Novel

Chapter 1: Nama yang Mati di Layar Hidup

Nara datang ke bank dalam keadaan terluka, terjepit tagihan, dan ditekan keluarga, lalu menemukan nama adiknya yang sudah meninggal muncul sebagai rekening aktif. Di ruang kepatuhan, Damar Wibawa mengakui ada istilah internal "rantai kontrak hidup" yang menautkan kematian dengan jalur legal tersembunyi, sementara notifikasi memperlihatkan rekening itu akan dialihkan ke pembeli privat dalam lima malam. Saat ancaman reputasi dan kebocoran ke publik mengunci Nara, Arga Mahendra muncul dan menawarkan satu jalan keluar yang mahal: perjanjian perkawinan sebagai akses sekaligus penutup skandal.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Nama yang Mati di Layar Hidup

Ponsel Nara bergetar untuk ketiga kalinya sebelum ia sempat menutup pintu ruang tunggu bank. Getaran itu datang di antara bau karpet lembap, dingin AC yang terlalu kuat, dan denyut nyeri di sisi pinggangnya yang belum benar-benar hilang sejak dua malam lalu. Ia berdiri di bawah lampu putih yang membuat semua warna tampak lebih pucat, termasuk wajahnya sendiri di layar hitam ponsel.

Alya Kirana — rekening aktif.

Nara membaca kalimat itu dua kali, lalu sekali lagi, seolah huruf-hurufnya bisa berubah kalau ia menatap cukup lama. Alya sudah tiga bulan dikubur. Nama itu masih terasa ganjil bahkan di kepala Nara, apalagi ketika muncul bersama tanda centang hijau dan keterangan saldo.

Di bawah notifikasi itu, masuk pesan dari Bu Ratna.

Jangan bikin ribut di bank. Jangan sebut-sebut keluarga kalau belum paham duduknya. Orang kompleks sudah nanya kemarin.

Nara menutup layar terlalu keras. Jari-jarinya dingin. Bukan hanya karena AC. Di tasnya ada map tagihan rumah sakit yang belum lunas, kertas-kertas fotokopi yang mulai kusut di sudut, dan satu surat dari bagian administrasi yang menuntut pembayaran sebelum akhir minggu. Ia datang ke bank bukan untuk mencari keajaiban; ia datang karena semua jalan lain sudah sempit. Tetapi pagi ini, bahkan napas pun terasa seperti harus dihemat.

Nomor antreannya dipanggil. Nara melangkah ke loket layanan kepatuhan dengan punggung tetap tegak, meski langkah kirinya masih menyisakan nyeri. Di balik kaca buram itu, meja panjang, folder krem, dan seorang pria berkemeja putih menunggu dengan wajah yang terlalu rapi untuk sebuah kabar buruk.

Damar Wibawa berdiri sedikit terlalu cepat ketika melihat namanya di layar kecil di meja. Kemeja itu licin dan bersih, dasinya lurus, tetapi ada sesuatu pada rahangnya yang menegang sejak awal. Bukan panik. Lebih seperti seseorang yang sudah tahu ruang ini bisa berubah jadi perang kecil kapan saja.

“Bu Nara?” suaranya sopan, rendah, nyaris netral. “Silakan duduk dulu. Saya perlu verifikasi beberapa data.”

“Saya datang bukan untuk verifikasi,” kata Nara. Ia tidak duduk. “Nama adik saya muncul di rekening aktif. Saya mau penjelasan.”

Satu kilat singkat bergerak di mata Damar—bukan terkejut, melainkan waspada. Ia memandang ke layar laptopnya, lalu ke pintu belakang yang tertutup.

“Informasi seperti ini tidak bisa dibahas di area umum,” katanya.

“Ini ruang kepatuhan,” balas Nara. “Dan saya bukan nasabah yang minta maaf karena mengganggu prosedur. Saya keluarga orang yang namanya muncul di sistem kalian padahal sudah mati.”

Beberapa kepala di sisi lobi menoleh. Nara merasakan tatapan itu seperti jari yang menekan tengkuk. Di bank, suara selalu punya dinding. Tetapi nama mati yang diucapkan terlalu keras bisa menembus dinding dan kembali sebagai bisik-bisik.

Damar menarik napas pelan. “Ibu, saya mengerti ini mengejutkan. Tapi saya perlu memastikan—”

“Jangan ‘mengerti’ saya dulu,” potong Nara. Ujung map di tangannya mengeras. “Cukup jelaskan kenapa Alya Kirana ada di rekening aktif.”

Damar diam satu detik terlalu lama. Lalu, dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengambil map dari atas meja dan menyelipkannya ke samping, di luar jangkauan kamera lobi. “Ada kemungkinan kesalahan data,” katanya, tetapi nada itu terlalu rapi, terlalu aman, seperti kalimat yang sudah diasah berkali-kali. “Sistem bisa menampilkan nama lama, penautan keluarga, atau pembaruan administrasi yang belum sinkron.”

Nara menatapnya. “Adik saya meninggal delapan bulan lalu. Namanya bukan ‘nama lama.’”

Damar menelan ludah, geraknya kecil tapi jelas. Itulah yang pertama kali membuat Nara yakin: ini bukan sekadar error. Orang yang benar-benar yakin pada sistem tidak menahan napas seperti itu.

“Kalau ini kesalahan,” kata Nara, “berarti kalian bisa tutup sekarang juga. Tunjukkan audit trail. Tunjukkan siapa yang membuka, kapan, dan kenapa.”

“Tidak sesederhana itu.”

“Semua masalah orang kecil selalu dipersulit dengan kalimat seperti itu.”

Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang ia niatkan. Nara melihat sendiri bagaimana Damar mengencangkan tangan di tepi meja. Ada sesuatu yang tidak nyaman di balik sopan santunnya; bukan rasa bersalah murni, tetapi rasa takut orang yang tahu prosedur tidak selalu melindungi orang yang menjalankannya.

Damar menekan satu tombol di komputer. Layar miring sedikit, lalu muncul deretan data yang tidak ia putar ke arah Nara sepenuhnya. Cukup untuk melihat nama adiknya tercetak ulang, cukup untuk melihat status aktif, cukup untuk melihat ada satu kolom lain yang diblok warna abu-abu.

“Nah,” kata Nara pelan. “Itu apa?”

Damar langsung menutup layar setengah dengan telapak tangan. “Saya tidak bisa menjelaskan isi kolom itu tanpa otorisasi.”

“Jadi ada sesuatu yang disembunyikan.”

“Bukan disembunyikan,” katanya cepat, lalu merendah lagi, seolah sadar suaranya naik. “Dibatasi.”

Nara hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya napas pendek yang pahit. “Dibatasi untuk siapa? Untuk saya? Atau untuk orang yang memindahkan uang ini?”

Damar tidak menjawab.

Itu jawaban yang cukup.

Damar menarik map lain, lalu meletakkan selembar slip dan cetakan layar di meja, lebih jauh dari jari Nara. “Saya hanya bisa memberi ini. Ada jejak transaksi yang tidak biasa. Istilah internalnya… rantai kontrak hidup.”

Nara membeku.

“Ulangi,” katanya.

Damar tampak menyesal saat kata-kata itu keluar, seolah ia tahu setelah ini tidak ada jalan balik. “Rantai kontrak hidup,” ulangnya. “Itu istilah internal. Bukan untuk nasabah umum.”

Nara membaca cetakan layar itu dengan mata yang bergerak terlalu cepat. Nama adiknya memang di sana, tapi bukan sebagai data mati. Ada penautan, ada kode rujukan, ada jejak perubahan yang tak masuk akal. Di bawahnya, satu bagian masih tertutup blok hitam dari sistem, seperti seseorang sengaja menggeser tirai tepat sebelum Nara sempat melihat wajah di baliknya.

“Jelaskan pelan-pelan,” katanya. “Apa artinya ‘rantai’?”

Damar menatap pintu belakang lagi, lalu kembali ke Nara. “Ada jalur legal yang bisa mengikat akun, klaim, dan pihak keluarga dalam satu rangkaian. Biasanya dipakai untuk transaksi yang—” Ia berhenti, mencari kata yang aman. “Yang sensitif.”

“Seperti apa?”

“Seperti kematian yang tidak dicatat sebagai penutup, melainkan penanda.”

Nara merasakan darahnya turun dingin ke telapak tangan. Kalimat itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Terlalu terlatih untuk disebut rumor. Ia menekan ujung jari pada map sampai kertasnya melengkung.

“Siapa yang membuka?”

“Nama itu ada di sistem, tapi aksesnya bukan dari cabang ini.”

“Dari mana?”

Damar tidak langsung menjawab. Sebelum bibirnya bergerak, ponsel Nara bergetar lagi. Kali ini bukan pesan Bu Ratna, melainkan notifikasi baru dari aplikasi bank.

Rekonsiliasi akun selesai.

Di bawahnya, satu baris tambahan muncul, dan itulah yang membuat ruang tunggu terasa menyempit.

Dalam 5 malam, aset akan dialihkan ke pembeli privat.

Nara menatap layar itu sampai huruf-hurufnya seperti mengeras di retina. Lima malam. Bukan minggu. Bukan bulan. Malam. Kata yang terlalu dekat dengan jam tidur, terlalu dekat dengan rumah, terlalu dekat dengan aib yang bisa berpindah dari layar ke mulut tetangga.

“Pembeli privat?” suara Nara turun, tetapi tajam. “Apa maksudnya pembeli privat?”

Damar pucat. Untuk pertama kalinya, kendali di wajahnya retak. “Saya tidak seharusnya melihat itu muncul di akun Anda.”

“Lalu kenapa muncul?”

“Karena ada tahap transfer yang sedang dipercepat.”

“Siapa yang mempercepat?”

Ia diam.

Tatapan Nara bergerak dari wajah Damar ke slip di meja, lalu ke layar ponsel. Rasa malu yang tadi hanya menempel kini berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: ia bisa jadi bahan bicara sebelum senja turun. Bu Ratna akan tahu. Tetangga akan tahu. Orang bank akan tahu. Dan semua akan menjadikannya bukti bahwa keluarga Kirana memang selalu punya masalah yang tidak selesai-selesai.

“Kalau saya lapor,” kata Nara, “rekening ini dibekukan.”

“Belum tentu.”

“Kalau saya bawa ke atas?”

Damar menatapnya, kali ini jujur, atau setidaknya sedekat itu dengan jujur. “Kalau kasus ini keluar dari ruangan ini, yang pertama hancur bukan hanya prosesnya. Nama keluarga Anda juga ikut naik ke daftar pemeriksaan. Itu biasanya cepat bocor.”

Nara membenci betapa masuk akalnya kalimat itu.

Sebelum ia sempat menjawab, pintu samping terbuka tanpa suara yang keras. Seorang pria masuk seperti ia memang milik ruangan itu: tenang, tinggi, jas gelap jatuh rapi di bahu, ekspresi hampir tak tersentuh. Tidak ada senyum ramah. Tidak ada basa-basi. Namun seluruh ruang seketika bergeser, seperti orang-orang di dalamnya tanpa sadar memberi jalan.

Arga Mahendra.

Nara tahu nama itu. Siapa yang tak tahu? Mahendra bukan keluarga biasa; mereka punya gedung, jaringan, reputasi, dan jenis kuasa yang tidak perlu diangkat suara untuk terasa. Tetapi yang paling membuat Nara kaku bukan namanya. Melainkan fakta bahwa Damar, yang tadi menahan informasi dengan wajah seperti batu, langsung menurunkan pandangan saat Arga mendekat.

Arga berhenti di sisi meja. Matanya jatuh sebentar pada cetakan layar, lalu pada Nara. Tatapannya tidak memeriksa seperti orang asing. Lebih buruk: ia mengenali situasi itu seolah sudah membaca babnya sebelumnya.

“Pak Arga,” Damar berkata cepat, nada hormat yang lebih tebal dari sebelumnya.

Arga mengangkat tangan sedikit, cukup untuk menghentikan penjelasan. “Saya sudah lihat ringkasannya.” Suaranya tenang, bersih, hampir dingin. Lalu ia menatap Nara. “Dan saya tahu nama yang Anda cari.”

Nara tidak bergerak. “Kalau Anda tahu, katakan.”

“Tidak di sini.”

“Semua orang di ruangan ini sudah telanjur tahu terlalu banyak.”

Ada sesuatu yang hampir seperti bayangan senyum di sudut mulut Arga, tetapi lenyap sebelum sempat disebut. “Justru itu masalahnya.”

Ia meletakkan sebuah map tipis di atas meja. Tidak tebal, tidak dramatis. Hanya cukup berat untuk mengubah arah udara di antara mereka.

“Nona Kirana,” katanya, “kalau Anda ingin akun itu tidak menghilang ke pembeli privat sebelum lima malam ini habis, saya perlu satu tanda tangan dari Anda. Bukan di slip bank.” Ia membuka map perlahan. “Di kontrak.”

Nara menatap halaman pertama yang mulai terlihat, lalu ke Arga, lalu sekilas ke Damar yang kini tampak seperti orang yang baru sadar ia berdiri di sisi jurang.

Di bagian atas kontrak itu, judulnya tercetak tegas dan terlalu rapi untuk menjadi kabar baik:

Perjanjian Perkawinan.

Nara merasa seluruh ruang tunggu bank mendadak tidak cukup luas untuk napasnya sendiri.

Dan saat Arga menggeser map itu sedikit lebih dekat, ia sadar perlindungan yang ditawarkan bukan ilusi—namun begitu namanya masuk ke lingkar Mahendra, satu ruangan penuh tatapan akan berubah menjadikannya bahan hitung sosial sebelum matahari sempat turun.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced