Novel

Chapter 12: Tangga yang Terus Mendaki

Di tengah tenggat pajak yang menipis dan tubuh yang melemah, Aris berhasil mengalahkan Penilai Kael dalam duel hidup-mati di jembatan penghubung lantai dua dan tiga. Dengan otoritas ledger yang kini ia kuasai, Aris membekukan perintah Kael dan memicu alarm besar di Menara, menandai gangguan sistem yang signifikan. Setelah kemenangan itu, Aris melarikan diri ke persembunyian tua di lantai tiga dengan bantuan Lia yang mengorbankan posisinya demi keselamatan mereka. Di sana, Lia menyerahkan catatan teknik terlarang yang bisa mempercepat kekuatannya, meski dengan risiko besar pada tubuhnya. Dengan tekad baru dan tubuh yang hampir runtuh, Aris melangkah ke pintu besar menuju lantai tiga. Saat pintu terbuka, ia disambut oleh cakrawala Menara yang tak terbatas, menyadari bahwa pendakiannya baru saja dimulai dan tantangan lebih besar menantinya di atas sana.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tangga yang Terus Mendaki

Aris terengah-engah berdiri di jembatan penghubung lantai dua dan tiga. Tubuhnya yang melemah berdenyut nyeri, sementara tenggat pembayaran pajak yang ditekan Kael terasa seperti palu berat menghantam dadanya. Waktu terus menipis, kurang dari sebelas jam tersisa sebelum batas terakhir. Di depan matanya, Penilai Kael berdiri dingin, menatap tajam, siap melancarkan serangan fisik maupun administratif yang bisa menghapus akses Aris ke lantai atas dalam sekejap.

"Aris," suara Kael bergetar, penuh kemarahan dan rasa takut tersembunyi, "kau tahu betul—setengah umurmu akan habis jika nekat naik tanpa bayar pajak penuh. Aku punya otoritas untuk membekukan aksesmu kapan saja." Aris mengangkat ledger usang di tangannya, kertas-kertas yang kini menjadi senjata administratifnya berkilat di bawah cahaya neon Menara. Dengan suara teguh, ia membalas, "Ledger ini membekukan semua perintahmu, Kael. Aku bukan hanya bertahan, aku membalikkan tekanan sistem terhadapku."

Lonjakan energi dari teknik terlarang 'Konversi Tekanan Pasar' yang telah ia pakai berulang kali memuncak, memercikkan kilatan cahaya yang merambat di sepanjang jembatan. Suara alarm menggema dari lantai atas, menandakan gangguan besar tengah terjadi—semua mata di Menara kini tertuju pada mereka. Kael menggeram, mencoba menyerang secara fisik, tetapi tubuh Aris yang meski melemah sudah terbiasa menahan rasa sakit mampu menghindar, sementara otoritas ledger memblokir setiap serangan administratif Kael. Dalam tekanan waktu dan risiko kehilangan sisa umur, Aris berhasil mengunci kemenangan sementara dan membuka akses ke lantai tiga.

Segera setelah kemenangan itu, Aris meloncat dari jembatan yang mulai retak, napasnya memburu, tubuhnya hampir tak mampu menahan lelah. Detak alarm yang menusuk menggema di lorong sempit lantai tiga, memecah keheningan yang sebelumnya menguntungkannya. "Lia, aku butuh akses sekarang! Alarm sudah menyala, keamanan pasti mengepung," suaranya bergetar, berusaha mengendalikan panik yang mulai muncul. Dari ujung telepon, Lia menjawab cepat, "Aku sedang memutus jaringan bawah tanah. Tapi kalau aku lakukan, banyak kontak kita akan terputus. Ini risiko besar!"

Langkah pasukan keamanan semakin dekat, gema sepatu mereka di lorong menandakan jebakan semakin rapat. Dengan susah payah, Aris melangkah menuju pintu persembunyian tua yang berkarat—tempat yang selama ini menjadi sandaran terakhirnya. Sirene yang tak kunjung padam menggerus ketenangannya, tekanan waktu semakin membebani. Aris menarik napas dalam-dalam, menggenggam gagang pintu dengan tangan gemetar. Suara langkah itu kini sudah sangat dekat, hanya hitungan detik. "Lia, aku butuh bantuanmu sekarang," bisiknya melalui communicator tersembunyi di telinga. Detik berikutnya, suara Lia terdengar samar, "Sistem alarm masih aktif, aku harus menonaktifkan jaringan informasiku. Ini membuka lapisan keamanan, tapi... aku siap bertaruh posisiku demi kau bisa bertahan."

Di dalam persembunyian, Aris terbatuk keras, darah segar mengotori ujung jari tangannya. "Kita tidak bisa berhenti di sini, Lia. Lantai tiga menanti, dan waktu kita hampir habis." Tubuhnya melemah setelah racun pemburu bayangan yang hampir merenggut nyawanya. Lia menatapnya dengan mata tajam, berusaha menahan rasa cemas yang menggerogoti. "Aku punya sesuatu," katanya seraya mengeluarkan gulungan kertas lusuh dari jubahnya. "Catatan teknik terlarang dari klan kuno. Ini kunci untuk mempercepat kekuatanmu, membuka jalur baru yang belum pernah kau coba."

Aris mengerutkan dahi, menimbang risiko yang membayang. Teknik itu bisa mempercepat kekuatannya, tapi juga bisa membakar tubuhnya hingga hancur lebih cepat. "Kau yakin?" suaranya serak. Lia mengangguk mantap, "Ini satu-satunya cara. Jika tidak, kita akan terperangkap selamanya di lantai dua."

Tekanan semakin mendesak. Jalan ke lantai tiga menanti di depan, dan Aris tahu keputusan ini adalah taruhan nyawa. Dia menerima gulungan kertas itu, merasakan berat masa depan yang kini bertumpu pada teknik terlarang tersebut. Dengan tekad yang diperbarui, ia keluar dari persembunyian, menatap pintu besar yang berkarat di hadapannya. Napas diatur sedalam mungkin, keringat membasahi dahinya. Otot-ototnya meronta menahan kelelahan yang terus menggerogoti setiap langkah.

"Aku harus naik... tidak ada pilihan lain," gumamnya, suara seraknya nyaris tenggelam oleh desiran angin dingin yang menyambut dari balik pintu. Dengan satu dorongan terakhir, pintu itu membuka dengan bunyi gesekan berat, mengungkapkan cakrawala Menara yang terbentang luas tanpa batas. Lapisan-lapisan ruangan dan platform berkelok-lingkar naik melambung ke atas, seolah menantang keberaniannya.

Jantung Aris berdegup kencang, bukan hanya karena kelelahan, tapi juga beratnya risiko yang telah ia ambil. Di sini, setiap langkah berarti pengorbanan yang lebih besar. Ia menguatkan pijakannya, menatap jauh ke dalam kegelapan yang menyimpan bahaya dan peluang. Beban masa depan menekan lebih erat dari sebelumnya, tapi pintu menuju lantai tiga telah terbuka—memperlihatkan Menara yang jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.

Di balik cakrawala itu, sebuah tantangan baru sudah menunggu. Lia telah mengorbankan posisi dan jaringan informasinya demi kesempatan Aris mengejar target yang jauh lebih besar dari sekadar bertahan. Saat langkah Aris menghilang ke dalam kegelapan lantai tiga, ia tahu—ini bukan akhir, melainkan awal dari pendakian yang jauh lebih brutal menuju puncak Menara, di mana waktu bisa dibeli kembali dan sistem yang selama ini mengekangnya siap diubah dari dasar.

Aris menarik napas panjang, menatap ke depan dengan mata terbuka lebar. Tangga yang terus mendaki kini menanti, dan ia siap untuk siklus kenaikan berikutnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced