Novel

Chapter 8: Ancaman dari Masa Lalu

Bab 8: Di rumah Aris malam setelah rapat dewan darurat, Lira (adik Elara) muncul dan mengancam membongkar rahasia pencucian aset Aris kecuali ia mendapat bagian warisan. Elara menghadapi dilema antara melindungi Aris atau menghancurkan Lira, lalu menawarkan perjanjian cerdas: aliansi sementara melawan Ratna dengan bukti palsu tanda tangan ibu sebagai leverage. Aris memberikan ruang keputusan penuh kepada Elara, menegaskan komitmennya sebagai mitra meski berisiko kehilangan lebih banyak. Lira mundur sementara tapi memberi ultimatum untuk rapat dewan besok pagi. Bab diakhiri dengan pesan misterius yang mengisyaratkan aliansi tak terduga di rapat dewan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Ancaman dari Masa Lalu

Malam sudah menyelimuti rumah Aris di kawasan elite Jakarta Selatan ketika bel pintu berbunyi sekali—singkat, tegas. Elara berdiri di tengah ruang tamu yang lampunya masih redup, jantungnya berdegup kencang setelah rapat dewan darurat pagi tadi. Aris baru saja menyerahkan 42% saham pribadinya kepadanya di depan dewan, sebuah pengorbanan yang masih terasa berat di udara. Tapi sekarang, ancaman baru datang bukan dari Ratna, melainkan dari masa lalu yang ia kira sudah terkubur.

Pintu terbuka. Sosok adik perempuannya—Lira—melangkah masuk, rambutnya acak-acakan, mata menyala penuh amarah yang lama terpendam. Di belakangnya, dua pria berpakaian hitam berdiri diam, jelas bukan sopir biasa.

"Kamu pikir aku akan diam saja setelah kamu ambil alih semuanya, Kak?" suara Lira tajam, tanpa basa-basi. "Pernikahan pengganti ini bukan mainan. Aku tahu rahasia Aris—pencucian aset yang dia lakukan untuk mengalihkan dana dari Ratna. Satu bocoran ke media, dan merger kalian hancur. Begitu juga reputasi 'istri' pengganti ini."

Elara tetap berdiri tegak, tangannya yang memegang gelas air mineral sedikit bergetar tapi suaranya tenang. "Kamu bukan ancaman, Lira. Kamu korban Ratna, sama seperti aku. Dia yang memanipulasi kita berdua sejak ayah meninggal."

Lira tertawa pendek, pahit. "Korban? Kamu yang kabur dan biarkan aku jadi umpan. Sekarang kamu kembali dengan bukti palsu ibu kita, dan Aris menyerahkan saham seperti itu? Aku mau bagianku. Atau aku buka semuanya besok pagi di rapat dewan."

Aris bangkit dari sofa, langkahnya pelan tapi penuh kewaspadaan. Ia tidak langsung membela diri. Matanya hanya melirik Elara sekilas—bukan tatapan pelindung murahan, melainkan pengakuan bahwa keputusan ada di tangan Elara. Itu membuat dada Elara sesak. Pengorbanan 42% saham tadi pagi bukan kata-kata kosong; itu harga nyata yang Aris bayar untuk kepercayaan.

"Kalau kamu bocorkan, kamu juga ikut hancur," kata Aris datar, tapi nada suaranya tidak mengancam. "Ratna sudah memindahkan dana ke luar negeri. Bukti yang Elara pegang bisa menyeret semua orang, termasuk kamu."

Lira melangkah lebih dekat ke Elara, suaranya turun menjadi bisikan yang lebih berbahaya. "Aku bukan anak kecil lagi. Ratna janji padaku kalau aku kabur dari pernikahan asli, aku akan dapat bagian warisan. Tapi dia bohong. Sekarang aku tahu kamu punya dokumen asli—tanda tangan ibu yang dipalsukan. Beri aku akses ke aset itu, atau aku kerja sama dengan pihak luar yang lebih kuat dari Aris."

Elara merasakan tekanan di dada semakin kuat. Adiknya bukan lagi gadis kecil yang dulu ia lindungi. Lira adalah senjata yang Ratna asah, tapi sekarang senjata itu berbalik. Memilih melindungi Aris berarti memberi Lira amunisi. Menghancurkan Lira berarti kehilangan satu-satunya keluarga darah yang tersisa. Tapi menyerah bukan pilihan—ia sudah terlalu jauh menuntut kemitraan setara, bukan sekadar perlindungan.

"Kita bicara di ruang kerja," kata Elara akhirnya, suaranya tegas. Ia berbalik tanpa menunggu jawaban, merasakan langkah Aris mengikuti di belakangnya—bukan mendominasi, tapi mendampingi.

---

Ruang kerja pribadi Aris diterangi lampu meja kuning hangat, kontras dengan pemandangan kota yang berkelap-kelip di balik dinding kaca. Elara duduk di kursi kulit hitam, Lira di hadapannya. Aris berdiri di samping, tangannya bersandar ringan di meja—tidak menyentuh Elara, tapi kehadirannya terasa sebagai benteng yang mahal.

"Ratna memalsukan tanda tangan ibu kita untuk merebut aset," kata Elara, mengeluarkan amplop tipis dari tasnya tapi tidak membukanya sepenuhnya. Hanya menunjukkan sudut dokumen yang sudah Elara verifikasi sendiri. "Kamu tahu itu, Lira. Kamu juga korban. Tapi kalau kamu ancam Aris sekarang, kamu hanya membantu Ratna menyembunyikan kebenaran tentang kematian ayah."

Lira menatap amplop itu dengan lapar, tapi matanya juga berkaca-kaca. "Kamu simpan bukti itu sendiri. Kamu tidak percaya siapa pun, termasuk suami penggantimu ini."

Aris tidak membantah. Ia hanya berkata pelan, "Elara punya hak penuh atas bukti itu. Aku sudah serahkan sahamku pagi tadi. Bukan karena terpaksa, tapi karena aku ingin dia yang memimpin langkah selanjutnya." Suaranya rendah, tapi setiap kata membawa bobot pengorbanan nyata—kehilangan kendali dewan yang bisa membuat posisinya goyah besok pagi.

Elara merasakan kehangatan aneh di dada. Bukan karena sentuhan, melainkan karena Aris tidak merebut kendali. Ia memberi ruang—mahal, berisiko—untuk Elara memilih taktik sendiri. Itu kompensasi yang ia butuhkan: bukan pelukan, tapi kepercayaan yang memberinya kekuasaan.

"Aku tidak akan serahkan bukti fisik hari ini," kata Elara kepada Lira. "Tapi aku tawarkan perjanjian baru. Kamu berhenti ancam Aris, dan besok di rapat dewan, aku akan ungkap manipulasi Ratna—termasuk peranmu sebagai umpan. Kita bisa dapatkan kembali apa yang seharusnya milik kita berdua. Tanpa pihak luar."

Lira diam lama. Tangannya mengepal di pangkuan. "Kamu masih mau lindungi dia? Setelah dia pakai pernikahan ini untuk merger?"

"Bukan lindungi," jawab Elara tajam. "Ini negosiasi. Aku pegang bukti. Aris pegang pengaruh perusahaan. Kamu pegang ancaman. Kita bisa hancur bersama, atau kita balikkan meja Ratna bersama. Pilih sekarang."

Lira bangkit, tapi langkahnya ragu. "Besok pagi. Kalau aku tidak dapat jaminan tertulis, aku datang ke rapat dengan bukti sendiri. Dan rahasia Aris akan jadi headline pertama."

Ia pergi, meninggalkan pintu terbuka lebar. Dua pria berpakaian hitam mengikutinya tanpa suara.

---

Elara berdiri di depan jendela, memandang lampu kota yang mulai redup. Aris mendekat, berhenti satu langkah di belakangnya—jarak yang sengaja dijaga.

"Kamu bisa serahkan aku ke Lira tadi," katanya pelan. "Itu akan lebih mudah untuk klaim warisanmu."

Elara berbalik. "Kalau aku lakukan itu, aku jadi sama seperti Ratna—menggunakan orang lalu buang. Aku ingin kemitraan, Aris. Bukan alat."

Aris mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari wajah Elara. "Besok di rapat dewan, aku akan dukung langkahmu sepenuhnya. Bahkan kalau itu berarti aku kehilangan lebih banyak lagi." Ia tidak menyentuh tangan Elara, tapi nada suaranya mengandung janji yang lebih dalam dari sebelumnya—pengorbanan yang terus bertambah, bukan karena kewajiban kontrak, melainkan karena keinginan untuk berdiri di sisinya sebagai mitra.

Elara merasakan pergeseran itu: tekanan yang tadi membuatnya terpojok kini memberinya kekuatan baru. Ancaman Lira bukan akhir, melainkan kesempatan. Tapi ia tahu, besok pagi di ruang rapat yang dingin itu, segalanya bisa berubah lagi.

Malam itu, saat Elara menutup pintu kamar tamu, ponselnya bergetar sekali lagi. Pesan dari nomor tak dikenal: "Aliansi baru sudah terbentuk. Rapat besok akan panas. Jangan percaya siapa pun sepenuhnya—termasuk adikmu."

Ia menatap layar lama, napasnya pelan tapi mantap. Ancaman dari masa lalu baru saja menjadi lebih berbahaya. Dan ia harus memasuki rapat dewan dengan senjata yang tepat—sebelum segalanya benar-benar meledak.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced