Novel

Chapter 3: Lima Malam Sebelum Jual Diam-Diam

Nara menemukan bahwa tenggat pemindahan aset Alya bisa dipercepat esok pagi, lalu memaksa kontrak perkawinan Mahendra dibacakan di depan saksi agar perlindungannya sah dan tidak bisa dipakai diam-diam melawannya. Arga menandatangani meski sadar nama keluarga Mahendra akan jadi bahan omongan, memberi Nara kompensasi emosional yang konkret: akses, posisi, dan perlindungan yang mahal. Namun setelah itu, Damar menyerahkan cetakan baru yang menunjukkan Alya bukan hanya terkait satu rekening, melainkan simpul dalam rantai kontrak hidup yang sengaja dibuat tampak sah, dan ancaman berubah dari skandal menjadi kematian yang disamarkan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Lima Malam Sebelum Jual Diam-Diam

Pagi itu, Nara datang ke ruang legal Mahendra dengan luka yang belum sempat benar-benar kering dan satu masalah baru yang lebih menyakitkan daripada benang jahit di kulitnya: notifikasi bank resmi di ponselnya menyebut aset atas nama Alya bisa dipercepat untuk pemindahan, bahkan sebelum lima malam itu habis.

Di meja kaca yang memantulkan cahaya putih gedung Jakarta, ia meletakkan ponsel tanpa berdebat soal sopan santun. Tangannya cukup stabil untuk itu. Yang tidak stabil hanya napasnya setiap kali layar menyala dan nama adiknya kembali muncul di tempat yang tak seharusnya.

Arga duduk di seberangnya, kemeja gelap, wajah terjaga seperti pintu brankas. “Kamu baca semuanya?” tanyanya.

“Cukup untuk tahu mereka tidak menunggu sampai malam kelima.” Suara Nara serak, tapi matanya tetap lurus. “Esok pagi bisa dipercepat. Berarti mereka sudah siap bergerak.”

Arga menoleh ke monitor kedua yang dihidupkan Damar beberapa detik kemudian. Pejabat kepatuhan bank itu masuk dengan map tipis dan wajah yang terlalu hati-hati untuk orang yang hanya membawa prosedur. Di layar, deretan akun muncul dalam pola yang sama rapi dan dinginnya seperti jejak yang sengaja disapu bersih lalu disisakan bekasnya saja.

“Ini bukan transfer tunggal,” kata Damar pelan. Ia tidak duduk; ia berdiri di pinggir ruang, seolah jarak bisa menyelamatkannya kalau kalimat berikutnya salah. “Ada rantai. Akun masuk, diputar lewat nama perantara, lalu dilindungi jalur legal yang kelihatan sah. Di internal, kami menyebutnya rantai kontrak hidup.”

Nama itu jatuh di ruangan seperti benda logam. Nara menatapnya tanpa berkedip. “Hidup?”

“Karena yang bergerak bukan cuma uang,” jawab Damar. “Ada dokumen, status, dan kematian yang dibuat tampak seperti selesai biasa.”

Nara merasakan telapak tangannya dingin. Jadi Alya bukan kesalahan sistem. Alya bukan sekadar nama yang hidup kembali di layar. Alya adalah simpul.

Arga menggeser satu berkas ke arahnya. Bukan belas kasihan. Lebih seperti membiarkan seseorang memegang ujung kabel bertegangan agar ia tahu betapa dekat bahayanya.

“Kalau kamu mau menantang mereka,” kata Arga, “kamu perlu akses yang tidak bisa dipotong hanya karena satu orang menekan tombol.”

Nara membaca cepat. Lampiran internal. Jalur transaksi. Catatan audit yang tidak selesai. Nama perusahaan cangkang yang bergerak di pinggir halaman seperti bayangan yang tahu tempatnya.

“Akses lewat kamu,” katanya.

Arga tidak membantah. “Perlindungan formal. Kontrak perkawinan. Itu satu-satunya jalur yang bisa menahan akses sosial dan legal mereka cukup lama untuk kita cari sumbernya.”

Kata-kata itu seharusnya terdengar seperti perangkap, dan memang terdengar seperti itu. Tetapi di antara kalimat Arga dan napas Damar yang tertahan, Nara melihat sesuatu yang lebih mahal dari sekadar janji: Arga membuka bagian dari ruang yang biasanya ia tutup rapat.

“Kalau aku masuk lewat kamu,” Nara berkata, “aku bukan orang yang dibawa-bawa. Aku mau versi finalnya. Di depan saksi.”

Arga memandangnya lama, seolah sedang menghitung harga dari satu permintaan yang dibungkus martabat. Lalu ia menyandarkan punggung, mengangguk sekali.

“Baik.”

Tidak ada bujukan. Tidak ada rayuan. Itu justru yang membuat dada Nara lebih sempit. Arga mendorong map hitam ke tengah meja. Nara tidak langsung meraihnya. Ia membaca nada di wajah pria itu: setuju, tetapi sadar bahwa setuju berarti menurunkan dirinya sendiri di depan keluarganya.

Damar membuka mulut, ragu sepersekian detik. “Kalau kontrak ini keluar ke ruang keluarga, konsekuensinya—”

“Aku tahu,” potong Arga.

Nara akhirnya mengambil map itu. Di halaman depan, garis-garis legal tercetak rapi, terlalu bersih untuk keputusan yang akan mengotori nama banyak orang. Notifikasi baru masuk lagi ke ponselnya saat jari-jarinya menekan sudut kertas.

Akses esok pagi dapat dipercepat.

Dan Alya kembali muncul di jalur yang lebih dalam.

Nara mengangkat kepala. “Mereka ingin menutupnya sebelum aku sempat bicara.”

“Karena setiap malam yang lewat menambah kemungkinan mereka kehilangan kontrol,” kata Damar. “Dan kalau jalur itu ditutup, kita kehilangan bukti sumbernya.”

Nara menahan keinginan untuk memukul meja. Ia tidak akan memberi mereka kegembiraan melihatnya pecah. “Kalau begitu kita tidak menunggu.”

Arga menatapnya dengan sudut bibir nyaris tak bergerak—bukan senyum, lebih seperti pengakuan bahwa ia suka satu sifat itu. “Tidak.”

Bu Ratna menemukan mereka sebelum rencana itu sempat menjadi tenang.

Perempuan itu datang ke ruang acara privat keluarga Mahendra dengan wajah yang sudah lelah oleh omongan orang bahkan sebelum omongan itu benar-benar lahir. Ia menangkap Nara di lorong ber-AC dekat ruang tunggu staf, lalu menariknya setengah langkah menjauh dari pintu kaca yang penuh pantulan.

“Pulang dulu,” bisiknya tajam. “Jangan tambah bahan. Orang di luar sudah mulai lihat kamu bersama Arga terlalu sering.”

Nara mengeras. Teguran itu tidak kasar, tapi cukup untuk memindahkan malu dari meja keluarga ke tengkuknya. Di dunia Bu Ratna, selamat adalah kata paling sering dipakai, dan paling sering berarti diam.

“Aku belum selesai,” jawab Nara.

“Belum selesai apa? Mempermalukan diri?”

Kalimat itu menusuk lebih dalam karena lahir dari rasa sayang yang salah arah. Nara tahu bibinya takut. Takut pada tetangga, pada gosip arisan, pada lidah yang bergerak lebih cepat daripada nalar. Namun takut itu tetap menekan Nara ke sudut yang sama: pilih aman, bukan benar.

Sebelum Nara menjawab, Arga keluar dari ruang legal membawa map kontrak di tangannya. Beberapa staf otomatis menyingkir. Di belakangnya, ruang acara itu seperti berubah menjadi panggung yang baru dinyalakan lampunya.

“Ada masalah?” tanyanya, datar.

Bu Ratna cepat menutup wajahnya dengan sopan santun. “Saya cuma minta Nara pulang dulu. Ini terlalu ramai.”

“Kalau ramai jadi masalah, seharusnya keluarga saya lebih cepat belajar diam,” kata Arga.

Nada itu halus, tapi cukup tajam untuk memecah ketegangan di lorong.

Sasmita muncul dari sisi ruang tamu, pakaian formalnya rapi seperti pembatas. Tatapannya bergerak dari Nara ke Arga, lalu turun ke map hitam itu.

“Jadi benar?” tanyanya. “Kamu bawa ini ke acara keluarga?”

Arga tidak menoleh padanya lebih lama dari yang perlu. “Aku bawa perlindungan yang dibutuhkan.”

“Perlindungan atau pamer?” sindir salah satu kerabat yang berdiri di dekat meja minum. Suaranya cukup keras untuk didengar staf, dan itulah yang membuatnya kotor.

Nara merasakan darahnya naik. Ia nyaris menjawab, tetapi Arga lebih dulu bergerak.

Ia melangkah ke sisi Nara dan, di depan semua orang itu, menarik satu kursi kosong lalu menepuk sandaran kursi di sebelahnya.

“Duduk di sini,” katanya.

Nara menatap kursi itu. Bukan gestur manis. Bukan bujuk. Itu pernyataan posisi. Duduk di sana berarti berdiri di sisi yang dilihat semua orang, bukan di pinggir sebagai tamu yang bisa disuruh pulang kapan saja.

Beberapa mata staf langsung menunduk, lalu mengintip lagi. Reputasi bergerak di ruangan itu seperti listrik.

Nara duduk setelah satu tarikan napas panjang. Ia tidak ingin terlihat menerima sesuatu yang tidak ia pilih. Tetapi ia juga tahu perbedaan antara dikendalikan dan memilih alat yang tersedia. Sementara itu, Bu Ratna menutup mulut dengan tangan, kebingungan yang disamarkan sebagai kepatuhan.

Arga membuka map itu di atas meja depan ruang acara. Tidak ada upacara. Tidak ada kata-kata besar. Hanya halaman final, tanda tangan, saksi, dan ruang untuk menyetujui sesuatu yang sejak awal sudah terlalu mahal.

“Baca,” kata Arga pada Nara.

Nara membaca. Satu kalimat tentang perlindungan akses. Satu kalimat tentang kedudukan hukum. Satu kalimat tentang batasan publik dan tanggung jawab keluarga. Setiap baris terasa seperti pintu yang dikunci dari dua sisi. Namun di sela-sela klausul itu ada hal yang jelas: selama kontrak ini berjalan, jalur yang bisa dipakai orang lain untuk menyentuhnya—secara sosial, bank, dan reputasi—menjadi lebih sempit.

“Kalau aku tanda tangan,” kata Nara, “aku masuk ke rumah yang memandang semua hubungan sebagai alat.”

“Ya,” jawab Arga tanpa membela diri. “Dan kalau kamu tidak tanda tangan, mereka ambil ruang yang sama darimu tanpa menunggu izin.”

Itu bukan rayuan. Itu penilaian yang jujur, dan karena itulah Nara tidak bisa membencinya sepenuhnya.

Ia menggeser halaman ke arahnya. “Kalau begitu baca di depan mereka.”

Hening turun. Bahkan sendok yang tadi berdenting di sudut meja berhenti.

Arga membaca. Satu paragraf. Dua paragraf. Suaranya stabil, nyaris tanpa emosi, tetapi Nara melihat tangan yang memegang pena sedikit mengencang ketika ia sampai pada bagian yang mengunci nama keluarga Mahendra ke dalam tanggung jawab hukum yang tidak bisa ditarik mundur tanpa membuka aib yang lebih besar.

Sasmita menatapnya seakan baru sadar ini bukan permainan yang ia kendalikan.

“Arga,” katanya tajam, “kamu tahu apa artinya ini bagi nama kita?”

“Aku tahu,” jawab Arga.

“Dan kamu tetap melakukannya?”

Kali ini Arga menoleh pada ibunya. Di wajah yang biasanya hampir tak terbaca itu, ada sesuatu yang lebih keras daripada hormat—keputusan yang sudah dibuat jauh sebelum siapa pun diberi kesempatan menahan.

“Kalau nama kita perlu dipakai untuk menutup kebocoran yang disamarkan sebagai kematian, maka biar nama kita yang berdarah duluan,” katanya.

Ruangan itu sunyi sekali.

Nara merasakan kalimat itu bukan sebagai puisi, melainkan sebagai pengorbanan yang nyata. Arga baru saja menukar sebagian reputasi keluarganya untuk memberinya satu akses. Bukan ciuman, bukan janji manis, bukan perhatian kosong—melainkan sesuatu yang bisa dipertaruhkan di depan ibu dan saudara-saudaranya.

Itu adalah kompensasi. Nyata. Mahal. Dan justru karena itu, suhu di dada Nara berubah dari waspada menjadi sesuatu yang lebih sulit diberi nama.

Arga menandatangani.

Pena bergerak di atas kertas dengan bunyi kecil, namun Nara tahu di ruangan seperti ini bunyi kecil bisa memindahkan hidup lebih jauh daripada teriakan. Setelah tanda tangan itu selesai, staf yang hadir tidak lagi sekadar melihat mereka; mereka menilai, menyimpan, dan mungkin akan membawa kabar ini ke mana-mana sebelum makan malam usai.

Damar melangkah masuk tepat ketika halaman terakhir ditutup. Wajahnya lebih pucat dari tadi. Di tangannya ada cetakan baru, masih hangat dari printer.

“Ini baru keluar dari pengecekan,” katanya.

Nara mengambil kertas itu, dan hanya satu baris pertama sudah cukup membuat seluruh tubuhnya dingin.

Alya Kirana bukan hanya muncul di satu rekening.

Nama itu terhubung ke akun lain dalam rantai yang sama.

Di bawahnya ada catatan waktu, kode jalur, dan sebuah pengesahan yang terlalu rapi untuk sesuatu yang seharusnya tidak pernah bisa dibuka kembali. Nara menatap angka-angka itu sampai huruf-hurufnya tampak bergerak. Ada lapisan baru di bawah semua ini—lapisan yang bukan cuma tentang uang, melainkan tentang siapa yang bersedia memalsukan selesai.

“Siapa yang memindahkannya?” suara Nara nyaris tidak keluar.

Damar tidak langsung menjawab. Matanya melayang sekilas ke pintu, ke staf, ke wajah Sasmita yang mulai menegang.

“Belum dipindah,” katanya. “Tapi orang yang menyiapkannya tahu persis bagaimana membuatnya tampak sah.”

Arga mengambil cetakan itu dari tangan Nara, membacanya sekali, lalu menutup rahangnya.

“Ini bukan cuma soal rekening,” katanya.

“Lalu apa?” tanya Nara.

Arga mengangkat pandangannya ke Damar, dan untuk pertama kalinya sejak Nara mengenalnya, ada ketegangan yang benar-benar personal di matanya—bukan dingin, bukan percaya diri, tetapi perang kecil antara nama keluarga dan hal kotor yang selama ini ditahan di belakangnya.

“Ini jalur yang dipakai untuk menutup kematian,” jawabnya pelan.

Kata-kata itu jatuh di antara mereka, dan Nara langsung mengerti: selama lima malam itu, mereka tidak sedang mengejar satu rekening. Mereka sedang mengejar orang yang percaya ia bisa menghapus jejak hidup dengan legalitas palsu.

Di belakang, seseorang di keluarga Mahendra mengisyaratkan protes, mungkin pada Arga, mungkin pada skandal yang mulai terasa terlalu dekat. Namun Arga sudah bergerak lebih dulu, berdiri di sisi Nara seperti keputusan yang tidak bisa dinegosiasikan lagi.

Dan Nara, dengan kertas di tangannya dan nama Alya yang kini menjulur ke akun lain, tahu bahwa ancaman sesungguhnya belum datang sebagai rumor.

Ancaman itu datang sebagai sistem.

Sebagai pemindahan yang dijadwalkan.

Sebagai kematian yang disamarkan rapi di balik tanda tangan dan nama baik.

Lima malam.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced