Novel

Chapter 1: The Public Slight

Arga Pratama dipermalukan di koridor rumah sakit mewah saat diposisikan sebagai orang luar dari tender penting keluarga Wiratama. Di tengah tekanan Tara, Dr. Raka, dan Nadine yang mencoba meredam situasi, Arga membaca pola pengiriman dokumen, menyusup ke ruang penyimpanan, dan menemukan berkas penilaian yang seharusnya terkunci. Di halaman belakangnya ada tanda tangan palsu yang menyeret nama Arga ke risiko, sekaligus membuka petunjuk adanya jalur uang yang sengaja disembunyikan dari keluarga Wiratama.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Public Slight

Arga Pratama berdiri di koridor marmer rumah sakit swasta itu seperti orang yang sengaja diletakkan di luar pagar. Bau antiseptik bercampur parfum mahal, kopi dingin dari ruang VIP, dan sesuatu yang lebih tajam: panik yang disembunyikan terlalu rapat. Lampu gantung memantul di lantai mengilap, membuat semua orang tampak lebih rapi dari yang sebenarnya. Di ujung lorong, pintu ruang tender terbuka-tutup oleh staf administrasi, dan setiap kali daun pintu bergerak, Arga menangkap kilatan map krem, lencana tamu, dan wajah orang-orang yang tidak mau terlihat sedang gugup.

Jam digital di atas lift menunjukkan 18.40. Tenggat penawaran untuk renovasi sayap lama dan kontrak layanan rumah sakit tinggal dua puluh menit. Proyek itu bukan sekadar proyek. Bagi keluarga Wiratama, ini pintu untuk menyelamatkan nama, uang, dan posisi mereka di hadapan para pemegang saham. Bagi Arga, ini juga soal sesuatu yang lebih kasar: apakah ia akan tetap dianggap menantu yang boleh berdiri di dalam gedung, atau didorong keluar seperti pengantar barang.

“Pak, tunggu di luar.”

Petugas administrasi yang mendorong troli map bahkan tidak repot menatapnya. Suaranya sopan, tapi kalimat itu menutup pintu lebih keras dari bentakan. Ia mengulang aturan yang bukan milik Arga, lalu mengangkat dagu ke daftar tamu di tangannya. “Yang boleh masuk hanya pihak yang tercantum.”

Arga tidak membalas. Jasnya sederhana, sepatunya bersih tapi tidak cukup mahal untuk koridor seperti ini. Ia hanya menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki lain, kebiasaan lama yang membuat tubuh tetap tenang saat orang lain sengaja membuatnya terlihat kecil. Dua perawat VIP lewat sambil melirik sekilas, lalu cepat membuang pandang. Di rumah sakit macam ini, bahkan tatapan pun mengikuti kelas.

Tara Wiratama muncul dari dekat meja resepsionis lounge VIP. Kakak iparnya itu berdiri dengan ketenangan yang lebih tajam daripada marah. Setelan abu-abu gelapnya presisi, jam tangannya berkilat, dan tatapannya menilai Arga seperti menilai keterlambatan yang memalukan.

“Kamu masih di sini?” tanya Tara.

Tidak tinggi suaranya. Tidak perlu. Nada yang rata justru lebih memalukan.

Arga memandangnya sebentar. “Nadine bilang aku boleh menunggu.”

“Menunggu di mana?” Tara menoleh singkat ke pintu tender, lalu kembali ke Arga. “Bukan di depan ruang yang tidak bisa kamu masuki.”

Di balik kaca, Dr. Raka Mahendra sedang berbicara dengan dua orang vendor. Direktur rumah sakit itu tampak rapi seperti poster, rambut disisir, jas putih tak berkerut, wajah yang dilatih untuk terlihat berwenang. Tapi Arga sudah cukup lama memperhatikan orang yang berpura-pura tenang di tempat-tempat mahal. Rahang Raka bergerak satu kali terlalu cepat, tanda kecil yang tidak terlihat kalau seseorang hanya sibuk memamerkan dirinya.

Petugas administrasi menurunkan suara. “Pak, kalau tidak terdaftar, mohon menunggu di luar lift.”

Itu baru terdengar seperti perintah yang sebenarnya.

Arga menahan dorongan untuk menatap ke pintu tender lagi. Yang penting bukan reaksi mereka. Yang penting urutannya. Ia melihat nomor pada map yang baru lewat, stiker kurir di sisi troli, dan jam masuk staf arsip yang terpantul di dinding kaca. Ada terlalu banyak gerakan yang dibuat terlalu rapi untuk sesuatu yang disebut mendadak kacau.

Seseorang sengaja mengalirkan dokumen dengan ritme tertentu.

Bukan salah paham. Bukan ceroboh.

Di dekat papan antrian VIP, Tara mendekat setengah langkah. “Kau jangan bikin situasi tambah buruk. Ibu sedang di dalam. Kalau kamu memaksa masuk, yang malu bukan cuma kamu.”

Arga menahan napas, bukan karena takut, melainkan karena ia sedang menyimpan emosi agar tidak mengganggu pengamatan. “Aku tidak bikin gaduh.”

“Tapi kamu bisa.” Tara menatapnya seperti mengingatkan fungsi sesuatu yang rapuh. “Itu yang sedang aku cegah.”

Kalimat itu masuk lebih dalam daripada penghinaan biasa. Bukan karena keras, tetapi karena ia diucapkan seolah Arga memang ancaman yang harus dicegah. Seolah keberadaan Arga di koridor saja sudah cukup merusak muka keluarga.

Di saat yang sama, ponsel di saku jasnya bergetar.

Pesan dari Nadine Wiratama hanya satu baris: Jangan mempermalukan keluarga di depan rumah sakit.

Arga membaca kalimat itu tanpa mengubah wajah. Ia hampir bisa membayangkan cara Nadine mengetiknya—cepat, hati-hati, dengan napas ditahan. Nadine selalu berusaha jadi penahan retak di rumah itu. Tapi pesan singkat seperti itu justru memberi tahu satu hal: ia sudah melihat Arga dari jauh, dan ia memilih menjaga warna dinding lebih dulu daripada menanyakan siapa yang sedang dikunci di luar.

Sebelum ia sempat menjawab, suara roda troli linen menyelinap melewati karpet tebal. Seorang perawat muda membawa map krem setipis hasil foto rontgen, lalu ragu ketika melihat Arga. Pada detik yang sama, staf administrasi di belakangnya membuat gerakan kecil dengan dua jari.

Map itu tidak diserahkan.

Benda itu justru dibelokkan melewati pintu arsip sementara.

Arga menangkapnya dengan mata yang sama tenangnya seperti saat orang lain biasa menganggap ia tidak mengerti. Di balik wajah datar itu, sesuatu bergerak cepat. Map itu bukan salah kirim. Bukan kebetulan. Ada arah. Ada tangan yang memilih siapa melihat apa, dan kapan.

Ia melangkah setengah meter ke samping, cukup untuk melihat refleksi pintu kaca ruang arsip. Jam internal di sana menunjuk 18.41. Satu menit lewat sejak ia pertama kali merasa pola itu tidak beres.

Tara memperhatikan gerak kecil itu. “Jangan mulai berpikir yang bukan-bukan,” katanya.

Arga menoleh. “Kalau memang biasa, kenapa semua orang tampak takut?”

Tara tidak menjawab. Itu sudah jawaban.

Arga pernah hidup cukup lama di rumah Wiratama untuk tahu: ketakutan orang kaya jarang muncul dalam bentuk teriakan. Ia muncul sebagai pintu yang ditutup pelan, sebagai staf yang menghindari mata, sebagai map yang diarahkan ke meja tertentu dan bukan ke meja lain. Di rumah sakit ini, ketakutan itu sedang diberi rapi dengan kartu akses, daftar tamu, dan jam deadline.

Dari dalam ruang tender, suara Dr. Raka terdengar samar, memanggil nama seseorang dengan nada profesional. Lalu, lebih pelan, suara Tara menekan dari sisi pintu: “Pastikan semua lampiran yang masuk sudah dicatat. Tidak ada yang masuk setelah pukul tujuh.”

Arga menatap ke arah pintu, lalu ke koridor samping yang mengarah ke ruang arsip dan gudang dokumen sementara. Jalur itu sempit, dijaga separuh hati, dan cukup dekat untuk dilalui tanpa banyak mata jika seseorang tahu cara berjalan tanpa terlihat terburu-buru.

Ia mengerti sesuatu yang orang lain di koridor itu sedang sibuk menyembunyikan: file yang diperebutkan bukan hanya lembar penilaian. Ada lapisan lain yang mengikat tender rumah sakit, arus pembayaran, dan nama-nama yang akan dibuat bersih jika ada kesalahan yang dipindahkan ke tempat yang tepat.

“Pulang saja,” kata Tara lagi, kali ini lebih rendah. “Sebelum semuanya makin jelek.”

Arga melirik jam ponselnya. 18.42.

“Kalau aku pulang sekarang,” ujarnya tenang, “apa yang kalian sembunyikan akan berhenti bergerak?”

Tara menegang satu detik. Hanya satu. Tapi cukup.

Di ujung koridor, pintu lift terbuka. Nadine akhirnya muncul. Blazer kremnya rapi, rambutnya disemat sederhana, dan wajahnya berusaha mempertahankan sesuatu yang sudah retak sebelum ia sempat mengucapkan apa pun. Ia tidak mendekat langsung. Ia berhenti di batas karpet, seperti orang yang tahu langkahnya bisa jadi salah satu sisi dari pertengkaran yang tidak boleh meledak di tempat umum.

“Arga,” katanya pelan.

Nada suaranya bukan perintah, bukan juga permintaan. Lebih buruk: nada seseorang yang sedang memilih pihak sambil berharap tidak terlihat memilih.

“Masuklah ke mobil,” lanjut Nadine. “Biar aku yang bicara dengan Tara.”

Tara memalingkan kepala sedikit, seolah keputusan itu lucu tapi belum pantas ditertawakan.

Arga menatap Nadine. Ada sesuatu yang menahan perempuan itu di antara rasa sayang keluarga dan kebutuhan untuk menjaga wajah. Ia tidak mengacuhkannya. Ia hanya tahu, pada malam seperti ini, kalau ia mengikuti permintaan Nadine, ia akan keluar dari koridor tanpa pernah tahu siapa yang menggerakkan siapa.

“Kalau aku pergi,” kata Arga, “aku cuma menghilang dari ruangan. Bukan dari masalah.”

Nadine menggigit bagian dalam pipinya. “Kamu tidak lihat ini tempatnya?”

“Justru karena lihat.”

Sebelum Nadine sempat membalas, pintu ruang tender terbuka lebih lebar. Dr. Raka keluar dengan langkah yang dibuat mantap, tetapi ujung jarinya masih menekan map cokelat di bawah lengannya seperti menahan sesuatu agar tidak jatuh. Ia melirik Arga sekilas, lalu ke Tara. Di belakangnya, seorang staf membawa map tambahan yang tepi kertasnya belum disusun rapi.

“Pak Arga,” kata Raka dengan nada yang dibuat sopan. “Maaf, ini rapat terbatas. Mohon pengertiannya.”

Pak Arga. Bukan menantu. Bukan keluarga. Hanya sapaan yang mengubahnya menjadi tamu yang keliru alamat.

Arga mengangguk kecil. “Tentu.”

Raka tampak lega terlalu cepat.

Arga kemudian menggeser pandangannya ke staf arsip yang baru keluar dari pintu samping. Ada stiker kurir di pergelangan mapnya. Kode penerimaan tertulis jelas di sudut: 18.17. Lebih awal daripada waktu yang disebutkan Tara. Lebih awal daripada alibi yang mereka bangun di koridor ini.

Saat itulah Arga memutuskan bergerak.

Bukan dengan suara, bukan dengan ancaman. Ia berjalan ke arah koridor samping seolah sedang mencari toilet VIP, melewati meja perawat, menunduk pada dua penjaga keamanan yang terlalu sibuk memeriksa panggilan telepon untuk memperhatikannya. Di ujung lorong, pintu ruang penyimpanan dokumen setengah terbuka karena kunci elektromagnetik baru saja berganti. Sisa celahnya cukup untuk tangan, cukup untuk kartu, cukup untuk orang yang tahu ada jeda kecil dalam pengawasan.

Arga masuk tanpa drama.

Di dalam, udara lebih dingin. Bau kertas, plastik map, dan kopi mahal dari ruang rapat di seberang dinding memenuhi paru-parunya. Rak besi berdiri rapat, penuh map evaluasi vendor, lampiran teknis, dan folder yang diikat label merah. Sebuah lampu meja menyala redup. Di dinding, jam digital menunjukkan 18.44.

Terlambat dua menit dari jawaban yang mereka harapkan.

Arga bergerak di antara rak seperti seseorang yang sudah mengenal bentuk kekacauan sejak lama. Ia tidak membuka semua map. Ia membaca label, susunan, urutan masuk, lalu memilih satu map dengan nomor registrasi yang stempel kurirnya tampak baru dipindah. Tanda itu kecil, tapi di dunia tender, tanda kecil sering lebih jujur daripada pidato panjang.

Lalu ia melihat rak paling bawah.

Ada map yang seharusnya terkunci di sana. Satu file penilaian dengan segel plastik utuh, diselipkan di belakang bundel dokumen umum agar orang yang masuk sekilas mengira itu arsip biasa. Jarinya menyentuh sisi map itu, lalu berhenti. Segelnya tidak rusak. Tapi ada bekas tekanan di sudut kanan bawah, seperti pernah dipindahkan dengan hati-hati lalu dikembalikan terburu-buru.

Arga membuka map itu hanya pada halaman pertama.

Nama proyek, daftar nilai, beberapa catatan tangan, dan penilaian awal yang terlalu bersih untuk sebuah pengadaan bernilai sebesar ini.

Terlalu bersih berarti terlalu dipoles.

Ia membalik satu halaman lagi, lalu halaman berikutnya. Di balik lembar penilaian yang resmi, ada lampiran kecil yang diselipkan di bagian belakang—bukan bagian yang dibuka staf biasa. Di sana, rangkaian angka pembayaran dicatat dengan pola yang bukan pola administrasi rumah sakit. Ada selisih yang dibagi rata ke tiga nama akun, satu di antaranya disamarkan seperti biaya jasa tambahan. Jalur uang yang sengaja dipotong dari pandangan keluarga Wiratama.

Dan di halaman belakang file itu, pada lembar kosong yang mestinya tidak memuat apa pun, ada tanda tangan.

Namanya sendiri.

Arga berhenti bergerak.

Untuk sepersekian detik, koridor, jam, dan napasnya seperti menjauh. Tanda tangan itu bukan miliknya, tapi dibuat untuk terlihat cukup mirip agar bisa menyeretnya masuk bila file ini meledak. Satu garis palsu di tempat yang tepat bisa mengubah orang yang ditertawakan menjadi tersangka. Bisa menanamkan risiko pada orang yang mereka dorong keluar dari pintu sejak awal malam.

Di luar, suara langkah cepat mendekat.

Tara.

Arga menutup map itu perlahan, lalu mengambilnya utuh ke bawah lengan. Ia tidak panik. Justru itu yang paling berbahaya. Di koridor tadi, ia diposisikan sebagai menantu yang boleh menunggu di luar. Sekarang ia memegang bukti yang seharusnya terkunci, dan bukti itu menyeret namanya ke dalam permainan yang lebih besar dari sekadar penghinaan keluarga.

Ia menatap sekali lagi ke arah lembar tanda tangan palsu itu sebelum memasukkan map ke dalam tas dokumen tipis yang ia bawa.

Saat pintu ruang penyimpanan bergetar di belakangnya, Arga sudah tahu satu hal: siapa pun yang menyisipkan file ini ingin ia tampak serakah, ceroboh, atau bisa dikorbankan. Tapi urutan pengiriman, waktu keluar-masuk map, dan jalur uang yang baru saja ia lihat menyatakan sesuatu yang lain.

Ada tangan yang sengaja menyembunyikan sesuatu dari keluarga Wiratama.

Dan orang itu tidak akan berhenti hanya karena Arga dipermalukan di koridor.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced