Chapter 11
Pintu ruang administrasi dikunci dari dalam dengan bunyi logam yang sengaja dibuat keras—sebuah pernyataan bahwa Arga Pratama tidak lagi diinginkan di meja keputusan. Di ambang dapur warisan Wulandari, Arga berdiri dengan map penilaian asli di tangan kiri dan notifikasi status izin legal di tangan kanan. Ini bukan sekadar lelang; ini adalah perebutan legitimasi. Jika dia kalah di sini, namanya akan dihapus dari sejarah restoran, dan seluruh kerja kerasnya selama berbulan-bulan akan dipelintir menjadi kesalahan operasional keluarga.
Di balik kaca buram, staf administrasi tampak gelisah. Ratna berdiri tegak di lorong menu, wajahnya sedingin marmer. Dimas, dengan ponsel yang tak pernah lepas dari telinga, memberi isyarat agar tidak ada dokumen yang diserahkan kepada Arga. "Mulai sekarang, semua salinan lewat saya," ujar Ratna, suaranya tajam seperti pisau dapur yang baru diasah. "Kamu cukup di dapur. Jangan masuk ke ruang keputusan."
Arga tidak membalas dengan kemarahan. Ia hanya menunjuk nomor lampiran pada dokumen di tangannya. "Lampiran yang kalian pakai salah nomor, Ratna. Di mata hukum, detail sekecil itu membatalkan seluruh surat kuasa yang kalian buat untuk mengusirku."
Ratna menegang. Arga mengangkat lembar status izin yang baru masuk. Notifikasi itu menunjukkan bahwa otoritas legal telah mengambil alih pengawasan izin operasional restoran. Dimas melirik layar ponselnya, wajahnya memucat seketika. Upaya mereka mengunci akses Arga sudah terlambat.
Maya muncul dari balik lorong, langkahnya mantap. Ia menyerahkan map tipis kepada Arga. "Ma, kalau pintu administrasi dikunci, itu justru bukti niat menutup akses. Legal sudah mencatat semuanya," ucap Maya tegas. Ratna menatap anaknya dengan tatapan tak percaya, namun Maya tidak mundur. "Aku memilih kebenaran. Kalau Arga berdiri di sisi itu, itu karena kalian yang salah mengatur rumah."
Arga melangkah melewati ambang dapur. Tidak ada yang berani menghalangi. Di ruang rapat, suasana mencekam. Pak Hadi Lestari duduk di ujung meja, menatap cap internal pada dokumen yang dipalsukan Dimas. "Cap ini saya kenal, dan ini bukan dari arsip yang sah," ujar Pak Hadi datar.
Dimas mencoba menyela, "Ini urusan internal!"
"Bukan lagi," potong Arga. Ia membuka map penilaian asli. "Ini adalah bukti sabotase aset. Nilai yang kalian laporkan tidak sinkron dengan data asli, dan jejak revisinya mengarah langsung ke akses yang Dimas kelola."
Ruangan itu senyap. Konsorsium yang tadinya berniat menutup tender kini mulai menarik diri, wajah mereka menunjukkan ketidaktertarikan pada risiko hukum. Ratna akhirnya duduk, kekuatannya seolah menguap. Arga meletakkan satu bukti terakhir di tengah meja—sebuah berkas yang merinci aliran dana bayangan yang selama ini mengendalikan operasional keluarga.
"Palu lelang ini tidak akan jatuh untuk kalian," ujar Arga tenang. Saat ia membuka berkas tersebut, seluruh ruangan sadar: kendali atas warisan Wulandari telah berpindah tangan. Perang yang lebih besar baru saja dimulai, dan kali ini, Arga yang memegang kendalinya.