Novel

Chapter 1: Menantu yang Dicoret di Meja Keluarga

Arga dipermalukan dan hampir dicoret dari rapat keluarga besar Wijaya, tetapi ia menahan diri, membaca celah pada map arsip, dan menyadari dokumen asli yang menentukan hak kendali keluarga masih berada di dalam rumah.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Menantu yang Dicoret di Meja Keluarga

Arga baru setengah langkah masuk ke ruang tamu marmer itu ketika Sinta menempelkan telapak tangannya ke sandaran kursi di ujung meja, menahannya seperti barang milik sendiri. Kursi itu jelas bukan untuk tamu. Terlalu dekat pilar, terlalu jauh dari map rapat, terlalu sengaja dibiarkan sempit agar siapa pun yang duduk di sana terlihat seperti orang yang kebetulan tersesat ke rumah Wijaya.

Di meja utama, map cokelat sudah dibuka. Layar presentasi menampilkan angka penguncian dana proyek gudang pelabuhan—angka yang menentukan kontrak, arus kas, dan siapa yang masih dianggap perlu diajak bicara sebelum rapat dewan pekan depan. Di sisi luar pintu, sopir dan dua staf rumah berdiri kaku, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tidak ikut diakui.

Sinta menatap Arga tanpa sedikit pun mengurangi tekanan telapak tangannya pada kursi. “Yang duduk di sini cuma orang yang punya jabatan dan hak tanda tangan.”

Kalimat itu tidak keras. Justru itu yang membuatnya memalukan. Di rumah besar seperti ini, penghinaan yang diucapkan datar lebih berbahaya daripada teriakan.

Arga berhenti. Batik yang dipakainya terasa terlalu rapi untuk dipaksa berdiri di pinggir ruangan seperti pengantar dokumen. Ia melihat Nadira di sisi kanan meja. Istrinya duduk tegak, wajahnya tenang sampai batas yang dipaksakan, jari-jarinya rapat di atas map di depannya. Sekilas saja mata mereka bertemu. Ada maaf di sana, juga peringatan: jangan meledak, jangan memaksa, jangan membuat ayahnya punya alasan untuk mengusir mereka lebih jauh.

Hendra Wijaya belum mengangkat kepala dari layar. Suaranya tetap datar saat ia membaca angka-angka. “Dana operasional harus dikunci hari ini. Kontrak vendor ditahan. Dokumen induk saya minta disiapkan ulang sebelum rapat dewan minggu depan.”

Sinta menyambar sebelum kalimat itu selesai mendarat. “Dan urusan begini tidak butuh masukan menantu yang tidak punya jabatan. Berdiri di luar saja sudah cukup.”

Tidak ada yang tertawa. Tidak perlu. Beberapa kerabat menunduk ke kertas masing-masing, pura-pura sibuk. Notulis yang duduk dekat stop kontak mengetik lagi, tetapi kali ini jarinya lebih cepat dari biasa. Arga menangkap detail itu: orang yang mencatat bukan isi rapat, melainkan cara keluarga itu menghapus satu nama dari meja sendiri.

Hendra akhirnya mengangkat kepala. Hanya sebentar, cukup untuk memastikan ruangan tahu siapa yang memegang kendali. “Kamu paham posisimu, Arga? Duduk saja belum diberi tempat. Jangan bicara seolah kamu ikut menanggung keputusan.”

Kalimat itu jatuh bersih di tengah ruangan. Arga tidak menjawab. Ia menahan napas tetap rata dan tangannya tetap di sisi tubuh. Jika ia memotong pembicaraan, mereka akan menjadikannya alasan. Jika ia memohon, mereka akan menghafalnya sebagai menantu yang memang pantas dicoret.

Yang ia lakukan justru berbeda: ia melihat. Map-map di meja. Cap arsip di pojok berkas. Nomor register yang dibacakan Sinta tadi. Jari perempuan itu yang mengetuk pinggir layar terlalu cepat. Dan staf arsip muda bernama Riko, yang berdiri di belakang notulis dengan tumpukan map cokelat di lengan, menegang sesaat saat Sinta menyebut nomor arsip induk.

Bukan gugup biasa. Ada jeda kecil, lalu jari Riko mengeras di punggung map.

Arga menyimpan detail itu. Dalam keluarga ini, satu jeda kecil sering lebih jujur daripada seribu pembelaan.

Pak Damar, yang sejak tadi diam di sisi kiri meja, menggeser kacamatanya. Orang tua itu jarang bicara panjang, tapi setiap kali memilih kata, ruangan langsung mendengarnya. “Nomor arsip yang tadi disebut,” katanya pelan, “minta dibuka ulang. Saya mau lihat lampiran aslinya.”

Sinta menoleh cepat. “Sudah diverifikasi.”

“Verifikasi bukan soal siapa yang paling keras bicara,” jawab Pak Damar. “Tunjukkan map aslinya.”

Nada ruangan berubah. Hendra menekan buku jarinya ke meja. Nadira menoleh sangat kecil ke arah map, lalu menunduk lagi. Arga tahu, pada titik itu, bukan sekadar urusan administrasi yang bergerak. Ada sesuatu yang disembunyikan, dan setiap orang di meja itu paham bahwa jika map asli dibuka di hadapan saksi, posisi beberapa orang bisa runtuh.

Riko meletakkan map cokelat di tengah meja. Bunyi map menyentuh marmer terdengar terlalu datar untuk sesuatu yang mulai berbahaya. Sinta langsung meraihnya, membuka beberapa lembar dengan gerakan terlalu cepat untuk disebut tenang. Hendra tetap menatap layar, tetapi suaranya turun setengah nada. “Tidak ada masalah. Semua sudah dihitung.”

“Kalau sudah dihitung, kenapa nomor ini beda?” tanya Pak Damar.

Arga melihatnya sekarang: cap arsip di pojok lembar tidak sejajar dengan nomor register yang dibacakan tadi. Selisihnya kecil, tapi cukup untuk mematahkan cerita yang sedang dipaksakan ke ruangan. Bukan kekeliruan kosmetik. Jika nomor tidak cocok, berarti salinan di meja belum tentu sah. Jika salinan tidak sah, maka seseorang sedang menahan versi yang sebenarnya.

Sinta menutup map terlalu cepat. “Itu penyesuaian internal.”

“Internal atau tidak, capnya harus cocok,” kata Pak Damar.

Satu detik sunyi menyusul. Arga menangkap napas yang tertahan di sisi meja. Ia tidak bergerak, tetapi di kepalanya arah mulai terbentuk. Mereka terburu-buru. Berarti dokumen itu penting. Mereka menutup rapat. Berarti ada lebih dari satu versi berkas, atau ada satu dokumen yang belum ingin ditunjukkan di hadapan keluarga. Dan jika Riko bereaksi seperti itu saat nomor disebut, dokumen yang menentukan hak kontrol keluarga mungkin masih ada di rumah ini—dekat sekali.

Hendra menutup presentasi setengah layar. “Kita lanjut tanpa drama. Yang perlu tanda tangan, tanda tangan. Yang tidak punya jabatan, jangan mengganggu.”

Sinta merapatkan map ke dadanya, lalu menatap Arga untuk pertama kalinya dengan senyum tipis yang dingin. “Kamu dengar sendiri. Jangan bikin dirimu makin tidak berguna.”

Arga masih diam. Ia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berguna daripada pembelaan: pola. Ada map yang mereka buru, ada versi yang disembunyikan, ada satu staf yang tahu lebih banyak daripada yang berani diucapkannya.

Rapat bergerak cepat setelah itu. Hendra membekukan akses dana proyek sementara, lalu membagi tugas penyiapan ulang kontrak. Sinta memotong dua kali untuk menegaskan siapa yang menerima salinan final. Nadira mengikuti alur dengan wajah yang tidak menunjukkan apa-apa, tetapi Arga melihat jari-jarinya menekan sisi map terlalu kuat. Pak Damar tidak ikut menekan, juga tidak membela. Ia hanya memeriksa berkas yang lewat satu per satu, seolah sedang mencari retak kecil di struktur yang dipakai bertarung.

Di pinggir ruangan, Arga tetap berdiri. Bukan karena tak punya pilihan, melainkan karena ia sedang menghitung. Staf rumah yang tadi menunggu di pintu sudah tak berani menatapnya lagi. Riko malah menurunkan mapnya lebih rendah, menutup nomor di punggung berkas dengan lengannya sendiri.

Saat rapat hampir ditutup, Sinta berdiri. Kalimat berikutnya diucapkannya seperti putusan yang sudah ia nikmati lebih dulu. “Mulai hari ini, akses Arga ke pembahasan aset keluarga dihentikan sampai ada persetujuan ulang. Namanya tidak perlu ada di sesi berikutnya.”

Beberapa kepala menoleh. Bukan karena ingin membela Arga, melainkan karena paham konsekuensinya: dicoret dari sesi berarti dicoret dari jalur informasi. Dicoret dari jalur informasi berarti bisa diputus dari keputusan, dari akses, dari kesempatan untuk menolak saat waktunya datang.

Arga menerima kalimat itu tanpa mengubah wajah. Tapi di balik tenang yang ia pakai seperti lapisan baja tipis, pikirannya sudah bekerja. Jika mereka menutup akses hari ini, berarti mereka takut pada sesuatu yang ada di dalam rumah. Jika map asli belum keluar, berarti masih ada celah sebelum keputusan berikutnya mengeras jadi pengusiran resmi.

Ketika kursi-kursi mulai bergeser, suara map ditutup, dan langkah sepatu mengisi ruangan, Nadira lewat di dekatnya. Ia tidak berhenti. Namun ujung jarinya sempat menyentuh map tipis yang ia bawa, terlalu singkat untuk disebut sengaja, terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Arga menangkapnya sebagai isyarat kecil: istrinya tahu ada sesuatu yang salah, tapi tak sanggup mengucapkannya di depan ayahnya.

Pak Damar menutup kacamata lipatnya dan menatap Arga singkat. Bukan tatapan hangat. Bukan juga usiran. Hanya tatapan orang yang belum memutuskan apakah yang berdiri di pinggir meja ini lemah, atau justru sedang menunggu waktu yang tepat.

Arga membalas tanpa kata. Lalu ia mengikuti arus keluar dari ruang tamu marmer itu, tetap tanpa kursi, tanpa hak bicara, dan tanpa satu pun ledakan yang bisa dipakai mereka untuk menuduhnya kehilangan kendali.

Di koridor samping, saat pintu kaca mulai menutup di belakangnya, Riko lewat tergesa dengan map di tangan kiri. Ia menoleh ke arah ruang arsip, menelan ludah, lalu memindahkan map itu ke tangan kanan. Gerakannya kecil, tetapi Arga menangkapnya.

Gerakan orang yang baru sadar telah menunjukkan sesuatu yang tidak semestinya terlihat.

Arga berhenti satu langkah. Dari celah pintu yang belum rapat, ia melihat cap arsip pada map yang baru dibawa Riko—bentuknya mirip dengan nomor yang tadi diperdebatkan, tetapi ada bekas tekanan tua di sudutnya, seperti dokumen itu pernah dipindah dari tempat penyimpanan lain lalu dikembalikan tergesa. Itu bukan salinan meja. Bukan pula berkas buatan sembarangan.

Dokumen aslinya masih ada di dalam rumah.

Dan untuk pertama kalinya sejak dipaksa berdiri di pinggir meja, penghinaan itu berubah menjadi arah.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced