Novel

Chapter 12: Chapter 12

Di koridor VIP rumah sakit, Tara mencoba menutup Arga lewat penghinaan keluarga dan ledger tua, tetapi Arga membaliknya dengan bukti cap, pola biaya malam, lampiran yang dipisah, dan tanda tangan palsu. Hendra Kusuma muncul sebagai lapisan ancaman di atas Tara, Nadine akhirnya menyerahkan akses terakhir kepada Arga, dan berkas asli terbuka tepat sebelum tender ditutup, mengubah papan kekuasaan di depan semua saksi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 12

Pukul 14.55, akses tender tinggal lima menit.

Koridor VIP rumah sakit itu dingin seperti ruang yang sengaja dibuat untuk membuat orang merasa kecil. Marmernya memantulkan lampu putih, aromanya campuran disinfektan mahal, kopi yang sudah keburu pahit, dan panik yang dipaksa tetap rapi. Di depan meja verifikasi, Arga berdiri dengan map cokelat tipis yang sudutnya sudah terlipat. Di sisi kanan, petugas keamanan menahan langkahnya dengan tubuh, bukan kata-kata. Di sisi kiri, staf administrasi menatap monitor sambil jari kanannya mengambang di atas tombol tutup akses.

“Nama Anda tidak ada di daftar final,” kata staf itu datar.

Tara Wiratama berdiri di seberang meja, blazer kremnya licin dan tenang, seperti ia datang bukan untuk menekan, melainkan untuk membersihkan noda. Di tangannya, ledger tua yang sudah lusuh itu ia letakkan di atas meja kaca dengan bunyi pelan tapi keras di telinga semua orang. Bukan keras karena suara, melainkan karena maksud.

“Kalau bukan keluarga, jangan bikin malu rumah sakit,” ucap Tara. Nada suaranya rendah, tapi cukup untuk memaksa dua staf legal yang baru keluar dari lift berhenti di tempat. “Arga ini cuma numpang nama. Tidak punya hak buka berkas.”

Nadine berdiri setengah langkah di belakang Tara. Wajahnya tertahan, seolah ia dipaksa memilih antara kebiasaan lama dan sesuatu yang baru saja mulai terlihat. Jemarinya menegang di tali tas. Ia tidak memotong, tidak membela, tidak juga menatap Arga terlalu lama. Namun Arga melihat satu hal yang penting: Nadine tidak sedang menatapnya seperti beban. Ia menatap Tara, lalu ledger, lalu layar verifikasi, seolah akhirnya menyadari siapa yang sedang dikunci di luar.

Arga tidak langsung menjawab. Ia menahan napas, lalu memeriksa jam sistem di pojok monitor.

14.56.

Satu menit hilang. Empat menit tersisa.

“Nomor berkas yang Anda buka itu salah halaman,” katanya akhirnya, tenang, nyaris sopan.

Tara menyipit. “Kamu pikir bisa mengajariku cara baca dokumen rumah sakit?”

“Bukan mengajar,” jawab Arga. “Mengoreksi.”

Ia mengangkat map cokelatnya sedikit. Tidak tinggi, tidak dramatis. Cukup agar staf administrasi melihat cap kecil di sisi bawah yang tak sesuai dengan cap utama pada ledger tua itu. Cukup agar petugas keamanan, yang tak paham isi dokumen, tetap menangkap bahwa ada sesuatu yang berbeda.

Arga menatap ledger Tara, bukan wajahnya. “Cap arsip yang Anda pakai dicetak ulang. Tiga milimeter bergeser dari garis penguncian lama. Dan halaman yang Anda buka bukan lampiran biaya, itu halaman yang sengaja disisipi agar nama saya muncul di jalur yang salah.”

Tara tertawa pendek, bukan karena lucu, melainkan karena tidak suka kehilangan kendali. “Bukti?”

“Sudah ada.” Arga melirik staf administrasi. “Coba cek metadata pengiriman terakhir. Lima berkas berputar lewat jalur yang sama, tapi hanya satu yang ditahan semalam.”

Staf administrasi ragu-ragu. Ujung jarinya bergerak di keyboard. Suara klik kecil itu terdengar lebih tegang daripada teriakan.

Tara segera menekan. “Jangan dengarkan. Dia masuk tanpa nama resmi.”

Arga masih diam. Karena ia tahu yang dipakai Tara bukan sekadar prosedur. Yang dipakai Tara adalah rasa malu. Menjadikan ia orang luar di depan orang dalam.

Namun di ruangan itu, rasa malu tak lagi bekerja sebaik semula. Ada mata yang mulai melihat angka, bukan status.

Telepon di saku Arga bergetar sekali. Nama Mira muncul singkat di layar.

Ia tidak mengangkat. Tapi pesan masuk berikutnya hanya satu kalimat:

Lampiran dipisah. Di belakang paket utama. Jalur valuer diarahkan.

Arga membaca sekali. Lalu menyimpan ponsel.

Pukul 14.57.

Pintu verifikasi di belakang mereka terbuka setengah. Seorang petugas pengantar kertas lewat sambil menahan napas, lalu buru-buru menghilang lagi. Semua orang tahu waktu mengecil. Semua orang juga tahu siapa yang sedang mencoba menutupnya lebih cepat.

Arga maju setengah langkah, cukup untuk memasuki ruang bicara yang sama dengan Tara. “Kalau memang saya tak punya hak, kenapa berkas yang Anda buka bergerak lewat jalur yang saya tandai semalam? Kenapa tanda tangan di halaman belakang mirip saya, padahal saya tidak pernah membubuhkannya?”

Hening singkat.

Bukan hening kosong. Hening yang lahir saat sebuah kebohongan mendadak punya tepi.

Tara tidak langsung menjawab. Matanya menajam, dan Arga bisa melihat ia mulai mengubah posisi dari menyerang menjadi mengunci. Kalau prosedur gagal, ia akan pakai reputasi. Kalau reputasi gagal, ia akan pakai suara.

“Nama palsu itu justru menunjukkan kamu terlibat,” kata Tara akhirnya.

“Tidak.” Suara Arga tetap rata. “Itu menunjukkan ada orang yang ingin saya dipasang di halaman belakang sebagai pelaku. Tujuannya bukan mengusir saya. Tujuannya menutup alur uang dan alur dokumen.”

Di samping layar, staf legal akhirnya mengangkat kepala. Ia belum memihak, tapi wajahnya tidak lagi nyaman.

Nadine bergerak kecil, menelan sesuatu yang tak sempat menjadi kata. Arga melihat itu. Ia juga melihat cara Nadine memegang kunci akses terakhir yang tadi diserahkan tanpa banyak kata. Kunci itu kini sudah berpindah di tangannya. Akses itu, satu-satunya akses yang tersisa, adalah alasan ia masih bisa berdiri di sini sebelum palu ditutup.

Tara melihat gerak itu juga.

Dan di situlah Tara mengubah arah serangan.

Ia tidak lagi mengandalkan akses. Ia mengangkat ledger tua itu sedikit dan membukanya di depan semua orang seperti membuka luka yang sudah lama dibiarkan menghitam.

“Kalau Arga mau bermain dokumen,” ucapnya, “kita buka sejarahnya sekalian.”

Buku tua itu menampakkan daftar biaya kamar, biaya perawatan malam, catatan pengeluaran yang seolah tak ada ujungnya. Tara menyentuh salah satu kolom dengan ujung kuku. “Lihat ini. Semua biaya selama bertahun-tahun. Kalau dia mau masuk ke jalur rumah sakit, lihat dulu siapa yang selama ini menumpang di rumah kami.”

Tujuannya jelas: menjatuhkan Arga dari pembaca sistem menjadi beban keluarga. Mengubah angka menjadi aib. Mengubah kerja menjadi rasa tidak pantas.

Nadine memejam sesaat.

Arga justru mendekat ke ledger itu, tapi tidak dengan emosi. Ia menunduk, membaca baris yang dipilih Tara, lalu baris di bawahnya, lalu baris berikutnya.

“Biaya rawat malam ini,” katanya, “mengikuti pola administratif rumah sakit. Bukan pola keluarga. Nomor kamar dipindah sesuai jadwal penguncian server, bukan sesuai kebutuhan medis. Ada tiga malam yang dicatat ulang. Dan semua pindah melalui jalur verifikasi yang sama dengan lampiran yang dipisah.”

Tara membeku sepersekian detik.

Itu cukup.

Arga menunjuk satu angka. “Kalau Anda ingin mempermalukan saya lewat ledger, Anda seharusnya memastikan angka-angkanya tidak mengarah ke meja Anda sendiri.”

Seorang staf legal menatap catatan itu lebih dekat. Perwakilan rumah sakit—masih muda, rambut disisir rapi, wajah terlalu sadar kamera—mendadak kehilangan ekspresi aman. Itu bukan lagi soal keluarga. Itu soal siapa yang menggerakkan biaya malam, siapa yang memindahkan kamar, siapa yang mengubah catatan agar luka lama tampak seperti kesalahan biasa.

Tara menutup ledger setengah jalan. “Kamu bicara seolah mengerti. Padahal kamu cuma dapat sisa-sisa.”

Arga tidak menanggapi. Ia mengambil map biru dari bawah lengan, lalu membuka halaman paling depan. Bukan halaman yang ramai. Bukan halaman yang bisa dipamerkan. Halaman yang hanya akan dibaca orang yang tahu apa yang dicari.

Lalu ponselnya bergetar lagi.

Nama yang muncul: Hendra Kusuma.

Arga menatap layar itu sekilas. Tara melihatnya, dan untuk pertama kalinya wajahnya tidak sepenuhnya tenang. Sebab nama Hendra berarti sesuatu yang lebih tinggi dari Tara. Satu lapis di atas permainan keluarga. Satu lapis di atas humiliasi yang bisa dibalas di meja ini.

Arga menekan mode suara.

“Bicara.”

Nada Hendra tenang, terlalu tenang. Justru itu yang membuat ancamannya terasa rapi dan kotor sekaligus. “Pak Arga,” katanya, sopan seperti orang yang mengatur pemakaman tanpa perlu menaikkan volume, “Anda masih punya kesempatan untuk meletakkan berkas itu. Di atas Tara ada orang yang tidak suka sidang kecil di koridor. Kalau Anda buka lampiran asli sebelum tender ditutup, Anda akan memaksa rumah sakit ini memilih musuh.”

Arga menatap jam.

14.58.

Dua menit terakhir mulai jatuh.

Hendra melanjutkan, “Saya sarankan Anda ingat posisi Anda. Jangan memaksa satu tanda tangan palsu menjadi perang yang lebih besar daripada yang mampu Anda tahan.”

Kalimat itu membuat Tara mengangkat dagu sedikit. Bukan menang, tapi mendapat sandaran.

Namun Nadine justru bergerak. Ia mengalihkan pandangan dari ponsel Arga ke Tara, dan untuk pertama kalinya wajahnya membaca sesuatu yang tak ingin ia akui. Tara tidak sedang melindungi keluarga. Tara sedang menutup seseorang di atasnya. Menutup aliran yang lebih tua, lebih dalam, dan lebih berbahaya.

“Cukup,” kata Nadine pelan.

Tara menoleh cepat. “Kamu membelanya?”

Nadine tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya mengulurkan kunci akses terakhir ke Arga.

Gerakan kecil itu mengubah ruangan.

Bukan karena dramanya. Karena konsekuensinya. Sekarang Arga bukan lagi pengunjung yang dipukul mundur. Ia memegang akses terakhir yang bisa membuka berkas asli sebelum sistem menutup tender. Perubahan kecil yang langsung mengubah medan: siapa yang bisa melihat, siapa yang bisa menahan, siapa yang akan tinggal membawa sisa malu.

Tara melihat kunci di tangan Arga, lalu menatap Nadine. Ada sesuatu yang retak di matanya, singkat namun nyata.

“Jangan pikir ini selesai,” ujar Tara.

Arga memasukkan kunci itu, membuka pengait map biru, dan menarik keluar lembar asli yang selama ini disembunyikan di balik lampiran tiruan.

Mira benar. Ada satu lampiran yang dipisah. Dan di sanalah jalur uang itu tertulis, bukan sebagai kalimat, melainkan sebagai aliran pembayaran, perpindahan nomor kamar, dan tanda terima yang mengarah ke unit yang sama: unit yang menyentuh nama Tara, lalu berhenti terlalu dekat dengan nama Dr. Raka Mahendra.

Arga membaca satu baris. Lalu baris kedua. Lalu halaman belakang.

Di sana, tanda tangan palsu atas namanya muncul lagi. Bukan sebagai tambahan iseng. Sebagai penutup. Sebagai alat untuk menaruh tanggung jawab pada tangan yang bukan miliknya, agar saat kematian lama itu dibuka, orang pertama yang ditunjuk adalah Arga.

Ruangan menjadi lebih sempit tanpa ada yang bergerak.

Staf legal menelan ludah. Perwakilan rumah sakit menatap Dr. Raka yang baru saja masuk dari sisi koridor, wajahnya tertahan seperti orang yang terlambat ke tempat yang sudah mulai runtuh. Tara tidak menoleh ke belakang. Ia tahu siapa yang datang. Dan Arga tahu juga, karena pola uang di kertas itu tidak berhenti di keluarga Wiratama.

Ia berhenti di rumah sakit.

Bisa jadi, juga di kematian lama yang selama ini dibuat tampak bersih.

Arga menekan halaman itu rata di atas meja kaca.

Lalu ia bicara, pelan, cukup untuk semua orang mendengar dan cukup untuk membuat siapa pun yang sedang bersembunyi di balik prosedur tidak bisa pura-pura tidak paham.

“Ini bukan dokumen acak. Ini jalur yang diarahkan. Biaya malam dipindah, nomor kamar ditukar, lampiran dipisah, dan nama saya dipakai untuk menutup jejak. Ada yang ingin kematian lama itu tetap terkubur, dan mereka memilih saya sebagai penanda palsu.”

Tara menegang. Dr. Raka berhenti di ambang pintu.

Arga mengangkat lembar terakhir. Suara jam digital di layar tender menyentuh 14.59.

Sebelum palu lelang terakhir jatuh, Arga membuka berkas asli di depan semua pihak yang berkepentingan—dan dalam satu bacaan singkat, seluruh wajah keluarga Wiratama berubah di tempat.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced