Puncak Pertarungan
Pagi itu, ruang rapat dewan direksi terasa lebih sempit dari biasanya. Udara dingin AC bercampur bau kopi pahit dan kertas baru. Elara melangkah masuk dengan map kulit hitam di tangan, jantungnya berdegup kencang tapi langkahnya mantap. Semalam ia baru saja menyelesaikan aliansi rapuh dengan Lira di kantor Aris. Kini, segalanya harus berakhir di sini.
Ia meletakkan map di meja panjang. Dua puluh pasang mata dewan langsung tertuju padanya. Ratna duduk di ujung meja, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jemarinya mengetuk pelan—tanda yang hanya Elara kenal.
"Selamat pagi," kata Elara, suaranya tenang meski dada terasa sesak. "Hari ini kita selesaikan sengketa warisan yang sudah terlalu lama. Saya membawa bukti final."
Ia membuka map dan mengeluarkan dua dokumen utama. Pertama, hasil audit forensik yang menyatakan tanda tangan ibunya pada surat pelepasan warisan adalah palsu. Kedua, sertifikat saham mayoritas yang selama ini disembunyikan, tercatat atas nama Elara sejak ibu kandungnya masih hidup.
Ruangan hening. Ratna tersenyum tipis. "Bukti apa lagi ini, Elara? Kau selalu pandai bercerita."
Elara menatap langsung ke mata ibu tirinya. "Ini bukan cerita. Ini hasil laboratorium independen. Dan ini," ia dorong dokumen saham ke tengah meja, "bukti bahwa saya pemegang saham mayoritas sah sejak awal. Ratna hanya mengelola, bukan memiliki."
Beberapa anggota dewan mulai berbisik. Aris duduk di samping Elara, posturnya tegang tapi diam. Ia sudah menyerahkan 42% saham pribadinya kemarin. Kini ia hanya menunggu.
Ratna bangkit setengah berdiri. "Ini pemalsuan! Dewan tidak akan tertipu oleh dokumen yang muncul mendadak!"
"Semua sudah diverifikasi," jawab Elara. "Dan ada saksi ahli yang siap memberikan keterangan jika diperlukan."
Aris akhirnya bicara, suaranya rendah tapi jelas terdengar ke seluruh ruangan. "Saya mendukung klaim Elara sepenuhnya. Sebagai suaminya, dan sebagai pemegang saham, saya serahkan hak suara saya padanya hari ini. Apa pun konsekuensinya."
Kata-kata itu seperti bom. Beberapa direktur yang selama ini mendukung Ratna mulai gelisah. Satu per satu mereka menarik dukungan. Ratna kehilangan mayoritas suara dalam hitungan menit. Wajahnya memucat saat ketua dewan mengumumkan hasil voting sementara.
"Ini belum selesai," desis Ratna sebelum meninggalkan ruangan diiringi dua pengawal pribadinya.
Rapat resmi ditutup pukul sepuluh pagi. Elara keluar ke koridor lebar gedung. Lira sudah menunggu di dekat lift, wajahnya tegang.
"Kau benar-benar melakukannya," kata Lira pelan. "Tapi aku masih butuh jaminan bagianku."
Elara berhenti di depannya. "Aliansi kita berlaku sampai Ratna resmi tersingkir. Bukti pemalsuan tanda tangan ibu kita akan kita gunakan bersama. Tapi kau berhenti mengancam Aris soal pencucian aset."
Lira menatap map di tangan Elara. "Kalau bukti itu asli, aku ikut. Tapi jangan coba-coba mengkhianatiku lagi, El."
"Kita sama-sama korban Ratna," jawab Elara. "Ini bukan tentang mengkhianati, tapi bertahan hidup. Kau dapat bagian yang adil setelah semuanya beres."
Lira mengangguk pelan, keraguan di matanya mulai luntur. "Baiklah. Tapi aku ingin lihat dokumen aslinya sekarang."
Elara membuka map dan menunjukkan salinan yang sudah dilegalisir. Lira membaca cepat, napasnya tertahan. "Ini... cukup untuk menghancurkannya."
Di ujung koridor, dua pria berpakaian hitam berusaha mendekat ke arah mereka. Aris muncul tiba-tiba, berdiri di antara Elara dan Lira dengan tubuhnya. Ia mengangkat tangan memberi isyarat ke satpam gedung. Dua pria itu langsung ditahan. Aris tidak berkata apa-apa, hanya menatap Elara sekilas—tatapan yang menyatakan ia rela kehilangan lebih banyak demi menjaga bukti tetap aman.
Elara merasakan sesuatu berubah dalam dada. Bukan hanya perlindungan, tapi pengakuan bahwa Aris mempercayakan kendali penuh padanya.
Kembali ke ruang rapat utama untuk sesi penutupan, Elara naik ke podium. Sorotan kamera media yang diizinkan masuk menyala terang. Ia memegang map tebal itu dengan kedua tangan.
"Hari ini, saya berdiri di sini bukan sebagai pengganti siapa pun," katanya, suara tegas dan jelas. "Saya Elara, ahli waris sah. Bukti ini," ia angkat map itu tinggi-tinggi, "menunjukkan tanda tangan palsu yang mencoba menghapus hak saya. Saham mayoritas sudah kembali ke tangan yang berhak. Nama Ratna tidak lagi tercantum dalam silsilah keluarga dan kepemilikan perusahaan."
Ratna yang masih berada di ruangan belakang mencoba memprotes, tapi suaranya tenggelam oleh tepuk tangan dewan yang mulai berpihak. Aris berdiri di samping podium, tangannya menyentuh punggung Elara sekilas—sentuhan ringan yang penuh makna di depan publik.
Elara menatap ke arah Aris. Di balik sorotan lampu, ia melihat lelaki itu telah kehilangan banyak pengaruh hari ini, tapi tatapannya tidak menyesal. Justru ada kelegaan yang aneh.
Puncak pertarungan telah tiba. Nama ibu tirinya akan dihapus selamanya dari catatan keluarga. Namun saat sorak media memenuhi ruangan, Elara tahu perang belum benar-benar usai. Aris masih menyimpan satu kunci terakhir—kunci perusahaan yang ia janjikan sebagai kompensasi yang melampaui semua kontrak.
Dan Elara belum memutuskan apakah ia akan menerimanya dengan tangan terbuka, atau dengan syarat baru yang lebih ketat.