The First Test
Layar ranking di alun-alun tingkat bawah menyala terlalu terang untuk pagi yang masih basah garam. Nama Raka Suryana turun satu tingkat di depan semua orang.
Di saat yang sama, pergelangan tangan kirinya bergetar keras. Notifikasi merah dari bracer kerja menampar kulitnya:
FRAME RECALL — unit latihan/ujian ditarik kembali sebelum penutupan Arena Uji Mek. Status: wajib serah. Sisa kelayakan: 1 uji publik.
Raka berhenti di tengah arus orang yang baru keluar dari pasar ikan dan bengkel dermaga. Bau oli panas, solder, dan sisik asin menempel di udara. Di layar raksasa, kolom namanya menyusut lagi setelah pembaruan pagi. Bukan karena ia kalah. Kota memutuskan ia nyaris tak layak dipertahankan, lalu menurunkannya seolah itu fakta alam.
Satu tingkat turun.
Satu lantai menjauh.
Ia menatap angka itu cukup lama sampai pedagang sayur di belakangnya mengumpat karena hampir menabraknya. Di bawah deretan ranking, pengumuman arena berganti dengan lambang resmi: Arena Uji Mek akan ditutup dalam 2 hari. Setelah itu, frame unggulan dialihkan, data uji dipurgaikan, dan pendaki kelas bawah kehilangan jalur naik yang sah. Yang tak sempat tampil di papan resmi akan hilang seperti tak pernah ada.
Raka menggenggam rahangnya. Di saku jaket kerjanya, kartu akses lusuh yang selama ini jadi bukti ia masih punya tempat di jalur bawah terasa dingin seperti sisa logam dari bangkai kapal.
Kalau frame itu ditarik sekarang, ia habis.
Bukan habis seperti mati. Lebih buruk: habis seperti orang yang masih hidup, tapi tak lagi tercatat.
“Nama lu makin turun, Rak.”
Suara itu datang dari samping, ringan dan tajam. Mira Valen berdiri di tepi alun-alun, setengah tertutup bayangan kios alat listrik. Seragam teknisinya kotor di siku, rambutnya diikat asal, dan di tangannya ada tablet servis yang layar utamanya retak halus. Wajahnya datar seperti biasa, tetapi matanya tak ikut meremehkan.
Raka meliriknya sekali. “Aku lihat.”
“Bukan cuma lihat.” Mira mengangkat tablet, lalu mencondongkan layar sedikit. “Aku dapat salinan log tempur frame-mu. Yang resmi kosong. Yang rusak… masih nyimpen sisa rekam.”
Ia menggeser kartu kecil dari balik tablet. Permukaannya hangus di satu sudut, pin datanya patah di dua titik. Benda itu tampak seperti sampah yang mestinya dibuang. Tapi Mira tidak memberi sesuatu tanpa alasan.
“Kalau ini dibaca di ruang uji, bisa buka pola yang mereka sengaja tutup,” katanya pelan. “Bukan cheat. Cuma jejak lama. Modul respons bawah lantai tiga masih kebawa di sana.”
Raka mengambilnya. Log itu dingin, beratnya nyaris tak terasa—justru itu yang membuatnya berbahaya. Benda yang tampak tak berguna seringkali satu-satunya yang bertahan sampai akhir.
“Kenapa kasih ke aku?”
Mira menatap papan ranking di atas mereka, lalu ke pintu gerbang Arena Uji Mek yang terlihat dari ujung alun-alun seperti mulut besi yang belum kenyang.
“Karena kalau kamu gagal, yang dibersihkan bukan cuma namamu,” katanya. “Mereka bakal pangkas semua data bawah buat nutup penutupan arena ini rapi. Termasuk catatan servis. Termasuk bukti kalau frame kelas bawah sebenarnya masih bisa dipakai.”
Raka paham bagian itu tanpa perlu dijelaskan lebih jauh. Di kota pelabuhan seperti ini, reputasi dan log kerja punya nilai yang sama kejamnya. Kalau tak tercatat, tak terjadi. Kalau tak terjadi, tak ada hak untuk menuntut.
Di layar raksasa, wajah Damar Prakoso muncul di slot tiga besar, cerah, bersih, dan aman. Poster hidup yang dipakai kota untuk menyembunyikan kekacauan di bawahnya. Di bawah foto itu, tulisan sponsor rapi seperti janji yang sudah dibayar.
Lalu ada suara dari pengeras di gerbang arena, halus, mahal, dan penuh keyakinan.
“Peserta dengan status aman dipersilakan masuk sesi verifikasi akhir. Prioritas penutupan akan diberikan pada kandidat yang lolos profil stabil.”
Kandidat stabil. Orang seperti Damar.
Bukan orang seperti Raka.
Sebelum ia sempat menjawab, suara lain menyilang dari balkon observasi di atas gerbang. Lebih dingin, lebih tinggi, dan sengaja dibuat terdengar ke semua orang.
“Operator bawah terakhir.”
Damar Prakoso bersandar di pagar kaca, lengan disilangkan, senyumnya bersih seperti iklan baru dicuci hujan. “Jangan bikin kami buang waktu. Arena ini mau tutup, dan kota nggak butuh pertunjukan sampah.”
Beberapa orang di kerumunan tertawa kecil. Tawa yang aman. Tawa yang memilih pihak sebelum ujian dimulai.
Raka tak mengangkat kepala. Mata dan telinganya cukup untuk mengukur. Damar tak sedang marah; dia sedang memastikan semua orang melihat siapa yang dianggap layak.
Di sisi lain balkon, Kepala Pengawas Sera Wibisana berdiri tanpa banyak gerak. Wajahnya tenang, rambutnya disisir rapi, dan suaranya saat menyapa layar publik barusan pasti sama saat ia menandatangani penutupan fasilitas. Orang seperti dia selalu bicara tentang ketertiban, efisiensi, dan nama baik kota.
Sera menatap ke bawah, lalu ke arah Raka seperti seseorang yang menilai retakan kecil pada kaca mahal.
“Peserta Raka Suryana,” katanya, cukup keras agar terdengar ke plaza. “Anda masih punya satu uji publik. Jika tidak digunakan sebelum tenggat, status legal frame akan dialihkan. Itu prosedur.”
Itu bukan peringatan.
Itu pintu yang ditutup pelan.
Raka menggenggam log rusak di telapak tangan. Satu uji publik. Satu kesempatan. Satu-satunya alasan namanya masih muncul di papan itu.
Jika ia mundur, frame-nya masuk daftar bongkar. Jika ia menunggu, status legalnya hangus. Jika ia minta waktu, arena keburu ditutup, dan semua yang ia bangun selama bertahun-tahun disapu jadi catatan yang tak diakui.
Ia mengangkat pandangannya ke gerbang arena.
Di belakang kaca, lorong masuk ke ruang uji tampak seperti jalan sempit menuju perut mesin.
Mira tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menahan tatapannya sebentar, lalu menggeser bahu seolah sudah cukup lama ia menunggu seseorang berhenti ragu.
“Kalau mau selamat,” gumamnya, “jangan main aman.”
Raka mengembuskan napas pendek. Di bawah seluruh bunyi pasar, kapal, dan pengeras kota, ia merasakan satu hal yang paling sederhana dan paling mahal: waktu yang menipis.
Ia melangkah.
Gerbang Arena Uji Mek terbuka dengan desis hidrolik, dan papan skor publik di atas pintu menyala penuh. Nama Raka berada di posisi paling bawah dari delapan peserta yang tersisa. Garis merah di sampingnya menyatakan cadangan suku cadang nol, izin pakai satu putaran, dan jika gagal, frame-nya langsung dialihkan ke antrian bongkar.
Sementara itu, nama Damar tetap bersinar aman di tiga besar.
Kalau kota ingin memilih cerita yang rapi, mereka sudah tahu siapa tokoh utamanya.
Sayangnya, Raka belum datang untuk jadi tokoh.
Ia datang untuk bertahan.
---
Pintu ruang uji pertama menutup di belakangnya dengan bunyi logam yang terlalu keras untuk sekadar disebut pintu.
Platform sempit di depannya menyala, dan layar skor di dinding kaca mulai menghitung ulang status peserta secara real time. Di sisi kiri, nama-nama lain ditempatkan bersih, diberi warna, diberi label yang membuat mereka terlihat aman. Nama Raka tetap paling bawah, seolah sistem sengaja menekan kepala orang yang masuk dari jalur belakang.
Di tengah arena, frame uji menunggu: bodi abu-abu, lengan kiri sedikit turun, panel dada menyala oranye pada titik retak bekas pakai. Mirip bangkai yang dipaksa berdiri karena ada orang yang belum sempat menyerah.
Raka menarik napas, lalu memasang log rusak dari Mira ke slot samping konsol tangan. Konektornya tidak pas. Ia menekan paksa sampai bunyi klik kecil terdengar, seperti tulang masuk ke sendi yang salah.
Dari balkon, suara Damar menyusul lagi, lebih pelan tapi justru lebih menusuk. “Satu putaran aja. Jangan bikin frame itu nangis.”
Raka tidak menoleh. Dalam kaca reflektif di depan, ia melihat dirinya sendiri: bekas oli di pipi, leher tegang, lengan yang sudah terlalu sering memegang alat rusak daripada senjata layak.
Kepala Pengawas Sera Wibisana mengangkat tangan.
“Mulai.”
Lantai bergetar.
Panel uji di depan frame bangkit dari rel tersembunyi. Tiga drone-pola meluncur keluar dari ceruk sempit, bukan monster, bukan target acak—mereka disusun untuk memaksa operator bawah gagal: gerak berpasangan, sudut silang, dan satu unit penutup belakang yang memotong ruang mundur. Dua belas detik pertama memangsa orang yang terbiasa membuang tenaga untuk terlihat gagah.
Raka tidak membuang apa pun.
Ia bergerak setengah langkah ke kiri, bukan untuk menghindar penuh, melainkan untuk memaksa drone depan menabrak garis tembak drone kanan. Saat unit penutup belakang mencoba masuk, ia menurunkan pusat gravitasi frame dan memukul lantai dengan tumit kaki kanan, cukup keras untuk mengubah arah geser tubuh.
Kratak.
Salah satu drone menyilang terlalu dekat dan kehilangan sudut.
Di layar publik, indikator efisiensi Raka melonjak naik tipis: GERAK HEMAT: +11%.
Itu kecil. Tapi kecil yang terlihat.
Raka merasakan log rusak di slot samping memanas di bawah telapak kontrol. Sejenak, garis-garis redup menyala di permukaan panel, seperti peta lama yang baru ingat arah. Bukan instruksi lengkap—hanya dorongan singkat, akses ke modul respons yang sebelumnya terkunci.
Ia mengikuti dorongan itu.
Alih-alih memotong lurus ke tengah, ia memutar lengan frame pada sudut yang tidak dipakai manual. Serangan drone depan meleset setipis rambut. Pukulan balik dari frame-nya masuk ke sambungan leher unit itu, lalu memaksa drone kedua berhenti lebih cepat dari prediksi sistem.
Panel skor berkedip.
WAKTU TUNTAS PERTAMA: 00:41 DI BAWAH PROYEKSI.
Tribun tidak langsung bersuara. Mereka butuh satu detik untuk memastikan apa yang barusan mereka lihat. Satu detik itu cukup untuk membuat keuntungan jadi nyata.
Raka menyapu satu unit lagi ke dinding, menghemat rotasi bahu yang seharusnya memakan daya. Drone terakhir mencoba menutup dari belakang. Ia menahan serangan itu dengan rangka lengan, bukan dengan mundur. Benturan membuat seluruh frame berderit, tetapi justru memberi ruang bagi serangan pendek ke inti rel penyokong.
Unit uji itu mati mendadak.
Lampu arena berubah hijau.
Satu gelombang selesai.
Di layar publik, bar status Raka menampilkan pembacaan baru yang cukup keras untuk membuat orang di balkon memicing:
Konsumsi energi turun. Beban guncang naik. Kerusakan sambungan kiri: 17% → 29%.
Ia menang, tapi tidak gratis.
Raka merasakan getaran kecil di bahu frame, tanda sambungan kiri mulai longgar. Kalau satu tingkat lagi dipaksa dengan cara yang sama, frame ini bisa patah di tengah.
Damar bersandar pada pagar balkon, senyumnya menghilang untuk pertama kali. Bukan karena takut, melainkan karena hasil barusan tidak cocok dengan narasi yang sudah ia pilih.
“Anomali,” gumam salah satu pengawas di belakang kaca.
“Tidak,” jawab Mira dari sisi teknis, nyaris tak terdengar. Ia menatap angka efisiensi yang terus berganti. Matanya tajam, sedikit terkejut, sedikit puas. “Itu pola baru.”
Sera Wibisana tidak langsung bereaksi. Tapi matanya turun ke log status yang terhubung dari konsol arena, dan wajahnya kehilangan satu lapis ketenangan.
Karena apa pun yang baru saja dilakukan Raka, itu tidak seharusnya mungkin pada frame kelas bawah yang hampir ditarik.
Layar skor memuat ulang.
Nama Raka yang sempat naik setengah garis segera dipasang kembali di bawah, seolah sistem ingin mengingatkan semua orang bahwa kemenangan kecil belum berarti apa-apa di kota yang suka menunda pengakuan.
Raka menahan napas sambil membuka sisi konsol. Log rusak itu masih menempel, dan kini bagian tepinya menyala lebih jelas. Ada satu baris data yang tadi tak terlihat, tersembunyi di bawah rekam tempur lama: jejak pertempuran yang tak tercatat di manual, sudut gerak yang sengaja dihapus, dan catatan modul yang pernah dipakai untuk menahan guncangan pada lantai yang lebih tinggi.
Bukan angka.
Bukan dongeng.
Sebuah jalan yang bisa dipakai.
“Lanjut,” kata Sera, suaranya kembali tenang, terlalu tenang. “Unit berikutnya dibuka. Satu kesalahan, peserta dinyatakan tidak layak dan frame dikunci.”
Papan di atas arena bergeser, menampilkan pintu vertikal di sisi jauh platform. Pintu yang tidak digunakan pada uji pertama biasanya. Pintu itu baru terbuka sekarang—pintu ke lantai berikutnya.
Dan di bawahnya, label merah muncul satu per satu:
TEKANAN LANTAI LANJUTAN MENINGKAT. PROTOKOL PENGAWASAN DIPERKETAT. PENILAIAN PUBLIK DIBUKA.
Raka menatapnya, napasnya masih berat, telapak tangannya panas di atas log yang rusak. Kemenangan pertama belum sempat dingin, tapi tangga berikutnya sudah menantinya dengan harga yang lebih mahal.
Di atas semua suara mesin dan bisik tribun, log tempur itu bergetar lagi.
Dan saat pintu lantai berikutnya terbuka, seolah menjawab sesuatu yang hanya ia yang bisa dengar, nama Raka di layar ranking turun satu tingkat tepat pada saat frame-nya dipanggil ke uji pertama.