Novel

Chapter 1: Nama Orang Mati di Layar Bank

Raka dipermalukan di ruang keluarga Wulandari saat Bu Ratna menegaskan ia tak punya hak bicara soal uang. Tepat di depan semua orang, notifikasi bank menampilkan nama kerabat mati pada rekening yang masih aktif. Raka menangkap detail teknis yang membuktikan ini bukan sekadar salah input, menyimpan tangkapan layar, lalu menelusuri waktu akses dan format referensi yang mengarah ke pembukaan ulang sengaja. Di akhir, sebuah pesan anonim memperingatkan batas lima malam, dan Raka menemukan nama perantara Hendra Laksana yang sedang menutup transaksi malam ini juga.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Nama Orang Mati di Layar Bank

Raka sudah delapan menit duduk di ujung meja keputusan itu, di kursi yang kaki depannya lebih pendek karena sengaja diganjal buku tebal. Bahkan furnitur di rumah utama Wulandari seolah tahu di mana letak orang yang boleh bicara dan di mana letak orang yang harus diam.

Ruang keluarga itu dingin, rapi, dan terlalu terang untuk suasana yang sebenarnya sedang dikubur hidup-hidup. Di sisi meja, map biru terbuka di depan Bu Ratna Wulandari. Di sebelahnya, Mira duduk tegak dengan kedua tangan saling mengunci di pangkuan. Dimas Wicaksono bersandar santai, jam mahalnya menyapu cahaya lampu tiap kali ia menggerakkan pergelangan, seakan ia yang paling berhak ada di sana.

Raka hanya ditempatkan di ujung, jauh dari map, jauh dari layar, jauh dari suara yang dianggap penting.

“Bagian ini tidak perlu ikut didengar semua orang,” kata Bu Ratna, tanpa menoleh padanya. Suaranya datar, rapi, seperti angka-angka di laporan. Baru setelah ia selesai memindahkan selembar kertas, matanya berhenti di wajah Raka. “Termasuk kamu. Urusan uang keluarga bukan tempatmu bicara.”

Dimas menyelipkan senyum tipis, yang bahkan tidak cukup sopan untuk disebut senyum. “Betul. Yang penting Raka tahu posisi. Menantu tidak perlu ikut menentukan arus kas.”

Mira membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Bukan bantahan. Bukan pembelaan. Hanya diam yang terlalu cepat menyerah.

Itu lebih menyakitkan daripada kata-kata.

Bu Ratna mengetuk tablet sekali. “Biaya perawatan, pajak, dan penutupan beberapa rekening lama harus diselesaikan malam ini. Tidak ada ruang untuk salah langkah. Apalagi bocor ke luar.”

Raka tidak menanggapi. Ia hanya menatap map di depan Bu Ratna, lalu memindahkan pandangan ke layar yang disiapkan di tengah meja. Ada sesuatu yang tidak dibicarakan, dan rumah itu tahu cara menyembunyikan hal penting dengan sangat sopan.

Ponselnya bergetar di paha.

Satu notifikasi bank menyala.

Lalu satu lagi, masuk hampir bersamaan, seakan aplikasi itu tidak sabar menunggu.

Raka menunduk, bukan karena takut, tetapi karena layar kecil di tangannya mendadak jauh lebih menarik daripada wajah-wajah yang mencoba mengecilkannya. Di layar, sebuah nama muncul di baris rekening yang masih aktif.

Nama orang mati.

Nama yang seharusnya sudah terkunci di arsip, ditutup dengan sertifikat kematian, disapu dari sistem, dan tidak pernah kembali ke layar hidup mana pun.

Di ruangan itu tidak ada yang langsung bicara. Keheningan yang terjadi justru lebih tajam daripada teriakan.

Raka memperbesar notifikasi, lalu matanya bergerak cepat ke detail bawah: status akun masih hidup, waktu akses baru saja lewat, dan ada jejak perubahan yang terlalu bersih untuk kesalahan acak. Detik itu juga, ia tahu ini bukan pop-up kosong. Ini bukan bug yang bisa dibersihkan dengan satu telepon ke bank.

Ini pembukaan ulang.

Mira yang pertama melihat perubahan di wajahnya. “Apa?” bisiknya pelan, lebih takut pada reaksi ibunya daripada pada isi layar.

Raka mengangkat ponsel sedikit, cukup agar Bu Ratna dan Dimas bisa melihat, tetapi tidak cukup untuk memberi mereka kendali. “Ada nama orang mati di rekening yang masih aktif.”

Bu Ratna akhirnya menoleh penuh. Tatapannya dingin, lalu tajam. “Jangan bikin drama dari sistem yang kadang salah.”

Dimas tertawa pendek. “Bank sekarang sering error. Nama orang mati muncul lalu hilang sendiri. Itu saja. Tidak usah membuat keluarga panik.”

Nada suaranya terlalu cepat.

Terlalu rapi.

Terlalu siap menutup pintu sebelum orang lain sempat melihat isi kamar.

Raka tidak membantah. Ia justru menekan layar, membuka detail transaksi, lalu menggeser ke log waktu yang tampil samar di bawah. Ada rentang menit yang tidak cocok dengan pola akses normal. Bukan jam kerja bank. Bukan jam input keluarga. Bukan jam yang masuk akal kalau semua ini benar-benar salah sistem.

Bu Ratna melihat gerakan itu. Seketika suaranya turun, bukan lebih lembut, melainkan lebih berbahaya. “Taruh ponselmu. Kamu bukan orang yang paham urusan administrasi.”

Kalimat itu, bagi orang lain, mungkin hanya penghinaan biasa. Bagi Raka, itu adalah perintah yang lahir dari kepanikan.

Ia menahan napas, lalu menekan tombol tangkap layar.

Satu gambar masuk ke galeri.

Satu bukti pertama.

Di saat yang sama, Dimas menggeser tubuhnya ke depan, seolah ingin melihat lebih dekat tanpa terlihat panik. “Kamu jangan sembarang menuduh. Kalau ini cuma salah input, yang malu justru kamu.”

Raka menatapnya sejenak. Ia tidak mengangkat suara. Tidak juga mengangkat dagu. Tapi sorot matanya tidak lagi kosong seperti menantu yang dipindahkan ke pojok ruangan.

“Kalau salah input,” kata Raka pelan, “kenapa waktu aksesnya baru beberapa menit lalu?”

Dimas berhenti sepersekian detik.

Hanya sepersekian.

Tapi cukup bagi orang yang sedang mencatat kepanikan.

Ruang keluarga itu berubah suhu. Mira menatap ponsel Raka, lalu cepat memalingkan wajah ke ibunya. Bu Ratna menutup map biru dengan satu gerakan kaku. “Cukup. Kamu hanya akan mempermalukan rumah ini dengan kebodohanmu sendiri.”

Raka sudah lebih dulu menghafal pola rumah ini: kalau mereka ingin menekan, mereka akan menyebut malu; kalau mereka ingin menutup sesuatu, mereka akan menyebut disiplin. Karena itu, ia tidak menjawab. Ia hanya mengunci layar, memasukkan ponsel ke saku, dan duduk kembali seperti orang yang menurut.

Itu membuat Bu Ratna sedikit kehilangan pegangan. Ia membenci perlawanan. Tapi ia lebih membenci orang yang tidak bereaksi seperti yang ia harapkan.

“Pertemuan selesai,” kata Bu Ratna akhirnya.

Namun rapat kecil itu sudah telanjur rusak. Orang-orang di ruang keluarga itu belum punya bukti untuk saling serang, tetapi wajah mereka sudah tidak lagi aman.

---

Lorong samping rumah Wulandari terasa lebih dingin daripada ruang keluarga. Dindingnya putih, terlalu bersih, seperti sengaja dibuat agar siapa pun yang lewat harus merasa kecil. Raka berdiri dekat pantry ketika suara dari balik pintu geser masih terdengar merambat, setengah dibekap, setengah dipoles.

“Sudah, anggap saja salah sistem,” kata Bu Ratna. “Jangan dibesar-besarkan.”

Dimas menyusul, suaranya cepat dan ringan, persis seperti orang yang sedang menebus rasa panik dengan nada biasa. “Bank juga sering error. Nama orang mati muncul, lalu hilang sendiri.”

Raka membuka notifikasi tadi sekali lagi. Kali ini ia tidak berhenti di nama. Ia membaca baris bawah, lalu baris berikutnya. Status akun hidup. Waktu akses. Jejak perubahan. Ada pola yang terlalu bersih untuk berasal dari sistem umum. Dan ada satu hal lagi: format referensi transaksi itu bukan format yang dipakai aplikasi bank retail biasa.

Mira muncul dari ruang kerja kecil di ujung lorong. Wajahnya tegang, bibirnya tipis, langkahnya ditahan seolah ia sendiri takut menimbulkan suara. “Kamu jangan terlalu jauh,” bisiknya. “Kalau Ibu dengar kamu cari-cari, urusannya makin sulit.”

Raka tidak langsung menjawab. “Sulit untuk siapa?”

Mira diam.

Jawaban itu justru lebih jujur daripada kalimat apa pun yang bisa ia pilih.

Dari arah ruang keluarga, pintu bergeser. Bu Ratna keluar sambil membawa map tipis, wajahnya tenang seperti laporan yang sudah diputuskan. “Raka, kalau tidak paham soal uang keluarga, jangan sok membaca angka.”

Lalu, dengan nada yang dipilih agar terdengar wajar bagi siapa pun yang menguping, ia berkata, “Kamu cukup tahu mana yang bukan urusanmu.”

Raka menatap map itu. Bukan mapnya yang menarik perhatian, melainkan cara Bu Ratna menggenggamnya terlalu rapat, seakan ada sesuatu yang tidak boleh lepas dari kertas-kertas di dalamnya.

Ia mulai mengerti satu hal: nama orang mati itu bukan kebetulan yang berdiri sendiri. Itu simpul.

Sebuah pintu kecil yang, kalau dibuka dengan benar, bisa menyeret keluar lebih dari sekadar kesalahan bank.

Dimas melihat ponsel Raka tetap di tangan, lalu berkata dengan nada meremehkan yang dipaksa ringan, “Kamu terlalu serius. Kalau memang ingin cari muka, cari yang lain. Jangan dari error receh begini.”

Raka hampir tersenyum, tetapi tidak jadi. Ia justru menekan tombol lain, memunculkan detail waktu akses sekali lagi, lalu mengambil gambar layar yang berbeda angle-nya. Satu untuk nama. Satu untuk waktu. Satu untuk format referensi.

Cukup untuk awal.

Cukup untuk membuat mereka nanti tidak bisa bilang ia mengada-ada.

“Kalau ini receh,” kata Raka, suaranya tetap rendah, “kenapa kalian semua kelihatan takut?”

Tak ada yang menjawab.

Karena pertanyaan itu terlalu tepat.

Mira memejamkan mata sebentar, seperti menahan sesuatu yang ingin ia katakan tetapi tidak sanggup melewati tekanan ibunya. Bu Ratna tidak bergerak, hanya mengencangkan rahang. Dimas menepis udara dengan tawa singkat yang tak sepenuhnya menutup rasa waspada di matanya.

“Sudahlah,” katanya. “Kalau ponselmu memang bikin heboh, simpan saja. Jangan sok jadi detektif.”

Kalimat itu dimaksudkan untuk mengecilkan. Justru sebaliknya, itu menegaskan bahwa mereka ingin ia berhenti melihat.

Dan itu cukup bagi Raka.

---

Di ruang kerja samping rumah yang sempit, ia menutup pintu pelan agar tawa kecil dari ruang keluarga tidak ikut masuk. Lampu meja menyala redup. Di atas meja, ada ponsel, selembar nota, dan catatan transaksi yang tadi sempat ia pindahkan ke memori pribadi.

Ia tidak duduk santai. Ia menyusun semuanya seperti orang yang memeriksa bekas darah di lantai sebelum memutuskan arah langkah berikutnya.

Nama.

Waktu.

Status akun.

Format referensi.

Semua ia urutkan tanpa emosi, karena emosi hanya akan membuang menit. Di atas layar, jejak itu mulai menyambung: bukan akses biasa, melainkan pembukaan ulang yang sengaja dijaga tetap hidup. Ada jalur administrasi yang tidak bersih. Ada kontrak yang menempel di belakangnya. Dan ada satu kemungkinan yang membuat udara di ruangan sempit itu terasa lebih berat—rekening yang muncul tadi bukan sekadar rekening keluarga.

Itu pintu ke jaringan yang lebih besar.

Raka menyentuh detail waktu akses sekali lagi. Selisihnya sempit, tapi cukup untuk mematahkan alasan “error” yang tadi dibangun Dimas. Ia memindahkan potongan itu ke folder terpisah, lalu memperbesar baris referensi sampai bentuk angkanya jelas.

Nomor itu bukan nomor acak.

Itu jejak yang bisa ditelusuri.

Saat ia sedang mencatat, ponselnya bergetar lagi. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal, singkat dan tanpa salam:

“Kalau kamu sudah lihat, jangan lewatkan malam kelima.”

Raka menatap layar selama dua detik yang terasa lebih panjang daripada semua penghinaan di ruang keluarga tadi.

Lima malam.

Batas itu kini bukan lagi ancaman samar. Itu jam dinding yang sudah mulai berdetak di tengkuknya.

Ia menyimpan tangkapan layar terakhir, lalu membuka file referensi sekali lagi. Di bawah rangkaian angka itu, ada penanda kecil yang selama ini nyaris tak terlihat—nama perantara yang tidak muncul di bank retail, tetapi jelas menempel di rantai kontrak.

Hendra Laksana.

Dan di samping nama itu, ada status transaksi yang sedang bergerak malam ini juga.

Raka menatapnya tanpa berkedip.

Kalau nama orang mati bisa muncul di rekening hidup, berarti ada yang sengaja membuka ulang sesuatu yang seharusnya terkunci. Dan kalau Hendra sedang menutup transaksi malam ini, maka lima malam yang tersisa jauh lebih pendek daripada yang ia kira.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced