Novel

Chapter 1: Nama Inggit di Akun Hidup

Di meja makan keluarga, Nara menyaksikan nama mendiang Inggit muncul kembali pada akun hidup yang seharusnya tertutup. Bi Lestari menahan kepanikan demi martabat keluarga, sementara Pak Hendra datang dengan map plastik dan tenggat lima malam sebelum akun itu dipindahkan ke pembeli privat. Saat Nara membuka dokumen, ia menemukan bahwa namanya sendiri ikut tercantum dalam daftar keterkaitan—menandakan ia bukan lagi penonton, melainkan bagian dari beban yang sedang dibuka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Nama Inggit di Akun Hidup

Nara datang ke rumah itu hanya untuk mengantar map kecil yang diminta Bi Lestari—urusan yang tampak aman, ringan, tidak cukup penting untuk meninggalkan bekas di dada. Namun begitu ia masuk lewat pintu samping dan mencium bau bawang goreng yang sudah lama dingin di dapur, ia tahu malam ini tidak akan berjalan seperti biasa. Rumah keluarga selalu punya cara membuat orang luar merasa seolah sedang lewat di ambang sesuatu yang bukan miliknya: suara kipas langit-langit yang berdecit, sandal yang ditinggalkan berjejer tanpa rapi, piring-piring yang belum sempat dicuci, dan percakapan yang berhenti setengah kalimat saat seseorang yang dianggap “cuma bantu-bantu” lewat.

Di ruang makan, meja kayu itu masih penuh. Tumis kacang panjang, sambal terasi, satu ikan goreng yang tinggal kepala. Bi Lestari duduk di ujung paling dekat jendela, punggungnya lurus seperti papan setrika. Raka di seberangnya, sendoknya menggantung, tidak jadi mengambil nasi. Pak Hendra ada di sisi yang lain, rapi seperti selalu—kemeja licin, map plastik bening di pangkuan, wajah sopan yang terlalu tenang untuk malam seperti ini. Nara baru sempat meletakkan map kecil itu di tepi meja ketika ponsel Bi Lestari bergetar.

Getarnya singkat. Lalu layar menyala terang.

Tidak ada yang bicara. Bahkan Raka, yang biasanya punya mulut paling cepat di meja, berhenti di tengah tarikan napas. Bi Lestari menatap layar ponselnya cukup lama sampai Nara bisa melihat otot rahangnya bergerak sekali. Nama yang muncul di notifikasi itu membuat udara di ruangan seperti ditarik turun.

Inggit.

Nara tidak langsung bereaksi. Ia justru melihat hal-hal kecil yang biasanya luput: ujung kuku Bi Lestari yang masih basah dari mencuci piring, bayangannya sendiri di kaca lemari yang bergetar karena kipas, dan tatapan Pak Hendra yang tidak kaget—terlalu cepat, terlalu siap, seperti orang yang sudah menunggu bunyi itu sejak sore. Nama orang mati tidak seharusnya muncul di layar akun hidup. Itu bukan sekadar aneh; itu pelanggaran yang membuat semua orang di rumah ini bisa kehilangan muka sekaligus hak bicara.

Bi Lestari menutup ponsel itu dengan telapak tangan seolah menekan sesuatu agar tidak lolos. “Jangan ada yang keluar dari meja ini,” katanya pelan.

Bukan teriakan. Justru karena suaranya rendah, perintah itu terasa lebih keras. Matanya bergerak ke Nara, tajam dan singkat. “Kamu juga, Nar. Diam dulu.”

Itu cara Bi Lestari berbicara kalau ia ingin seseorang patuh tanpa diberi alasan. Nara mengenalnya cukup lama untuk tahu: disuruh diam berarti sedang diuji. Dipandang sebentar berarti belum dipercaya. Ia menelan pertanyaan yang naik ke tenggorokan. Kalau ini cuma notifikasi biasa, kenapa wajah Bi Lestari seperti habis menahan orang agar tidak jatuh?

Raka menggeser ponselnya sedikit, ujung jari mengetuk layar dua kali. Isyarat kecil, nyaris tak terlihat. Nara menangkapnya: ada sesuatu yang tidak cocok, ada jejak yang tidak seharusnya ada. Tapi Raka tidak mengangkat suara. Di rumah ini, diam juga bisa jadi bentuk perlindungan. Atau ketakutan.

Pak Hendra merapikan lipatan map plastik di pangkuannya, lalu mengangkat kepala. “Mungkin sistemnya sedang sinkron,” katanya, nada halus seperti orang menjelaskan keterlambatan pengiriman. “Bukan sesuatu yang perlu membuat panik malam ini.”

Nara hampir tertawa, tapi bunyinya tidak pernah lahir. Panik? Di meja makan ini, kata itu sudah terlambat. Nama Inggit di layar sudah cukup untuk memalukan siapa pun yang duduk di sini jika sampai bocor ke tetangga sebelah, apalagi kalau ada yang mendengar dari grup keluarga besar. Kabar semacam ini tidak menyebar lurus; ia merembes lewat gosip pasar, lewat sepupu yang terlalu sayang bertanya, lewat saudara jauh yang tiba-tiba ingat nomor lama.

Bi Lestari menurunkan ponselnya, lalu menatap masing-masing orang seolah sedang menakar siapa yang paling mungkin membuka mulut. “Makan dulu,” katanya.

Tak ada yang makan.

Nara memandangi mangkuk sambal di tengah meja. Seharusnya ia hanya datang, menyerahkan map kecil, lalu pulang sebelum malam terlalu larut. Ia bukan inti keluarga ini. Ia orang yang biasa dipanggil kalau ada amplop, fotokopi, antar-jemput, atau daftar belanja. Sopan, bisa dipercaya untuk urusan kecil, tidak cukup penting untuk urusan yang bisa mengubah status semua orang. Itu sebabnya saat namanya dipanggil tadi sore, ia datang tanpa banyak tanya. Sekarang ia paham: justru karena ia selalu berada di pinggir, ia dipakai ketika sesuatu tak boleh dilihat terlalu lama.

Bi Lestari akhirnya membuka ponselnya lagi, lebih cepat kali ini, lalu memutar layar sedikit ke arah dalam meja. Nara hanya sempat menangkap satu baris sebelum jari bibi itu menutupnya lagi: akun aktif, nama Inggit, dan cap waktu paling baru—baru beberapa menit lalu. Di bawahnya, ada baris pendek yang membuat punggung Nara mengencang.

Akses diperbarui.

Bukan kenangan. Bukan data lama. Diperbarui.

“Ini nggak mungkin,” gumam Raka, nyaris tanpa suara.

Bi Lestari menatapnya tajam. “Semua hal bisa mungkin kalau ada orang yang cukup nekat.”

Kalimat itu jatuh di meja seperti gelas retak. Nara melihat Pak Hendra mengamati Bi Lestari, lalu menunduk lagi ke map plastik bening di pangkuannya. Map itu belum dibuka, tapi keberadaannya saja sudah terasa seperti ancaman yang disimpan dalam bentuk rapi.

Beberapa detik kemudian, Pak Hendra berdiri. Gerakannya tenang, tidak tergesa. Ia menaruh map plastik di atas meja, tepat di antara piring yang sudah dingin dan toples kerupuk yang tutupnya miring. “Kalau semua sudah lihat masalahnya,” katanya, “lebih baik kita bicara baik-baik sebelum tetangga sempat mencium sesuatu.”

Bi Lestari tidak menyuruhnya duduk. Itu sudah cukup menjelaskan bahwa malam ini tidak ada yang benar-benar aman.

Nara memperhatikan map itu. Di balik plastik bening, ada beberapa lembar dokumen yang disusun terlalu rapi, seperti sengaja dibuat tampak tidak berbahaya. Pak Hendra membuka satu sudut saja, secukupnya untuk memperlihatkan kop sistem administrasi keluarga. Baris-baris angka. Tanda tangan. Cap waktu. Nama yang sama muncul lagi di halaman itu seperti bekas luka yang dipaksa terlihat resmi.

“Inggit,” ujar Pak Hendra lembut, seolah menyebut nama orang yang sedang sakit. “Muncul di akun yang sudah ditutup lama. Ini harus segera ditertibkan. Kalau tidak, dalam lima malam akan ada pemindahan otomatis ke pembeli privat.”

Lima malam.

Angka itu langsung menancap. Nara merasakan hitungannya seperti benda yang jatuh ke lantai dan tidak bisa lagi dikembalikan ke kantong. Lima malam berarti tidak banyak waktu untuk menutup aib, tidak cukup untuk bertanya ke mana semuanya akan dibawa, terlalu dekat untuk berharap masalah itu hilang sendiri. Pemindahan privat. Kata-kata itu terdengar bersih, hampir sopan. Tapi Nara cukup tahu bahasa orang-orang seperti Pak Hendra: kalau seseorang bicara terlalu halus, biasanya ada yang sedang dijual.

Bi Lestari menyipit. “Kamu tahu sejak kapan?”

Pak Hendra tidak langsung menjawab. “Saya baru dapat pemberitahuan sistem.”

Raka mendengus kecil, hampir tak terdengar. Nara menoleh padanya. Raka mengangkat sedikit alis, isyarat yang hanya bisa dibaca orang serumah. Ada yang tidak cocok. Bukan cuma notifikasinya, tapi jalur aksesnya. Raka yang sejak tadi menjaga layar sendiri akhirnya mendorong ponselnya ke arah Nara, tapi tidak melewati meja. Ia tidak berani bicara keras, karena sekali suara naik, skandal juga ikut naik.

Nara meraih ponsel itu. Layar menampilkan riwayat akses yang terbuka setengah. Ia menahan napas saat melihat cap waktu yang bertumpuk, beberapa di antaranya berasal dari malam-malam sebelumnya. Bukan satu kali muncul lalu hilang. Ada rangkaian. Ada tangan yang sengaja membuka, lalu mengunci ulang, lalu membuka lagi. Nama Inggit bukan sekadar terpental kembali ke permukaan; ia sedang dipakai, diolah, dipindahkan.

Di bawah baris akun hidup, ada catatan kecil yang membuatnya mendingin: status penataan ulang, terikat kontrak hidup.

Nara mengangkat mata. “Kontrak hidup?”

Pak Hendra tersenyum tipis, bukan senyum ramah melainkan senyum orang yang tidak suka ditanya oleh orang yang seharusnya hanya membantu. “Istilah administrasi. Jangan dibaca terlalu jauh.”

“Kalau nggak perlu dibaca jauh, kenapa ada cap lima malam?” Raka menyambar, suaranya masih ditahan tapi sudah retak di pinggirnya.

Bi Lestari menoleh tajam ke arah Raka, lalu kembali ke Pak Hendra. “Berikan semuanya ke saya.”

“Lebih aman kalau saya yang pegang dulu,” kata Pak Hendra.

“Tidak.”

Satu kata itu membuat sendok Nara bergetar pelan di pinggir piring. Ia melihat di wajah Bi Lestari sesuatu yang jarang terlihat: bukan marah, melainkan takut yang sudah dipaksa jadi tegas. Takut semacam itu biasanya lahir dari pengalaman. Dari tahu bahwa satu kesalahan kecil bisa berubah jadi omongan orang kampung, jadi tatapan saudara yang berubah, jadi nama keluarga disebut dengan nada yang tidak bisa ditarik kembali.

Bi Lestari menoleh ke Nara. Kali ini tatapannya tidak sekeras tadi. Ada sesuatu yang lebih rumit di sana, sesuatu yang tidak enak disebut harapan. “Kamu,” katanya, “bisa baca bagian depan dokumen itu. Ambil yang kelihatan saja.”

Nara menegang. Dipanggil untuk membaca berarti dipanggil untuk ikut memikul. Bukan dipuji. Bukan diakui penuh. Hanya cukup dekat untuk dipakai. Tapi justru itulah yang membuat dadanya sesak: selama ini ia selalu ingin masuk ke dalam keluarga tanpa harus mengecilkan diri, dan malam ini pintunya dibuka dengan cara yang paling tidak nyaman—lewat aib.

Ia mengambil map plastik itu. Jari-jarinya menyentuh sudutnya yang dingin, lalu membuka lembar pertama cukup untuk melihat isi yang tidak dimaksudkan untuk mata orang luar. Ada nomor akun hidup, ada nama Inggit di bagian atas, dan ada baris yang membuatnya menatap lebih lama dari seharusnya: akses hanya untuk pihak berkaitan. Di bawahnya, cap waktu lima malam itu tercetak hitam pekat.

Lalu, di lembar berikutnya yang sempat tersibak sebelum Pak Hendra menutupnya cepat, Nara melihat sesuatu yang membuat perutnya turun satu tingkat.

Bukan hanya nama Inggit.

Ada daftar keterkaitan.

Dan di antara beberapa nama yang dicetak kecil-kecil di kolom samping, ada nama Nara sendiri.

Ia membeku.

Bi Lestari melihat perubahan di wajahnya, lalu ikut menegang. “Apa?”

Nara tidak langsung menjawab. Ia membaca sekali lagi, lebih dekat, memastikan matanya tidak salah. Namanya memang ada di sana—bukan sebagai penonton, bukan sebagai pengantar map, melainkan sebagai bagian dari rangkaian yang menempel pada akun itu. Seolah seseorang, jauh sebelum malam ini, sudah menulis bahwa ketika Inggit kembali bergerak, Nara akan ikut terseret.

Raka mendekat satu langkah, suaranya jatuh menjadi bisik. “Ada apa?”

Nara menutup map itu pelan, terlalu pelan untuk orang yang baru saja melihat sesuatu yang bisa membalik hidup. Di luar jendela, suara motor melintas, lalu hilang di ujung gang. Rumah itu mendadak terasa lebih sempit. Meja makan, yang beberapa menit lalu cuma tempat piring dingin, sekarang seperti pusat perkara yang bisa meledak kalau ada satu orang saja membawanya keluar dari rumah.

Bi Lestari menatap Pak Hendra, lalu map plastik itu, lalu Nara. “Jangan sampai ini keluar sebelum fajar,” katanya.

Nara merasakan kalimat itu menutup seluruh ruangan. Kalau aib ini bocor, yang malu bukan cuma orang yang sudah mati. Yang malu adalah semua orang yang duduk di meja ini—dan paling cepat akan terlihat oleh dunia adalah wajah Nara, orang yang paling mudah diserahkan ke depan karena ia bukan pusat keluarga, tapi cukup dekat untuk dijadikan penyangga.

Di akhir malam pertama itu, Nara sadar nama Inggit bukan sekadar muncul di layar. Ada jejak proses hidup yang sedang berjalan sekarang, dan kalau itu bocor sebelum fajar, meja makan ini akan jadi sumber malu yang tak bisa dipelintir kembali. Dan yang paling buruk: tanda keterkaitan itu sudah menyeret namanya sendiri ke dalam beban yang selama ini ia kira hanya milik orang lain.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced