sehat siapa pun di lantai ini. Satu amplop putih diselipkan di bawah pintu, lalu telepon meja berdering tanpa jeda.

Bramanta sudah lebih dulu menyambar. “Kita pindah ke agenda darurat. Tanda tangan pengantin pengganti cukup. Sisa detail bisa disusul setelah sesi foto.”

Alena berdiri di ujung meja keputusan, gaun putihnya masih rapi, tapi jari-jarinya dingin di atas map waris yang tadi malam ia buka sendirian. Di hadapannya, notaris menahan pena, sementara dua staf hotel pura-pura menatap tablet mereka sambil jelas mendengarkan.

“Tidak,” kata Alena.

Bramanta menoleh, senyum tipisnya kaku. “Alena, jangan mempersulit.”

“Yang mempersulit bukan saya.” Ia menggeser map itu ke tengah meja. “Kalau mau bicara keluarga biasa, jangan pakai notaris, jangan pakai cap resmi, dan jangan pakai merger untuk menekan saya.”

Nadim, yang sejak tadi diam di sisi kanan meja, menatap map itu sebentar lalu ke wajahnya. Tatapannya tidak lunak, tapi juga tidak ikut menekan. Itu justru lebih berbahaya. Seolah ia sedang menimbang berapa besar kerusakan yang pantas ia bayar hari ini.

Bramanta menahan napas. “Itu arsip internal. Bukan untuk dibahas di depan staf.”

“Kalau begitu, kenapa nama saya ada di sana?” Alena membuka halaman yang paling atas dan menaruhnya menghadap notaris. “Dan kenapa formatnya bukan koreksi, tapi penghapusan?”

Ruangan itu benar-benar sunyi. Bahkan mesin pendingin hotel terdengar terlalu keras.

Notaris menggeser kacamatanya. “Saya perlu kepastian, Bu Alena. Dokumen ini merujuk pada…”

“Pada keluarga yang suka menghilangkan orang sebelum menghilangkan jejak,” potong Alena. Ia menahan suaranya tetap rata. “Saya tidak akan menandatangani apa pun sebelum ada penjelasan soal nama saya.”

Bramanta mengulurkan tangan, hendak menarik map itu kembali. Nadim bergerak lebih cepat. Satu langkah saja, tapi cukup untuk menutup jarak antara tangan Bramanta dan dokumen. Tidak kasar. Tidak teatrikal. Hanya tegas, seperti pintu yang dikunci pelan tapi tidak bisa dibuka lagi.

“Tidak ada yang menyentuh berkas itu,” kata Nadim.

Bramanta menegang. “Nadim, ini urusan keluarga Pradipta.”

“Dan sekarang juga urusan saya, karena aset dan reputasi saya ikut dipakai sebagai papan permainan.” Nadim menoleh ke notaris. “Tunda semua agenda rapat. Semua akses ruang keputusan dihentikan sementara. Tidak ada yang masuk tanpa izin saya.”

Salah satu staf hotel hampir menjatuhkan tablet. “Baik, Pak Santosa.”

Alena merasakan perubahan itu sebelum orang lain sempat menyebutnya. Satu perintah Nadim memutus jalur yang selama ini memberi Bramanta kendali: jadwal, saksi, akses, dan ruang bicara. Itu mahal. Itu pasti akan dibalas.

Telepon meja kembali menyala. Kali ini bukan dering biasa; beberapa layar di atas meja notaris ikut berkedip. Salah satu staf hotel menahan layar ponselnya, wajahnya pucat.

“Pak,” katanya pelan, “foto dari bridal suite sudah masuk ke grup tim hotel dan… keluarga.”

Bramanta memandang Nadim, lalu Alena, seolah sedang menghitung siapa yang paling mudah dijadikan tumbal.

Nadim mengangkat dagunya ke Alena. “Kamu tetap di sini.”

Itu bukan rayuan. Bukan juga penghiburan. Itu kursi yang dipindahkan ke tengah badai.

Alena menangkap maknanya lebih dulu daripada rasa tersinggungnya. Satu malam ini, ia tidak lagi disuruh berdiri di pinggir dan menunggu dipakai. Ia diberi tempat di meja, meski meja itu sedang diserang.

Nadim mengambil alih map dari pandangannya tanpa menyentuh tangan Alena. “Kita selesaikan yang tersisa di sini.”

Bramanta menyipit. “Kau pikir memberi dia kursi mengubah asal-usulnya?”

Nama itu nyaris keluar, lalu ditahan. Alena melihatnya—ketegangan di rahang Bramanta, sesuatu yang terlalu cepat ia sembunyikan. Apa pun yang dikubur di arsip itu, ia baru saja menyentuh saraf yang salah.

Dan di saat Nadim sedang memerintahkan penghentian akses agar aib itu tak menelannya hidup-hidup, Alena tahu perang waris yang sebenarnya baru saja mulai membuka mulutnya.

Harga Perlindungan

Tiga puluh menit setelah pintu bridal suite itu ditutup, tekanan datang lagi—bukan dari gaun, melainkan dari ponsel Alena yang bergetar tanpa henti di atas meja marmer. Nama ibu Laras muncul lalu hilang, diganti pesan pendek dari sekretaris keluarga: mundur malam ini, atau semua akses keluarga padam. Bahkan sopir yang tadi menunggu di koridor sudah dipanggil turun. Di luar ruangan, hotel tetap berkilau; di dalam, Alena seperti ditaruh di ujung meja sebagai barang pinjaman yang mulai diperebutkan.

Ia membaca pesan itu sekali, lalu mengunci layar. Bukan panik yang muncul, melainkan hitung-hitungan dingin. Mereka ingin ia takut pada sunyi yang diputuskan. Mereka lupa, sunyi juga bisa jadi saksi.

Pintu ruang rapat hotel setengah dikosongkan terbuka saat Nadim masuk. Jasnya masih rapi, tetapi ada tarikan keras di kerah, tanda ia baru saja menutup satu panggilan dan membuka yang lain. Bramanta sudah duduk lebih dulu di ujung meja, map kulit di depannya terbuka seperti mulut yang menunggu giliran bicara. Di belakangnya, notaris berdiri kaku dengan pena dan stempel, sementara dua staf hotel menjaga jarak yang terlalu sopan untuk disebut netral.

“Alena tidak perlu dilihat seperti tersangka,” kata Nadim tanpa meninggikan suara.

Bramanta tersenyum tipis. “Kalau ada foto dari bridal suite beredar, yang jadi tersangka bukan istilah saya, Nadim. Itu konsekuensi.”

Alena berhenti di ambang. Tidak ada yang menawarkan kursi, jadi ia memilih sendiri tempat di hadapan meja—bukan di ujung, bukan di pinggir. Ia tidak akan menjadi dekorasi untuk krisis keluarga mereka. “Kalau foto itu bocor,” katanya datar, “siapa yang pertama kali mengirimnya ke tim hotel? Siapa yang tahu saya masih di ruang ini sebelum pintu dikunci?”

Bramanta menatapnya dengan sedikit terlalu lama. Cukup lama untuk menunjukkan ia tidak suka pertanyaan itu. “Kau masih mengira ini soal bocor, bukan soal posisimu.”

“Posisiku selalu dijadikan alasan ketika kalian kehilangan kendali,” balas Alena.

Nadim bergerak lebih dekat ke meja, menahan perdebatan itu sebelum tumbuh. “Kita selesaikan satu hal dulu. Tidak ada penandatanganan lanjutan malam ini sampai informasi hotel aman.”

Bramanta mencondongkan badan. “Itu merugikan kedua perusahaan.”

“Bukan kedua perusahaan,” kata Nadim. “Satu pihak yang sengaja membiarkan rumor tumbuh.”

Alena melihat sorot itu: ia tidak sedang meminta ampun, ia sedang menutup pintu untuk orang lain dengan risiko yang nyata. Ponselnya kembali menyala. Kali ini pesan dari nomor tak dikenal, singkat dan kotor: foto kamu sudah ada di grup internal hotel. Keluarga juga dapat.

Ia mengangkat layar ke atas meja tanpa drama. Nadim melihatnya sekali, lalu wajahnya mengeras, bukan karena cemburu, melainkan karena kalkulasi yang baru saja menjadi mahal.

“Siapa pun yang menyebarkan ini,” katanya kepada staf hotel, “akses rapat malam ini dihentikan. Semua undangan digital dibekukan. Ruang privat, lift eksekutif, dan daftar tamu tertutup sampai pemberitahuan berikutnya.”

Bramanta tertawa pendek, tajam. “Kau menghentikan rapat karena satu foto?”

“Karena satu foto bisa dipakai untuk memutus kontrak, memancing saksi palsu, dan menjatuhkan orang yang tidak punya waktu menunggu klarifikasi.” Suara Nadim tetap tenang, tetapi perintahnya tidak. “Dan karena jika keluarga kalian ingin memakai Alena sebagai tameng, maka ia duduk di sisi yang terlindungi.”

Kalimat itu membuat ruangan hening sejenak. Bahkan notaris menunduk ke mapnya, seolah stempel di tangannya tiba-tiba terasa terlalu berat.

Alena memandang Nadim. Perlindungan seperti itu bukan hadiah. Itu pengumuman perang.

Sebelum Bramanta sempat menyela, Alena membuka map waris yang masih ia bawa. Jemarinya mengambil satu lembar dari plastik arsip, lalu mendorongnya ke tengah meja. “Raisa tidak kabur hanya karena takut menikah,” katanya. “Ia kabur setelah melihat lampiran transfer dan arsip notaris lama. Ada nama yang disembunyikan di sana—nama perempuan yang menyetujui sesuatu demi menutupi asal-usul anak yang dibesarkan keluarga ini.”

Bramanta membeku sepersekian detik. Cukup untuk membuat Nadim menangkapnya.

Alena melanjutkan, suaranya lebih pelan, lebih tajam. “Raisa tahu siapa yang ditekan. Dan ia tahu siapa yang akan dijadikan tumbal kalau dia tetap berdiri di pelaminan.”

Notaris memandang kertas itu, lalu Alena, seakan baru sadar malam ini bukan sekadar urusan pengantin. Ini urusan arsip yang hidup kembali.

Bramanta memotong, lebih keras dari sebelumnya. “Kau tidak punya hak membuka—”

“Aku punya nama di dalam map itu,” kata Alena. “Kalian yang menghapusnya.”

Nadim menoleh ke notaris, lalu ke staf hotel di ambang pintu yang mulai gelisah oleh dering pesan masuk dari banyak arah. Ia mengambil keputusan tanpa menunggu restu siapa pun.

“Alena duduk di meja keputusan malam ini,” ujarnya. “Satu kursi. Satu malam. Tidak ada yang mengusirnya dari ruang ini.”

Dan di saat yang sama, ponsel Bramanta bergetar keras dengan notifikasi grup internal hotel dan keluarga: foto Alena di bridal suite sudah menyebar. Nadim menekan tombol di ponselnya lagi sekali, memastikan penghentian akses rapat benar-benar berjalan. Perlindungan itu mahal; semua orang di ruangan bisa merasakannya.

Bramanta menatap Alena, lalu melempar nama itu seperti pisau yang akhirnya keluar dari sarungnya.

“Kalau begitu, Alena Pradipta—atau siapa pun namamu yang sebenarnya—jelaskan pada notaris ini kenapa namamu bisa ada di arsip yang sudah kami kubur.”

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced