Novel

Chapter 12: Chapter 12

Di lantai penentuan terakhir sebelum penutupan Arena Uji Mek, Raka Suryana menghadapi timer 03:17 menit dengan sambungan kiri frame nyaris putus dan indikator ampun-ampunan di zona bahaya. Mira Valen membantunya memaksa log tempur rusak membuka modul pengalihan beban tersembunyi, memberikan lonjakan efisiensi gerak yang terlihat jelas di papan publik meski memperparah kerusakan frame. Damar Prakoso turun langsung dengan frame unggulan untuk mematahkan narasi Raka, tapi Raka memanfaatkan pola kiri-belah dan panel sekunder unit uji tua untuk membalik posisi, menjatuhkan Damar di depan ribuan saksi. Sera Wibisana mencoba menutup lantai secara prosedural, namun buffer siaran Mira sudah masuk arsip publik. Raka menyelesaikan uji dengan kemenangan publik yang sah, efisiensi naik hingga 94%, membuka opsi gerak baru sekaligus memaksa kota mengakui tangga menara yang lebih tinggi—namun sambungan frame-nya kini benar-benar kritis, meninggalkan ancaman lantai berikutnya yang jauh lebih berbahaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 12

Lampu merah di panel kiri frame Raka berkedip tanpa henti, seperti denyut luka yang tak mau sembuh. Indikator ampun-ampunan sudah mengunci di zona bahaya, sementara layar operator arena menampilkan hitungan tegas: SISA IZIN UJI PUBLIK: 03:17. Tiga menit tujuh belas detik sebelum sistem memutus sambungan, menyatakan frame-nya tak layak, dan menyeret Raka keluar sebagai pendaki yang gugur secara administratif.

Sambungan kiri frame-nya mengeluarkan bunyi seret setiap kali ia menggeser beban. Satu lompatan paksa lagi, dan rangka itu bisa patah di depan ribuan saksi. Bukan hanya badan yang hancur—jalurnya juga akan lenyap.

“Masih mau dipakai? Tenang, kami sudah menyiapkan penggantinya yang lebih sesuai,” suara Kepala Pengawas Sera Wibisana mengalun halus dari pengeras suara arena. Di balik kaca kontrol, wajahnya tenang seperti arsip yang sudah dirapikan rapi. Di bawahnya, platform logam lantai penentuan membentuk cincin siaran lebar, layar skor raksasa menggantung di atas kepala kerumunan. Nama Raka terpampang bukan sebagai pahlawan, melainkan masalah yang harus diselesaikan.

Di kolom kanan, nama Damar Prakoso baru saja muncul sebagai pendaki unggulan yang “siap mengamankan fase akhir”.

Raka menarik napas dalam, telapak tangan kanan frame-nya mengepal. Ia tak punya waktu untuk ragu. Dua menit tersisa sebelum penutupan paksa, dan sambungan kiri sudah menjerit tiap kali ia bergerak. Ia setengah masuk ke mulut port servis, satu tangan memegang bahu rangka, tangan lain membuka panel log tempur rusak yang Mira berikan.

Fragmen data berkelip lemah di dalamnya, seperti ikan mati di bak air keruh.

“Kalau kau salah buka sekarang, lengan kiri itu benar-benar putus,” kata Mira Valen yang muncul cepat di sisinya, tangannya masih berbau ozon dan oli bengkel. Ia menyodorkan tablet tipis. Layar kecil menampilkan peta keterkaitan antar lantai yang sudah ia kunci ke arsip publik—buffer yang tak bisa ditarik Sera tanpa terlihat memotong bukti sendiri.

“Aku tidak butuh aman,” jawab Raka pendek.

“Kau butuh bisa naik satu lantai lagi,” balas Mira tajam. Matanya turun ke log. “Modul tersembunyi ini tidak menambah tenaga. Ia memindahkan beban. Ke kiri, ke bawah, ke sasis sekunder. Tapi kalau panel sekunder terkunci, beban itu balik jadi hantaman langsung ke rangka utama.”

Artinya jelas: satu kesalahan, dan frame ini mati di depan kota.

Raka tidak menjawab. Ia memaksa log rusak lebih dalam, jarinya menyusuri pola kiri-belah yang sudah ia hafal dari babak sebelumnya. Tiba-tiba satu modul tersembunyi terbuka—bukan tambahan daya, melainkan jalur pengalihan baru. Efisiensi gerak naik tajam di layar publik, angka efisiensi melompat dari 67% menjadi 84% dalam hitungan detik. Kerumunan di tribun bergumam. Layar kota pelabuhan menyalin perubahan itu secara langsung.

Namun di panel pribadinya, indikator ampun-ampunan turun satu garis lagi. Biaya langsung terasa di sambungan kiri yang kini bergetar lebih keras.

“Bagus,” gumam Raka. “Sekarang aku punya satu serangan yang tak bisa mereka prediksi.”

Mira mengangguk singkat, tapi matanya gelap. “Kau menang dengan cara yang membuat arena semakin curiga. Log ini seharusnya sudah dimusnahkan bertahun-tahun lalu.”

Belum sempat Raka menjawab, langkah berat turun dari tribun unggulan. Damar Prakoso melangkah ke lantai penentuan dengan frame unggulan berlapis putih-hitam yang mengkilap di bawah sorot kamera. Bahu lebar, garis bodi mulus—semua dirancang untuk poster kota. Suaranya memenuhi arena lebih dulu.

“Cukup,” kata Damar dingin. “Kau sudah merusak cukup banyak data resmi kota.”

Ia tidak menyerang untuk menang saja. Ia datang untuk mematahkan narasi Raka di depan saksi terbanyak, membuktikan bahwa pendaki kelas bawah ini hanyalah kebetulan yang sebentar lagi hilang.

Raka memutar torso frame-nya, menahan seluruh beban di sisi kanan agar sambungan kiri tidak lepas. Di papan publik, namanya masih naik satu garis kecil—efisiensi terukur, naik jelas—tapi di bawahnya tanda kuning kerusakan struktural semakin tebal. Kota melihat keduanya sekaligus.

Mira dari ruang kontrol menahan akses panel penutupan dengan satu tangan sambil menyiarkan buffer log ke arsip publik dengan tangan lain. Layar-layar kecil di dinding arena langsung menyalin data: potongan log rusak, peta keterkaitan, dan jejak modul tersembunyi yang seharusnya tak pernah muncul.

Damar meluncur maju dengan gerakan cepat dan bersih, frame unggulannya menebas dari atas. Raka tidak mundur. Ia memicu modul baru dari log rusak—beban serangan dialihkan ke panel sekunder. Tubuh frame-nya bergeser ke kiri dengan sudut yang mustahil, sambungan kiri bergetar hebat tapi tidak patah. Tebasan Damar meleset, dan Raka membalas dengan irisan hemat energi yang tepat mengenai sambungan bahu lawan.

Frame Damar tersentak. Papan skor berubah: efisiensi Raka naik lagi menjadi 91%. Kerumunan mulai bersorak—bukan sorak sopan, tapi sorak yang mulai berbalik.

“Kau pakai apa sebenarnya?” bentak Damar, suaranya retak untuk pertama kali.

Raka tidak menjawab dengan kata. Ia memaksa pola kiri-belah lagi, membuka panel sekunder unit uji tua yang masih aktif di tengah arena. Panel dada unit tua terbuka seperti mulut besi kusam, memuntahkan gelombang energi yang seharusnya sudah dimatikan. Damar terpaksa menangkis, posisinya terganggu. Raka masuk dari sudut buta, sambungan kiri frame-nya menjerit tapi tetap bergerak. Satu hantaman tepat ke inti gerak Damar.

Frame unggulan Damar jatuh berlutut. Layar kota pelabuhan menampilkan angka akhir: Raka Suryana – Efisiensi Gerak: 94%. Kerusakan Struktural: Kritis.

Alarm penutupan belum berbunyi, tapi papan skor sudah merah di tiga sudut layar kota. Sera Wibisana muncul di layar komando, wajahnya masih tenang tapi rahangnya mengeras.

“Hentikan siaran tambahan. Tutup lantai ini sekarang. Raka Suryana dinyatakan cukup diuji.”

Kata “cukup” terdengar seperti cap stempel untuk membuang orang kecil.

Raka berdiri di tengah arena, sambungan kiri frame-nya tersentak-sentak, indikator ampun-ampunan berkedip kuning tua. Namun ia melihat garis peta yang disalin Mira: jalur kiri-belah dari log rusak itu menyambung ke node yang tadinya tertutup rapat. Bukan sekadar pola gerak. Ada irisan hemat daya yang membuka celah baru—opsi yang sebelumnya tak ada.

Ia mendorong pedal terakhir. Frame-nya terseret maju dengan bunyi logam serak. Panel sekunder unit uji tua terbuka lebar, memaksa inti geraknya telat setengah detik. Raka menebas tepat di celah itu. Unit tua ambruk dengan dentuman berat.

Layar kota bergemuruh. Nama Raka melompat naik di papan ranking resmi. Sorakan pecah di tribun—bukan sorak sopan untuk pendaki unggulan, melainkan sorak untuk orang yang seharusnya sudah dibuang.

Mira mengamankan buffer terakhir. Data log rusak, peta keterkaitan, dan jejak modul tersembunyi kini resmi masuk arsip publik, tak bisa lagi dibersihkan.

Sera Wibisana diam di layar, tapi matanya menunjukkan bahwa penutupan arena tak lagi cukup rapi.

Damar bangkit pelan, frame-nya rusak di bahu, wajahnya di balik visor pucat. Untuk pertama kali, ia melihat Raka bukan sebagai sampah bawah, melainkan ancaman yang nyata.

Raka menarik napas dalam di dalam kabin. Efisiensi geraknya naik tajam, opsi barunya terbuka lebar. Tapi sambungan kiri frame sudah di ambang mati, dan indikator ampun-ampunan tinggal satu garis lagi dari pemutusan total.

Di lantai penentuan, Raka bukan hanya membuktikan dirinya layak naik. Ia memaksa seluruh kota menerima bahwa tangga menara sudah lebih tinggi dari yang mereka akui. Namanya kini menjadi masalah yang tak bisa dibuang bersama arsip lama.

Dan di kejauhan, pintu lantai berikutnya yang baru terbuka berkedip pelan, memanggil dengan janji yang lebih mahal lagi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced