Chapter 6
Chapter 6 - Dipasang di Jalur Publik Terakhir
Alarm merah memotong ruangan verifikasi seperti sirene kapal yang mau karam. Di panel depan, status frame Raka berkedip di ambang pencabutan: legal tinggal satu napas, lalu arena berhak menarik unit itu dan menaruh namanya ke daftar sisa. Di layar skor publik kota, namanya belum jatuh—tapi garis bawahnya sudah memerah, dan angka reputasinya lebih rapuh daripada sambungan kiri frame yang barusan berderak pelan.
Raka berdiri di depan meja besi dengan helm di bawah ketiak, bahu kanannya masih menyimpan panas dari uji terakhir. Di sisi lain kaca, Damar Prakoso datang dengan langkah rapi yang terlalu bersih untuk orang yang masuk ke tempat penuh oli. Seragam tim unggulannya belum diberi debu. Wajahnya tetap tenang, bahkan nyaris ramah, tapi mata itu menilai Raka seperti barang yang sebentar lagi dilelang murah.
“Jalurnya tinggal satu,” kata Sera Wibisana dari balik podium verifikasi. Suaranya datar, resmi, dan justru karena itu terdengar lebih kejam. “Arena menutup dua hari lagi. Hasil lama dibekukan. Uji tim dipercepat. Kalau tidak lolos sekarang, frame kembali ke gudang bersama data yang tidak relevan.”
Tidak relevan. Itu cara pejabat mengubur orang hidup-hidup tanpa darah di lantai.
Raka menahan tatapannya di panel legal. Di sana, stempel kuning berkedip di samping nomor frame tua miliknya. Satu retakan di layar itu cukup untuk mengubah hidupnya jadi tumpukan suku cadang.
Mira Valen muncul dari sisi teknisi, membawa tablet log yang layarnya penuh garis hijau dan merah. Ia tidak menatap Sera dulu; ia menaruh tablet itu di meja, memutar agar Raka yang melihat lebih dulu. “Bukan cuma peta lantai,” katanya cepat. “Aku buka lapisan bawahnya. Log rusak ini nyambung antar lantai. Keterkaitan ritme serangan, jalur dorong, dan jeda kerja frame. Kalau kamu pakai pola itu, opsi gerakmu bukan sekadar efisien—kamu bisa masuk celah yang biasanya cuma terbuka buat frame unggulan.”
Raka menatap sebaris data yang dipagari peringatan merah. Ia tidak butuh semua istilah itu. Yang penting baginya jelas: ada jalan serang yang sebelumnya terkunci, dan jalan itu bisa menghemat daya kiri—kalau frame tua ini masih mau dipaksa.
“Buktinya?” tanya Damar, senyum tipis terbit di sudut mulutnya. “Atau ini sekadar cara teknisi mempertahankan mainan rongsok?”
Mira menatap balik, dingin. “Kalau kamu berani ikut pola yang sama, layar publik akan lihat sendiri.”
Sera mengangkat satu tangan, memotong. “Bagus. Kalau semua ingin membuktikan sesuatu, arena juga akan memperjelas syarat.” Ia menyentuh panel. Lampu di dinding menyala lebih terang. “Tim unggulan berikutnya dibuka sekarang. Damar memimpin jalur aman. Raka masuk sebagai penguji pembanding. Satu saksi resmi wajib berada di jalur. Tanpa itu, hasil tidak sah.”
Raka mendengar langkah kecil yang tak nyaman di dada. Saksi resmi bukan hadiah; itu jerat. Kalau ia menang tanpa mata yang tepat, kota bisa menyebutnya kebetulan, bukan kemampuan.
“Kenapa mendadak butuh saksi?” Raka bertanya.
Sera menoleh tipis. “Karena nama baik kota tidak diserahkan pada kebetulan.”
Damar hampir tertawa. “Atau karena kamu takut hasilmu diulang orang lain dan tetap kalah.”
Kata-kata itu tidak menyentuh Raka seperti yang diharapkan. Ia lebih terpaku pada angka yang melompat di panel: uji tim unggulan, tingkat tekanan naik satu tier, legal frame Raka turun lagi lima jam karena verifikasi tertunda. Lima jam. Lebih sedikit dari yang ia mau, lebih banyak dari yang ia punya.
Mira menyelipkan tablet ke tangannya secepat penjaga pasar malam yang menukar uang palsu dengan uang asli. “Baca baris ketiga. Jangan hentikan di pola langkah. Ada ritme putar yang cuma muncul kalau kamu masuk dari sisi kiri saat target mulai menutup sudut.”
Raka membaca sekali. Lalu sekali lagi. Di kepalanya, jalur itu berubah dari teori jadi opsi: hemat satu dorongan, potong satu putaran, paksa frame tua ini bergerak miring bukan lurus. Bukan lebih kuat. Lebih tepat.
Itu perubahan kecil. Dan perubahan kecil di arena seperti ini berarti nyawa.
Sera memberi isyarat ke petugas. “Masuk daftar. Sekarang.”
Damar melangkah ke terminal duluan, menaruh telapak tangannya dengan percaya diri. Nama unggulannya langsung terkunci di papan. Sorot lampu di atas menajam, memolesnya jadi wajah aman yang hendak dijual ke kota. Lalu giliran Raka.
Tangannya berhenti satu detik di atas pemindai.
Di luar kaca, layar publik beralih ke mode siaran tim. Nama Raka muncul di bawah Damar, sedikit lebih kecil, sedikit lebih rendah, tapi tetap di depan mata seluruh dermaga besi. Orang-orang di bangku penonton yang semula berisik mendadak diam, menunggu apakah frame kelas bawah itu akan dipermalukan atau memaksa papan skor berbohong lagi.
Raka menekan telapak tangannya ke pemindai.
Bip.
Status legal frame mengunci. Di pojok panel, tenggat turun lagi—bukan jam, tapi menit yang terasa seperti tinju. Sambungan kiri frame-nya ikut mengeluh lewat bunyi logam dari ruang servis di belakang kaca, dan indikator ampun-ampunan berkedip lebih keras dari sebelumnya. Namun di layar yang sama, bar efisiensi gerak juga naik satu tingkat kecil, resmi, tak terbantahkan. Layar kota membacanya keras-keras. Publik melihat gain itu. Publik juga melihat biayanya.
Mira menahan napas, lalu berkata sangat pelan, hanya untuk Raka: “Kalau kamu masuk jalur kiri sesuai log, kamu dapat celah. Tapi retaknya… akan kelihatan.”
Raka memandang frame tuanya di balik kaca. Ia merasakan pilihan itu seperti besi panas di lidah: maju dengan bukti, atau diam dan mati rapi.
Ia melangkah ke jalur uji tim.
Di atas kepala mereka, papan arena menyalakan pengumuman baru: syarat fase berikutnya dibuka. Menang tidak cukup. Harus menang sambil membawa saksi resmi. Kalau gagal, seluruh hasil Raka akan dianggap kebetulan tanpa nilai.
Chapter 6 - Pola Lama Dipaksa Keluar
Dua jam sebelum gerbang tim unggulan dikunci ulang, lampu jalur sorot publik sudah menyala seperti bilah pisau di atas cat kuning garam arena. Raka berdiri di garis start dengan frame tua yang masih membawa bekas retak dari uji sebelumnya; indikator ampun-ampunan di sisi kiri cockpit berkedip amber, setengah langkah lagi menuju merah. Di papan atas, namanya masih bergantung sebagai pendaki bawah yang dipaksa numpang napas di jalur orang lain.
Damar Prakoso melangkah paling depan, bersih seperti poster kota. Ia sengaja menahan timnya setengah detik lebih cepat agar kamera menangkap dirinya sebagai pemimpin yang rapi, bukan pemburu yang panik. “Kalau kalian ngikut tempo saya, kita selesai tanpa malu,” katanya, cukup keras untuk siaran.
Operator arena di menara kecil mengangkat tangan. Lonceng log berbunyi. Pintu fase pertama terbuka dengan suara baja basah. Jalur di depan bukan lorong lurus, tapi tiga lengkung sempit yang dipaksa arena untuk memecah formasi. Siapa pun yang masuk terburu-buru akan saling mengunci bahu frame. Tujuannya jelas: mempermalukan tim bawah dengan tempo yang tidak mereka sanggup beli.
Mira, dari balik panel teknisi, tidak menoleh ke layar utama. Ia menatap data yang baru ia pecah dari log rusak Raka—peta keterkaitan antar lantai, bukan sekadar pola langkah. Jarinya menekan layar kecil hingga garis-garis bercahaya muncul. “Ada simpul silang di lengkung kanan,” gumamnya ke mikrofon internal. “Bukan jebakan biasa. Itu pengulangan ritme dari lantai di atas. Kalau dia potong di titik buta, dia bisa hemat dorong tiga puluh persen.”
Raka tidak menjawab. Ia sudah melihatnya.
Bukan dengan mata, melainkan dari sisa log yang Mira sematkan ke display kotor di sudut cockpit: tanda tarikan yang ternyata berlanjut ke lantai berikutnya, sudut beban yang selalu membentuk jalur keluar yang sama. Bukan pola untuk bertahan; pola untuk menyeberang.
Damar memimpin lurus ke lengkung tengah, aman, bersih, dan lambat. Ia mengira arena akan menghukum semua yang mencoba pintar. Tapi ketika turret lantai rendah menembakkan baut paku ke arah formasi, Raka justru memotong setengah langkah ke kanan, menurunkan tumpuan pada sendi yang tampak rapuh di lantai kuning.
Frame tua itu menjerit. Sambungan kiri mengerang, tapi gerakannya berubah: bukan lari, melainkan lipatan pendek yang memanfaatkan pantulan lantai untuk menyelinap di bawah sudut tembak. Di papan publik, angka efisiensi Raka melonjak.
+7%.
Lalu +4% lagi saat ia memaksa putaran kedua lewat celah sempit yang tidak dipilih Damar.
Sorot penonton langsung pindah. Nama Raka memanjang di layar kota, membacanya keras-keras seperti tamparan: operator bawah dengan efisiensi naik di fase unggulan.
Mira mengangkat alis. “Itu bukan improvisasi,” katanya pelan. “Dia pakai simpul antar-lantai. Modulnya… aktif sebentar.”
Raka merasakan manfaatnya seketika: biaya dorong turun, sudut balik lebih tajam, dan frame tua itu tidak perlu memaksa seluruh massa untuk mengubah arah. Yang tadinya cuma cukup untuk satu lompatan, sekarang cukup untuk dua keputusan kecil yang lebih murah. Di menara seperti ini, dua keputusan kecil berarti selamat satu menit lebih lama.
Masalahnya, setiap keputusan murah masih dibayar dengan tubuh frame yang makin tipis.
Damar akhirnya menyadari celah itu dan mengubah ritme, memaksa timnya ke pola bersih: satu menutup, satu mengunci, satu dorong. “Jangan biarkan dia baca lantai,” suaranya dingin di siaran. “Dia cuma punya log sisa.”
Kalimat itu justru memberi Raka target.
Ia menahan serangan pertama, membiarkan baut paku Damar menghantam pelindung luar, lalu memutar tubuh frame setengah derajat—cukup untuk membuat gerakan berikutnya jatuh ke jalur yang sudah dibocorkan log rusak. Hantaman tim unggulan meleset satu meter. Satu meter itu mahal: mereka harus menggeser ulang, dan dalam arena, geser ulang berarti kehilangan tempo.
Papan skor menyala lagi.
Efisiensi Raka naik lagi secara publik.
Di ruang kontrol, Sera Wibisana langsung berdiri. “Bekukan hasil fase ini,” katanya tajam. “Catat anomali. Cari sumber log.”
Operator arena sempat ragu, tapi suara Sera tidak memberi ruang. Namun sebelum pembekuan merambat ke papan, fase pertama sudah dicap selesai oleh sistem siaran. Tim unggulan lolos.
Bukan mulus.
Bukan aman.
Damar lolos dengan rahang tegang, karena kamera menangkap satu detik goyah di manuvernya. Wajah aman yang dipasang kota tidak lagi tampak begitu aman.
Lalu bingkai cockpit Raka bergetar keras. Indikator ampun-ampunan turun satu tingkat penuh. Sambungan kiri—yang tadi hanya mengeluh—mulai menganga di bagian dalam, retakan tipis yang cuma akan kelihatan oleh teknisi dan penonton yang cukup jeli untuk tahu bedanya antara aus dan hancur.
Mira menahan napas saat garis retak itu muncul di data termal. “Kalau dia lanjut pakai pola itu, frame-nya makan dirinya sendiri.”
Raka menatap papan yang sekarang membuka fase berikutnya untuk pendaki unggulan. Di bawahnya, notifikasi baru menyala, dingin dan resmi: syarat lanjutan akan diumumkan setelah verifikasi saksi.
Damar, di jalur seberang, menoleh sekali ke arah Raka—bukan lagi remeh, melainkan waspada yang dipaksa keluar.
Arena belum selesai menekan. Malah baru mulai.
Chapter 6 - Saksi Resmi Ditarik ke Tengah Lantai
Alarm lantai transisi menjerit dua kali pendek—tanda sederhana di Arena Uji Mek bahwa pintu berikutnya sudah dibuka, tapi status Raka belum aman satu detik pun. Di layar koridor, namanya masih menyala di bawah cap merah: uji tim unggulan, satu jalur publik terakhir sebelum tenggat penutupan. Lebih buruk lagi, Sera Wibisana berdiri di ujung panel saksi dengan tangan terlipat, seolah anomali yang baru tercatat tadi malam bisa dikubur hanya dengan menambah satu lembar formulir.
“Mulai sekarang,” kata Sera lewat pengeras, suaranya datar dan bersih seperti kaca, “hasil operator Raka Suryana hanya sah jika ditandatangani saksi resmi yang hadir di jalur uji.”
Koridor itu langsung ramai. Beberapa pendaki unggulan saling pandang. Yang lain menahan senyum tipis—senyum orang yang melihat orang bawah dipaksa naik tangga sambil membawa batu sendiri.
Raka tidak menjawab. Ia merasakan frame tua itu berdengung di bahu kiri, tempat sambungan yang sejak uji sebelumnya sudah mulai ngeluh. Indikator ampun-ampunan di pojok tampilan internal berkedip kuning, lalu merah pucat, seperti napas yang dipaksa tinggal satu. Ia masih punya gerak. Masih punya satu kesempatan. Tapi sekarang kesempatan itu harus dilihat orang, disahkan orang, dan kalau perlu dipatahkan orang.
Damar Prakoso muncul di sisi lain koridor transisi, frame unggulannya bersih, lapisan luarnya masih memantulkan lampu arena seperti poster kota yang terlalu mahal. Ia menyapu Raka dengan tatapan singkat, lalu menaikkan suaranya agar semua saksi dengar.
“Kalau sistem harus menambah aturan di tengah jalan, berarti lonjakan kemarin memang aneh,” katanya. “Atau cuma kebetulan yang dibesar-besarkan teknisi.”
Mira, yang sejak tadi berdiri di dekat panel log dengan rambut diikat asal, menatap Damar tanpa berkedip. Di tangannya ada tablet arsip arena, layar dibelah tiga oleh grafik peta lantai yang baru ia tarik dari log rusak. Jalur antar lantai itu bukan garis langkah tempur—itu rangka hubungan. Satu lantai membuka lantai lain, satu pintu mempengaruhi ambang berikutnya. Dan di sudut data itu ada modul yang terkunci rapat, menunggu pola tertentu untuk hidup.
Ia mengangkat tablet ke arah Raka. “Bukan kebetulan,” katanya singkat. “Log rusak ini peta keterkaitan antar lantai. Kalau dia pakai pola yang benar, dia bukan cuma hemat tenaga—dia bisa masuk sudut yang belum dibaca sistem.”
Sera menoleh tajam. “Mira Valen, kau menandatangani pembacaan itu?”
Mira ragu setengah detik. Cukup lama untuk membuat kariernya berisiko. Cukup singkat untuk tetap berarti keputusan. Ia melangkah ke panel saksi, memasukkan ID teknisnya, lalu menempelkan tanda tangan digital di bawah pembacaan log.
“Sebagai saksi teknis,” katanya. “Bukan pengurus kabel.”
Tanda itu menyala hijau di layar. Nama Raka ikut terkunci ke data.
Semuanya berubah.
Siaran publik di dinding arena menampilkan dua hal sekaligus: efisiensi gerak Raka naik lagi, dan sambungan kiri frame turun ke zona waspada. Penonton di galeri atas bisa membaca keduanya. Mereka bersorak untuk angka yang naik, lalu mendesis saat ikon retak kecil muncul di kiri bawah unit.
Raka masuk lantai uji berikutnya dengan dua beban: reputasi dan saksi.
Pintu terbuka. Arena menurunkan tiga frame unggulan sekaligus—bagian dari uji tim yang baru diumumkan, tekanan tier baru yang langsung mengunyah ruang. Damar bergerak paling dulu, cepat dan rapi, mencoba mengambil gambar aman untuk siaran. Tetapi pola dari log rusak sudah ada di kepala Raka: bukan maju lurus, melainkan memotong ambang, memaksa musuh menutup celah yang salah.
Ia menyalakan dorongan pendek. Frame-nya melintas serong, menahan guncangan lebih lama dari yang semestinya. Satu serangan Damar lewat kosong. Sorak publik pecah, lalu mendadak bergeser jadi bunyi tak nyaman ketika Raka membalas dengan sudut hemat energi yang memaksa frame unggulan lain saling menghalangi.
Efisien. Cepat. Terbaca di papan skor.
Lalu bunyi retak itu muncul.
Bukan patah besar. Bukan ledakan. Hanya suara kecil di sambungan kiri, cukup halus untuk dilewatkan penonton biasa—cukup jelas untuk Mira yang langsung menegakkan badan, dan untuk beberapa penonton jeli yang mendadak berhenti bernapas. Indikator ampun-ampunan melonjak satu tingkat, lalu stabil dengan enggan.
Sera melihatnya juga. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya mengeras tipis.
Damar menekan lagi, memaksakan narasi aman itu hidup. Tetapi pola yang sama sudah membongkar ritmenya. Raka membaca celah, menggeser beban, dan untuk sesaat menaikkan opsi yang belum dimiliki frame tua mana pun di lantai itu: putaran pendek yang membuatnya bisa menahan tumbukan sambil tetap maju.
Itu kemenangan kecil. Terlihat. Sah. Mahal.
Mira hampir berseru saat modul tersembunyi di log memberi respons singkat—seperti pintu yang baru cukup terbuka untuk mengajari tubuh Raka satu gerakan baru. Namun gerakan tambahan itu juga memperbesar tekanan pada sambungan kiri. Retakan terlihat, lalu hilang, lalu muncul lagi di titik yang sama ketika frame menapak keras.
Arena menangkap semuanya.
Layar besar menyalakan peringatan baru di bawah nama Raka: HASIL AKAN DIANGGAP BERLAKU JIKA DITANDATANGANI SAKSI RESMI DI JALUR UJI.
Sera mengambil mikrofon tanpa menaikkan suara. “Mulai babak ini, tidak ada hasil tanpa saksi yang tetap di jalur.” Tatapannya menahan Raka. “Kalau kau ingin nilaimu dicatat, bawa satu saksi sampai akhir. Kalau tidak, kemenanganmu akan dianggap kebetulan tanpa nilai.”
Raka menoleh ke Mira. Bukan minta belas kasihan. Minta bukti.
Dan di lantai yang baru dibuka itu, dengan Damar masih berdiri di seberang sebagai wajah aman kota dan frame Raka mulai retak di titik yang hanya bisa dibaca teknisi, Raka sadar satu hal: kemenangan berikutnya tidak cukup diraih. Ia harus disaksikan, disahkan, dan tetap hidup sampai garis akhir.
Lantai Baru, Retak Baru
Pintu fase lanjutan baru saja turun setengah meter ketika alarm merah di langit-langit Arena Uji Mek menyala lagi. Raka masih di dalam frame tua yang sambungan kirinya panas seperti besi dimasak, indikator ampun-ampunan di panel dada berkedip kuning, dan di layar publik nama Damar Prakoso baru saja dipasang di sisi lawan—wajah bersih kota, frame unggulan, skor aman, lengkap dengan logo sponsor yang sengaja ditonjolkan agar orang lupa pada Raka.
“Ini uji tim, bukan pertunjukan sisa,” kata Sera Wibisana lewat pengeras suara. Suaranya tenang, terlalu tenang. “Pendaki yang lolos wajib membawa saksi resmi ke titik akhir. Tanpa itu, hasil dianggap tidak sah.”
Di sisi arena, Mira berdiri di balik panel teknisi, satu tangan masih di meja log, mata tajam menempel pada grafik yang baru saja ia buka dari file rusak itu. Ia tidak menatap Raka; ia menatap peta. Garis-garisnya bukan jalur langkah. Itu peta keterkaitan antar lantai—simpul-simpul yang membuka pintu lain kalau satu lantai dipaksa melampaui pola normal.
“Lantai ini bukan jebakan biasa,” ujar Mira cepat melalui kanal pribadi yang bocor setengah detik ke interkom Raka. “Dia minta sambungan kiri gagal. Tapi kalau kamu masuk dari sudut dalam, kamu bisa memotong dua beban sekaligus. Ada modul lama di log itu—pengunci gerak samping. Bukan buat cepat. Buat aman.”
Aman. Kata itu hampir lucu dengan frame yang berderit tiap napas hidrolik.
Raka menekan tuas, melihat board-state di kaca arena: satu jalur publik terakhir sebelum tenggat penutupan, satu kemenangan lagi untuk mempertahankan legalitas, lalu semua bisa disapu data. Kalau ia kalah sekarang, bukan cuma frame-nya yang hilang. Namanya juga bisa dipurgaikan jadi angka acak di laporan penutupan.
Damar bergerak lebih dulu. Frame unggulannya melesat lurus, bersih, seperti poster hidup. Serangannya sengaja memaksa sisi kiri Raka menerima beban penuh. Publikum bersorak karena itu terlihat seperti penyerbuan yang benar. Sera memanfaatkan momen itu—panel arena menaikkan pencahayaan pada Damar, menurunkan kontras pada Raka, seolah memihak tak penting. Kota suka cerita yang rapi.
Raka tidak menahan dengan cara lama.
Ia mengaktifkan modul dari log rusak itu.
Bukan ledakan. Bukan loncatan spektakuler. Hanya perubahan kecil yang langsung mengubah opsi: sudut pinggul frame terkunci dua derajat ke dalam, beban putar berpindah ke sumbu tengah, dan gerak samping yang tadi memaksa sambungan kiri merobek dirinya sendiri mendadak mengalir lewat tulang punggung frame. Di layar kecil dekat visor, efisiensi geraknya naik satu lagi—angka itu muncul jelas, dingin, publik.
Sorak di tribun tersendat.
Raka menyelinap di bawah tebasan Damar, menempel ke blind spot yang dibuka oleh pola lantai. Sekali dorong, satu pilar energi lawan retak. Sekali putar, ia membalik posisi tim menjadi tekanan balik. Kemenangan kecil; mahal, tapi nyata. Panel skor menyala hijau singkat di namanya, lalu langsung menggila ketika sambungan kiri mengeluarkan bunyi logam patah yang bisa didengar sampai kursi teknisi.
Mira menahan napas. “Jangan paksa lagi. Retaknya sudah masuk ke rangka pengikat.”
Raka sudah merasakannya. Setiap gerakan tambahan membuat tubuh frame seperti menolak nama yang dipaksakan orang lain padanya. Tapi ia juga melihat jalan yang dibuka log: kalau ia berhenti, Damar akan memotong jalur saksi, dan Sera bisa menutup hasil dengan alasan prosedur.
Maka ia maju.
Satu langkah. Dua sudut. Satu hentakan yang menghabiskan sisa cadangan energi untuk memaksa frame menekan Damar ke dinding fase. Penonton melihat serangan. Teknisi melihat biaya. Di panel bawah, indikator ampun-ampunan turun satu tingkat lagi, mendekati batas merah.
Damar goyah—bukan jatuh, tapi cukup untuk pertama kalinya terlihat kalah ritme. Wajah aman kota itu mengeras. Ia mencoba balas menembak dari jarak dekat, namun pola baru Raka memaksa semua serangan masuk ke jalur yang sudah dihitung dari peta antar lantai. Damar terpaksa mundur satu meter, dan sorakan yang tadi miliknya berbelok jadi ragu.
Sera akhirnya memotong siaran.
“Cukup.”
Tak ada yang berhenti.
Arena justru membuka dinding samping fase, menampilkan ruang berikutnya: lintasan saksi resmi, tempat seorang pendamping harus ikut masuk agar hasil sah. Layar besar memproyeksikan syarat itu dalam huruf putih tajam: menang harus disaksikan langsung. Tanpa saksi resmi, semua efisiensi, semua lonjakan, semua skor bisa dianggap kebetulan tanpa nilai.
Itu pukulan yang lebih dingin daripada serangan Damar.
Mira menatap Raka, lalu panel, lalu ke Sera yang mulai memerintahkan staf untuk menutup arsip sementara. Ia tahu sekarang mereka tidak hanya bertarung soal lantai. Mereka bertarung soal siapa yang berhak mencatat kemenangan.
Dan di frame Raka, sambungan kiri akhirnya memercik, retak halus menjalar ke bawah pelindung luar—baru terlihat jelas oleh teknisi dan penonton yang jeli, bukan oleh mata awam yang cuma mau hasil cepat. Raka menang satu langkah lagi dari log rusak itu, tapi tiap gerakan tambahan kini menuliskan harga baru di badan frame yang nyaris tak sanggup berdusta lagi.