Novel

Chapter 3: The Price of Advancement

Raka mempertahankan kemenangan publiknya saat Sera mengaktifkan verifikasi ulang untuk mendinginkan sorotannya. Mira membuktikan lewat data teknis bahwa lonjakan Raka berasal dari pola gerak nyata, bukan manipulasi, sehingga papan publik mempertahankan namanya sebagai sorotan anomali. Di akhir scene, Raka dipaksa masuk ke verifikasi lanjutan yang lebih sempit dan lebih berbahaya, sementara Mira menyelipkan chip berisi potongan log tersembunyi yang mulai mengungkap cara lantai-lantai menara saling mengunci. Raka bertahan di ruang uji lanjutan yang lebih sempit dan memaksa efisiensi gerak dari log rusak berubah jadi keuntungan publik. Skor dan reputasinya naik di layar kota, tetapi kerusakan sambungan kiri ikut mengancam unit. Sera segera memerintahkan verifikasi ulang, Damar menyerang lewat siaran, dan Mira menyelipkan potongan log tambahan yang menunjukkan Raka sedang memetakan keterkaitan lantai-lantai menara. Raka menghadapi serangan reputasi Damar di siaran publik, lalu memanfaatkan pola tersembunyi dari log tempur rusak untuk menang secara nyata di ruang uji sempit. Namanya naik di papan skor dan dibaca keras oleh sistem kota, tetapi kerusakan sambungan kiri ikut memburuk. Sera segera memerintahkan verifikasi ulang dan pembekuan hasil karena data itu membuat jalur promosi resmi terlihat busuk. Mira menyelipkan potongan log tersembunyi yang mengungkap bahwa Raka sedang memetakan keterkaitan antar lantai menara, membuka tekanan tier berikutnya. Raka memenangkan uji publik lanjutan di depan penonton dan layar kota, namanya akhirnya dibaca keras di papan skor, tetapi kerusakan sambungan kiri dan indikator ampun-ampunan merah membuat kemenangannya langsung berubah jadi ancaman resmi. Sera memerintahkan verifikasi ulang dan pembekuan hasil karena data itu membuka kebusukan jalur promosi, sementara Damar kehilangan kendali atas sorotan. Mira menemukan potongan log tersembunyi yang menunjukkan Raka sedang memetakan cara lantai-lantai menara saling mengunci, membuka tekanan tier berikutnya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Price of Advancement

Verifikasi Ulang di Depan Semua Mata

Alarm verifikasi ulang menjerit tepat setelah nama Raka naik satu tingkat di papan skor raksasa. Jalur keluar arena mengunci. Lampu merah menyapu lantai uji. Di layar kota yang tergantung di alun-alun pelabuhan, wajahnya—basah keringat, helm retak, frame kiri berbau panas—terbaca keras untuk pertama kalinya.

"Peserta anomali, tahan posisi," suara sistem menggema dari seluruh tribun.

Raka tidak mundur. Kalau ia mundur, hasil tadi bisa dibekukan, lalu dipurgaikan bersama data sampah lain saat penutupan arena dua hari lagi. Satu uji publik tersisa. Satu hasil yang harus hidup di depan saksi. Kaki frame-nya bergetar halus, sambungan kiri masih menyala kuning di indikator ampun-ampunan. Ia merasakan efek modul langkah pendek dari log tempur rusak itu: dorongan pendek, hemat tenaga, tapi setiap hentakan salah sekarang akan memakan engsel.

Di tribun, Damar Prakoso maju setengah langkah, senyum tipisnya ditangkap kamera siaran.

"Hebat," katanya dengan suara yang sengaja diproyeksikan ke publik. "Operator bawah bisa terlihat cepat kalau lawannya sudah disetel lemah. Verifikasi saja. Kalau datanya bersih, kenapa panik?"

Desis penonton langsung naik. Itu yang Damar mau: bukan serangan, tapi keraguan. Reputasi lebih gampang dipatahkan lewat tanya daripada pukulan.

Raka menatap papan skor. Angkanya belum turun, tapi status di samping namanya sudah berkedip: ANOMALI / TUNDA PENGESAHAN. Satu kata itu saja cukup untuk mengubur orang kecil.

Di bilik pengawas, Kepala Pengawas Sera Wibisana muncul di layar, tenang seperti batu dermaga.

"Uji ulang jalur dua," perintahnya. "Catatan efisiensi terlalu jauh dari baseline frame yang tersisa. Saya tidak akan mengesahkan lonjakan yang belum bersih."

Nada itu rapi. Terlalu rapi. Raka tahu artinya: jika ia kalah di verifikasi, namanya hilang dari papan, status legal frame ikut habis, dan frame-nya bisa ditarik sebelum malam turun.

Mira Valen sudah berdiri di sisi panel teknis, wajahnya pucat tapi matanya tajam. Ia tidak membantah Sera dengan emosi; ia menancapkan tangan ke konsol, membuka ulang log yang tadi nyaris dibuang sistem.

"Baseline yang Anda pakai sudah usang," katanya datar. "Frame ini sebelumnya dipakai dalam konfigurasi lain. Log tempurnya rusak, iya. Justru karena rusak, pola geraknya kelihatan."

Sera memiringkan kepala. "Katakan intinya, Valen."

Mira menekan satu baris data ke layar publik. Garis-garis hijau dan merah muncul, sederhana, telanjang, tak bisa dipoles. Langkah Raka pada uji tadi tidak sekadar lebih cepat. Ia memotong beban sambungan kiri di sudut yang sama berulang kali, memaksa tubuh frame berhenti membuang energi pada koreksi kecil. Itu sebabnya efisiensinya melonjak. Dan itu juga sebabnya indikator kerusakan di sisi kiri naik lebih cepat dari semestinya.

Bukan sihir. Bukan keberuntungan. Pilihan.

Penonton melihat grafik itu. Mereka bisa membaca sendiri bahwa Raka menang bukan karena sistem memberinya jalan, tapi karena ia menemukan jalur yang tidak disediakan arena.

Sera diam setengah detik—cukup lama untuk terlihat terganggu.

Damar tidak memberi ruang.

"Atau," katanya, suaranya naik seperti potongan iklan, "log rusaknya dipakai untuk menyamarkan performa. Jika begitu, ini bukan pendaki baru yang hebat. Ini pendaki yang memalsukan efisiensi di depan penutupan arena."

Sorakan bercampur teriakan. Di layar kota, nama Raka tetap menyala, tapi statusnya bergeser: PESERTA BERKELANJUTAN -> SOROTAN ANOMALI. Papan skor tidak menurunkan namanya. Itu kemenangan kecil. Tapi papan sebelahnya, yang hanya bisa dilihat petugas dan teknisi, membuka satu garis baru yang tidak ada di daftar awal: LANTAI UJI LANJUTAN / AKSES KHUSUS VERIFIKASI.

Raka menangkap perubahan itu lebih cepat daripada rasa sakit di lengan frame-nya. Lantai berikutnya bukan hadiah. Itu jebakan yang lebih sempit, lebih keras, dan lebih mahal. Ceilng-nya naik; ruang napasnya menyusut.

"Kamu mau dia diuji ulang sekarang?" suara Mira pendek, nyaris tanpa gerak bibir.

Raka mengangguk sekali. Kalau ia menolak, Sera punya alasan untuk menutup semuanya. Kalau ia masuk, ia mempertaruhkan sambungan kiri yang sudah retak.

Pintu bawah arena terbuka dengan bunyi logam berat. Ruang verifikasi di baliknya sempit, dindingnya dipasang sensor kedekatan, dan lampu di atas jalur masuk berdenyut seperti denyut nadi yang terlalu cepat. Sera mengangkat tangan.

"Verifikasi ulang. Sekarang. Dan bila data itu busuk, nama Suryana saya cabut dari papan sebelum siaran tutup."

Di saat frame Raka hampir dipindah paksa, Mira menyelipkan satu chip tipis ke telapak tangannya melalui celah panel servis. Kerenyit kecil di matanya cukup untuk memberi tahu: ada bagian log yang disembunyikan.

Raka menggenggamnya.

Di balik derit rel penarik, layar kecil di dalam chip menyala singkat: bukan sekadar pola langkah. Itu peta pintu-pintu antar lantai—cara satu level mengunci level lain, cara menara menahan pendaki yang mulai paham urutannya.

Nama Raka masih bertahan di papan publik.

Dan sekarang, untuk semua orang, ia bukan lagi peserta biasa. Ia sorotan anomali yang harus dibedah di depan kota.

Bab 3 — Harga Kemajuan: Pintu Lanjutan yang Tidak Seharusnya Ada

Pintu ruang uji lanjutan menutup di belakang frame Raka dengan bunyi besi yang terlalu cepat, seolah arena takut ada orang luar sempat melihat apa yang baru mereka siapkan. Di depan, lorong sempit berlapis pelat panas memanjang seperti tenggorokan mesin. Sensor-sensor merah di dinding menyala satu per satu, dan di layar kecil di dalam kokpit, sambungan kiri frame masih berkedip kuning—ingatannya dari kemenangan tadi belum dingin, tetapi indikator ampun-ampunan sudah naik satu strip lebih dekat ke merah.

"Cepat masuk. Sistem nggak suka jeda," suara Mira pecah di kanal servis, pendek dan tegang.

Raka menekan joystick. Frame-nya melangkah, lalu hampir terseret ke samping saat lantai di bawah kaki kanan menahan lebih keras daripada kiri. Ia langsung paham: lantai ini bukan sekadar sempit, tapi miring halus, memaksa beban jatuh ke titik tertentu. Bukan ujian tenaga. Ujian kebiasaan.

Di layar sisi arena, angka publik melompat lagi ketika namanya tetap nongol di posisi atas sementara peserta lain tertahan di bawah grid pembanding. Penonton di tribun kaca mulai bersuara, dan kamera kota menempel ke tiap gerakan. Raka tidak punya ruang untuk salah.

Ia mengingat potongan log rusak yang Mira selipkan ke panel diagnostik sebelum pintu dibuka. Bukan penjelasan panjang—hanya pola. Langkah pendek, geser dua derajat, tahan putaran, jangan memaksa dorong lurus. Di lantai biasa itu akan terlihat seperti gaya jelek. Di sini, itu jadi hemat energi.

Damar Prakoso muncul di layar komando samping, senyum tipis di bawah rambut rapi yang terlalu bersih untuk orang yang bekerja di arena basah seperti ini.

"Masih hidup?" Damar berkata, suaranya masuk ke siaran publik dengan sengaja. "Hebat. Tapi ruangan ini bukan tempat buat operator sisa-sisa."

Sorakan naik. Ada yang tertawa. Ada yang menunggu Raka gagal.

Raka tidak menjawab. Ia menggeser frame setengah langkah, lalu memotong sudut dengan langkah pendek dari log. Lantai yang tadi menekan lutut frame-nya malah berubah jadi rel. Beban sambungan kiri turun; indikator konsumsi daya jatuh sedikit. Bukan besar, tapi jelas. Pada papan servis, angka efisiensi gerak Raka naik satu poin lagi. Penonton melihatnya karena lompatan itu muncul di layar utama: jarak tempuh sama, energi lebih hemat, waktu lebih cepat.

Namun ruang itu membalas.

Dari sisi lorong, panel keamanan mengeluarkan lengan penahan. Mereka bukan lawan tempur penuh—lebih buruk: mereka alat arena yang diprogram untuk menguji stabilitas. Lengan pertama menghantam bahu frame. Raka memutar badan, bukan mundur. Ia memakai bantingan kecil yang didapat dari log rusak, memindahkan beban ke pinggul frame. Logam berderit. Sambungan kiri menjerit, tetapi tidak patah.

"Itu bukan gerakan standar," Mira berbisik, lebih ke dirinya sendiri, namun kanalnya masih terbuka.

Raka melihat celah. Lengan penahan berikutnya datang dari atas. Ia melangkah pendek, menempel ke dinding panas, dan menggunakan dorongan balik untuk memotong bawah serangan. Satu pelat sensor pecah, memercikkan percikan putih ke lorong. Di papan skor, garis namanya naik lagi. Bukan karena gaya—karena ia bertahan lebih lama dengan biaya lebih kecil daripada prediksi sistem.

"Nama target: Raka Suryana. Efisiensi luar biasa," suara komentator arena, yang barusan terdengar skeptis, berubah lebih hati-hati. "Namun kerusakan sambungan kiri juga meningkat tajam."

Itu yang langsung terasa. Bukan pujian. Peringatan.

Sera Wibisana tidak menunggu lebih lama. Suaranya memotong siaran seperti stempel di kertas basah. "Verifikasi ulang. Sekarang. Pindahkan data mentah ke arsip tertutup. Unit Raka masuk evaluasi risiko."

Papan publik sempat diam setengah detik, lalu angka di bawah nama Raka berkedip kuning. Bukan turun. Ditandai.

Damar tertawa pelan di kanal terbuka. "Akhirnya. Orang kecilnya bikin panik pejabat."

Raka ingin menekan lebih keras, tapi lantai depan membuka ke ruang lanjutan yang lebih sempit lagi, dan di atas pintu itu—baru muncul setelah kemenangan kecilnya—ada papan baru yang tidak tercantum di daftar awal: Tier Uji Kedua. Akses prioritas. Penguncian seleksi. Hanya untuk kandidat berbahaya.

Jadi kemenangan ini bukan penutup. Ini undangan paksa.

Pintu bergerak sebelum ia bisa memprotes. Lengan mekanis di sisi lorong menahan frame-nya, seolah arena hendak memindahkannya paksa ke ruang berikutnya. Pada saat yang sama, Mira menyelinapkan paket data kecil lewat jalur servis—sepotong log yang seharusnya sudah dipurgaikan.

"Jangan bilang aku kasih kau ini," katanya.

Raka membuka tampilan internal sepersekian detik. Di dalam data yang rusak itu, ada baris yang membuat napasnya tertahan: bukan cuma pola gerak. Ada peta hubungan antar lantai. Jalur sempit, pengunci tekanan, pola beban yang saling mengunci. Menara ini bukan kumpulan ruang acak. Ia sedang dipetakan.

Dan seseorang di bawahnya baru saja sadar Raka membaca peta itu.

Di layar kota, namanya akhirnya dibaca keras oleh sistem. Lalu di bawahnya muncul lampu merah verifikasi ulang, menempel seperti cap aib pada papan skor yang barusan naik.

Di depan penonton dan layar kota, Raka memaksa papan skor naik—namanya akhirnya dibaca keras—namun Sera memerintahkan verifikasi ulang karena data itu membuat jalur promosi resmi terlihat busuk.

Harga untuk Tetap Berdiri

Tiga jam sebelum penutupan Arena Uji Mek, Raka sudah berdiri di mulut panel siaran dengan sambungan kiri frame yang bergetar tiap kali dia menahan napas. Indikator ampun-ampunan di dadanya menyala kuning, lalu sesekali merah pendek—peringatan yang berarti satu hal saja: kalau ia memaksa terlalu keras, sistem akan mematikan unitnya sebelum lawan selesai menghukumnya.

Di layar kota alun-alun pelabuhan, namanya masih berada di bawah Damar Prakoso, terpaut dua peringkat. Di kolom catatan resmi, kerusakan sambungan kiri juga sudah tercantum. Bukan rahasia. Bukan juga kebanggaan. Di kota ini, semua yang terlihat jadi senjata.

Damar masuk ke jalur siaran dengan frame putih-abu yang mulus seperti poster. Gerakannya sengaja ringan, aman, fotogenik. Saat suara komentator menguat, Damar mengangkat tangan seolah sedang menyapa warga yang hanya datang untuk melihat pemenang yang pantas.

“Kalau masih bisa berdiri, itu bukan bukti kemampuan,” katanya, suaranya masuk ke semua pengeras. “Kadang itu cuma sisa keberuntungan dari frame buangan.”

Tawa tipis menyapu tribun. Beberapa penonton mengarah ke Raka, menunggu dia runtuh dengan gaya yang layak ditertawakan.

Raka tidak menjawab. Ia menekan telapak tangan ke kendali kiri. Di sudut pandangnya, Mira berdiri di balik kaca teknisi, wajahnya datar tapi matanya bergerak cepat ke papan log. Dia mengangkat dua jari, lalu menutup satu—isyarat yang pernah ia pakai waktu mengirim log rusak itu: jangan pakai langkah panjang; pakai potongan ritme.

Pintu lantai uji berikutnya terbuka. Bukan arena yang lapang. Ruangan ini sempit, dindingnya berlapis rel magnetik, dan di tengahnya ada lengan penjepit otomatis yang bergerak seperti rahang. Uji ini bukan soal menyalip; ini soal memotong jalur lawan di ruang yang tak memberi maaf.

Mira berbisik lewat saluran teknisi yang bocor ke audio siaran. “Panel baru dibuka setelah nama kamu naik. Itu bukan bonus, Rak. Itu respons sistem.”

Artinya jelas: kemenangan tadi membuat mereka dipaksa melihatnya, dan sekarang menara menaikkan pagar.

Lampu hijau menyala. Damar lebih dulu melesat, frame-nya menekuk masuk lewat celah penjepit dengan sudut bersih. Gerak aman. Gerak yang disukai orang-orang yang mau acara selesai rapi.

Raka mengunci napas. Ia tidak memakai langkah pendek itu penuh; sambungan kirinya belum sanggup menanggung ulang beban lama. Ia mencubit satu potongan pola dari log tempur rusak—bukan sebagai kecepatan, tapi sebagai pengalihan beban. Kakinya memotong dua derajat lebih tajam dari seharusnya, lalu tubuh frame-nya menabrak bayang penjepit pada saat yang tepat. Lengan logam itu menutup ke arah kosong, bukan ke dadanya.

Di layar indikator, efisiensi gerak naik. Beban sambungan kiri turun sepersekian detik. Lalu kerusakan di garis yang sama merayap lebih dalam.

Raka memanfaatkan celah itu. Satu dorongan, satu putaran bahu, satu tusukan pendek ke sambungan pinggir frame Damar. Bukan serangan indah—serangan murah. Damar terpental setengah putaran dan menghantam rel magnetik. Skor di panel arena melonjak.

Kali ini seluruh alun-alun melihat.

“Raka Suryana!” suara sistem baca otomatis membelah udara.

Sorak meledak, bukan karena mereka mencintainya, tapi karena papan skor bergerak. Itu cukup untuk memberi nama rasa. Cukup untuk membuat orang menoleh dua kali.

Damar bangkit cepat, tapi sorotannya sudah robek. Ia mencoba tersenyum ke kamera, menutup malu dengan gaya.

“Masih kebetulan,” katanya keras.

Namun papan skor tidak peduli pada kalimat yang rapi.

Nama Raka naik satu garis lagi, melewati batas yang sebelumnya dijaga Damar. Angka reputasinya menyala di layar kota, dibaca keras oleh sistem publik, lalu diulang oleh komentator dengan nada yang mulai gugup. Di tribun, beberapa orang berdiri. Yang lain buru-buru merekam.

Di ruang kontrol, Sera Wibisana tidak berteriak. Itu justru lebih buruk. Ia menatap monitor seolah sedang menghitung kerusakan pada rencana pribadinya.

“Verifikasi ulang,” katanya dingin ke panel. “Ambil semua log. Cocokkan gerak. Cocokkan frame. Jangan biarkan hasil ini masuk arsip final sebelum dicek ulang.”

Petugas di sampingnya ragu sepersekian detik. Sera menoleh, dan ragu itu habis.

Mira langsung memiringkan badan ke terminal cadangan. Ia tidak menunggu izin. Jari-jarinya bekerja cepat, terlalu cepat untuk orang yang katanya hanya teknisi. Raka menangkap kilatan di layarnya: ada bagian log yang disembunyikan, dipotong dari paket siaran utama. Kolom itu penuh pola penguncian lantai—bukan cuma untuk uji ini, tapi urutan pintu di atasnya.

Saat frame-nya hampir ditarik keluar untuk pemeriksaan paksa, Mira menyelipkan chip tipis ke palang servis yang lewat dekat kokpit. Benda itu jatuh ke telapak tangan Raka tanpa suara.

“Jangan tunjukkan ke mereka,” katanya singkat.

Raka menggenggam chip itu. Di dalamnya, potongan log yang tersembunyi memuat garis-garis jalur antar lantai. Bukan jalur lurus. Jalur yang saling mengunci.

Dan itu mengubah semuanya: kemenangan tadi bukan hanya membuat namanya dibaca keras. Itu membuktikan ada tangga yang lebih tinggi—dan menara sudah menutup satu pintu sambil membuka pintu lain yang jauh lebih mahal.

Di luar, sorak penonton masih berputar di atas namanya. Di dalam, Sera sudah memerintahkan pembekuan hasil. Damar kehilangan panggungnya. Dan Raka, dengan sambungan kiri yang makin rapuh, baru sadar bahwa ia tidak sekadar selamat.

Ia sedang dipaksa memetakan cara lantai-lantai menara saling mengunci.

Bab 3 - The Price of Advancement

Papan skor baru saja menyebut nama Raka sekali, keras dan jelas, ketika frame-nya dihentak ke rel verifikasi dan sambungan kiri berderit seperti mau patah. Lampu merah di indikator ampun-ampunan masih menyala; satu langkah salah, dan status legal frame itu habis sebelum tenggat Arena Uji Mek selesai dua hari lagi.

“Lepaskan dia,” kata Sera Wibisana dari podium panel, suaranya tenang tapi dingin. “Data anomali. Verifikasi ulang. Jalur promosi resmi tidak boleh diputus oleh satu kemenangan kotor.”

Di layar kota, angka Raka masih berkedip di bawah nama Damar Prakoso yang tertahan satu tingkat di atasnya—untuk pertama kali, sorot publik tidak memihak wajah bersih itu. Damar tersenyum tipis ke kamera, seolah masih punya kendali. “Satu kali keberuntungan tidak membuat sampah bawah jadi layak naik,” katanya, cukup keras untuk disiarkan.

Raka tidak menjawab. Ia sedang menghitung bunyi frame-nya sendiri. Sambungan kiri yang cedera masih bisa menahan, tapi tidak untuk dipaksa lama. Selisihnya kecil: satu uji publik terakhir untuk mempertahankan status legal, lalu frame itu bisa ditarik dan namanya dipotong dari papan kota. Ia mengangkat lengan kanan, memberi tekanan pendek pada rangka—tepat seperti pola di log rusak yang Mira selipkan padanya.

Gerak itu bukan gaya. Itu hemat. Frame menekuk di sudut yang seharusnya membuang tenaga, lalu menggeser berat ke kaki kanan sebelum lawan uji di hadapannya sempat mengunci jarak. Di layar kecil dekat panel, angka konsumsi energi turun. Efisiensi naik. Public board di belakang penonton menyala hijau tipis.

Raka menabrak lawan uji itu bukan dengan dorongan penuh, melainkan dengan belokan pendek yang nyaris tidak terlihat. Bahu frame lawan terbuka. Satu serangan tunggal, bersih, lalu dorong kedua yang dipakai seperti kait. Penonton baru sadar hasilnya saat badan besi lawan terduduk miring dan skor lantai itu melonjak lagi.

“Nama peserta: Raka Suryana,” suara panel otomatis akhirnya membacanya, lebih keras dari yang pernah didengar Raka sebelumnya.

Sorak meledak, pendek tapi tajam. Bukan karena mereka menyukainya; karena papan skor memaksa mereka melihat. Nilai reputasinya naik satu lapis, cukup untuk menyalakan kolom promosi yang tadi masih abu-abu. Tapi di saat yang sama, indikator ampun-ampunan berubah merah penuh. Sambungan kiri melintir di batas aman.

Mira, yang berdiri di samping terminal verifikasi, menahan napas saat membaca keluaran log. Wajahnya yang biasanya datar mengeras satu detik. Ada baris yang tidak selaras dengan data utama—potongan log tersembunyi, disisipkan di balik rangkaian gerak. Ia memutar layar kecil itu ke arah Raka, cukup untuk memberi tahu tanpa menantang Sera di depan umum.

“Bukan cuma efisiensi,” gumamnya singkat. “Ada mode liar. Dan ada pola lantai.”

Raka menangkapnya. Pola lantai. Bukan sekadar bertahan—log itu memetakan jarak antar-uji, jeda kunci, dan pintu yang baru terbuka setelah kemenangan tertentu. Menara Uji Mek tidak hanya menguji operator. Ia mengunci lantai satu ke lantai berikutnya seperti gigi roda. Kalau ia bisa membaca sambungannya, ia bisa memaksa pintu yang seharusnya tertutup.

Sera melihat keduanya. Tatapannya tidak berubah, tapi jari di sisi podium sudah mengeras. “Panel, bekukan hasil sementara. Ambil frame itu sekarang. Verifikasi ulang jalur promosi. Saya ingin seluruh data mentah.”

Damar melangkah setengah maju, ingin mengambil kembali sorot yang lepas dari tangannya. Namun layar kota sudah terlanjur membaca nama Raka lebih keras daripada namanya sendiri. Wajahnya mengeras, tidak lagi fotogenik.

Dua petugas arena mendekat. Raka menegakkan tubuh di dalam cockpit yang panas, merasakan bau oli dan logam terbakar bercampur keringat di tengkuk. Ia baru saja menang publik, tetapi kemenangan itu terasa seperti pintu yang dibanting terbuka ke lorong yang lebih sempit.

Mira tidak menunggu perintah. Saat tangan petugas hampir mengunci pemindahan paksa, ia menyelipkan potongan log yang disembunyikan ke genggaman Raka—selembar data tipis, dingin, dengan satu baris yang membuat dada Raka mengencang: bukan hanya selamat, ia sedang memetakan cara lantai-lantai menara saling mengunci.

Nama Raka masih bersinar di papan skor saat frame-nya mulai digeser. Di bawah sorot publik dan perintah verifikasi Sera, jalur promosi resmi terlihat busuk. Dan untuk pertama kalinya, semua orang di ruang itu tahu: tangga Raka baru saja naik, tapi lantai berikutnya sudah menunggu dengan gigi yang lebih tajam.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced