Novel

Chapter 1: Kursi di Ujung Meja

Aris, menantu yang dianggap tidak berguna, dipermalukan di ruang rapat direksi oleh mertuanya, Pak Surya. Saat diperintah mengambil kopi, Aris menemukan ketidakkonsistenan dalam dokumen tender proyek pesisir yang membuktikan adanya skema pencucian uang. Aris kini memegang bukti yang dapat menghancurkan posisi Pak Surya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kursi di Ujung Meja

Ruang rapat PT Surya Megah adalah akuarium kaca yang dirancang untuk mengintimidasi. Di balik dinding transparan itu, pemandangan pelabuhan pesisir terbentang—sebuah proyek reklamasi bernilai triliunan yang menjadi jantung kekuasaan keluarga mertua Aris. Namun, bagi Aris, ruangan ini bukan tempat kerja. Ini adalah panggung eksekusi sosial.

Aris duduk di kursi paling ujung, posisi yang sengaja disisakan agar ia tidak menghalangi sudut pandang para investor. Di depannya, tumpukan dokumen tender proyek pesisir tampak rapi. Aris tahu, di balik sampul tebal itu, angka-angka telah dimanipulasi dengan presisi yang mematikan.

"Aris, jangan melamun. Ambilkan kopi untuk Pak Direktur dan para tamu," suara Pak Surya memecah keheningan, dingin dan memerintah. Pria itu berdiri di depan layar proyektor, menunjuk grafik pertumbuhan yang ia rekayasa.

Maya, istrinya, duduk di samping ayahnya. Ia menatap layar, punggungnya tegak, mengabaikan Aris sepenuhnya. Status Aris sebagai 'menantu yang tidak berguna' adalah rahasia umum di kantor ini; ia adalah pelayan rumah tangga yang kebetulan memiliki akses administratif untuk tugas-tugas rendahan.

Aris bangkit. Langkahnya tenang, meski ia bisa merasakan tatapan remeh dari para investor. Saat ia meletakkan cangkir kopi di depan Pak Surya, sebuah folder transparan terjatuh dari tumpukan dokumen yang ditinggalkan sang mertua di atas meja. Aris membungkuk untuk memungutnya, namun matanya menangkap sesuatu yang janggal: kode vendor yang seharusnya tidak ada dalam draf final.

Saat perhatian semua orang teralih ke layar proyektor, Aris menyelinap keluar. Ia tidak kembali ke meja kerjanya—ia tidak punya meja di kantor ini. Ia melangkah menuju ruang arsip di lantai bawah. Di sana, di balik rak-rak besi yang berdebu, ia tahu di mana letak kebohongan itu disembunyikan.

Di atas meja kerja staf administrasi yang ceroboh, sebuah map biru tebal tergeletak terbuka. Itu adalah salinan dokumen tender proyek pengembangan pesisir yang baru saja dipamerkan Pak Surya. Aris membuka map tersebut. Matanya memindai baris-baris angka dengan kecepatan yang tidak dimiliki orang awam. Ia telah menghabiskan tiga tahun di keluarga ini sebagai menantu yang tidak berguna, namun di balik status itu, ia adalah orang yang menyusun fondasi perhitungan tender ini sebelum Pak Surya mengambil alih dan membuangnya.

Ia membandingkan data di tangannya dengan catatan kecil di ponselnya. Angka alokasi material beton di kolom ketiga tidak sinkron dengan volume konstruksi yang dijanjikan. Ini bukan sekadar kesalahan ketik; ini adalah skema pencucian uang yang melibatkan vendor fiktif milik Pak Surya sendiri. Aris menahan napas. Ia kini memegang kunci kehancuran mertuanya.

Aris kembali ke ruang rapat tepat saat Pak Surya bangkit untuk menerima panggilan telepon penting. Sang mertua meninggalkan map tender terbuka di atas meja mahoni. Aris mendekat, tangannya gemetar sedikit—bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang mulai terkendali. Ia kini memegang bukti yang bisa meruntuhkan seluruh imperium Surya Megah. Di luar sana, Pak Surya melangkah kembali, tidak menyadari bahwa pion yang ia remehkan baru saja mengubah nasib seluruh keluarga.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced