Perjamuan Musuh
Cermin di suite pribadi Arion memantulkan sosok yang hampir tak dikenali Elena. Gaun sutra midnight blue dengan potongan punggung terbuka itu bukan sekadar pakaian; itu adalah zirah. Di bawah cahaya lampu kristal yang dingin, Elena menatap bayangannya. Tidak ada lagi sisa-sisa pengantin pengganti yang gemetar. Yang ada hanyalah seseorang yang memegang kunci brankas—kunci menuju kehancuran bagi mereka yang telah mengkhianatinya.
"Terlalu ketat?" Suara Arion memecah keheningan. Pria itu berdiri di ambang pintu, setelan jasnya tampak seperti kulit kedua yang sempurna.
Elena memutar tubuh, membiarkan kain sutra itu berdesir. "Ini pas. Cukup untuk membuat mereka yang dulu menertawakanku merasa tercekik saat melihatku masuk ke ruangan nanti."
Arion melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman yang biasa mereka jaga. Ia berhenti tepat di belakang Elena, tangannya terulur untuk memperbaiki letak bros berlian di bahu gaun Elena. Sentuhan jemarinya dingin, namun intensitas tatapan Arion melalui cermin terasa membakar. Itu adalah sentuhan seorang sekutu, atau mungkin, seorang pemilik yang sedang memastikan senjatanya siap digunakan.
"Keluargaku tidak akan menyambutmu dengan tangan terbuka," ujar Arion pelan, napasnya terasa di dekat telinga Elena. "Mereka akan menyerang dari sisi yang paling tidak kamu duga. Mereka akan mencoba merendahkan statusmu, mengungkit latar belakang keluargamu yang hancur. Jangan biarkan mereka melihatmu goyah."
"Aku tidak akan goyah," jawab Elena tegas. "Aku sudah lelah menjadi korban. Malam ini, aku akan menjadi ancaman."
Meja makan kayu ek di kediaman utama keluarga Arion terasa seperti medan perang yang didekorasi dengan kristal mahal dan perak murni. Elena duduk di sisi kanan Arion, punggungnya tegak lurus. Di seberangnya, ayah Arion, Pak Baskoro, menyesap anggur merah dengan gerakan yang terukur, matanya yang tajam tidak pernah lepas dari Elena.
"Jadi, Elena," suara Pak Baskoro memecah kesunyian, tajam dan penuh nada merendahkan. "Keluargamu sudah hancur total. Aset terakhir kalian di sektor properti sudah disita bank. Bagaimana rasanya menjadi menantu keluarga Arion saat kau sendiri tidak membawa apa-apa selain skandal yang memalukan?"
Arion meletakkan alat makannya dengan bunyi denting yang nyaring. Namun, Elena lebih cepat. Ia tidak menunduk, justru membalas tatapan pria tua itu dengan senyum tipis yang dingin. Ia teringat dokumen di dalam brankas—catatan investasi bodong yang melibatkan perusahaan Pak Baskoro dan Adrian.
"Tuan Baskoro, bukankah lebih memalukan jika seseorang membangun kekayaan di atas fondasi yang rapuh?" Elena menjawab tenang, tangannya meraih gelas anggur. "Misalnya, investasi di proyek Grand Landmark yang saat ini sedang dalam audit ketat karena pelanggaran regulasi perizinan. Saya mendengar kabar bahwa dana yang mengalir ke sana berasal dari rekening yang seharusnya dibekukan. Jika publik tahu bahwa keluarga besar Arion terlibat dalam pencucian uang melalui proyek itu, apa yang akan terjadi pada kursi direksi Anda?"
Suasana meja makan berubah drastis. Bunyi alat makan yang beradu dengan piring mendadak berhenti. Wajah Pak Baskoro memucat seketika, sementara anggota keluarga lainnya saling melirik dengan panik. Arion menatap Elena, sudut bibirnya terangkat sedikit—bukan senyum ramah, melainkan pengakuan akan kecerdasan yang mematikan.
Saat situasi memuncak, Arion membela Elena dengan cara yang dingin namun telak. "Ayah, Elena tidak hanya berbicara sebagai istriku, tapi sebagai pemegang otoritas atas aset yang sedang kita bicarakan. Jika dia merasa terancam, mungkin sudah saatnya dokumen-dokumen itu dipublikasikan agar semua orang tahu siapa sebenarnya yang merusak stabilitas perusahaan ini."
Setelah makan malam yang mencekam itu berakhir, mereka kembali ke teras kediaman Arion. Suasana di luar terasa dingin, kontras dengan gemerlap lampu kota yang membentang di bawah mereka. Elena berdiri di tepi pagar marmer, sisa-sisa ketegangan masih melekat di bahunya.
"Mereka tidak akan berhenti, Arion," ujar Elena tanpa menoleh. Ia mencengkeram tas kecilnya, tempat kunci brankas itu berada—simbol dari senjata yang kini ia genggam.
Arion mendekat, langkah sepatunya terdengar berat di atas lantai batu. Ia tidak berdiri di samping Elena, melainkan tepat di belakangnya, memberikan ruang yang cukup untuk mendominasi namun cukup sempit untuk membuat napas Elena tertahan. "Mereka tidak perlu berhenti. Mereka hanya perlu menyadari bahwa kamu bukan lagi bidak yang bisa mereka pindahkan sesuai keinginan mereka."
Elena berbalik, menatap mata pria itu. Arion tampak tenang, hampir dingin, namun ada gurat ketegangan di rahangnya. "Kamu membela saya di depan mereka bukan karena simpati," pancing Elena. "Kamu melakukannya karena kamu membutuhkan saya untuk memegang kendali aset itu agar rencana besarmu berjalan lancar."
Arion menatapnya dalam, tangannya terulur untuk menyentuh dagu Elena, memaksa wanita itu untuk menatapnya. "Aku memberimu senjata, Elena. Tapi senjata itu tidak berguna jika kamu tidak percaya pada siapa yang memberikannya. Berikan aku kepercayaanmu, dan aku akan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuhmu lagi."
Elena terdiam, menyadari bahwa pria ini bukan sekadar sekutu, dia adalah senjata. Dan kini, ia harus memilih: menyerahkan hatinya sebagai jaminan, atau tetap menjaga jarak demi keamanan yang rapuh.