Novel

Chapter 5: Negosiasi di Balik Layar

Elara mengonfrontasi Aris mengenai keterlibatannya dalam pencucian aset keluarga. Aris mengakui ambisinya yang didorong oleh trauma masa lalu sebagai anak haram dan menawarkan aliansi strategis. Di tengah negosiasi, Ratna menghubungi Elara dengan tawaran kebenaran tentang ayahnya, menempatkan Elara di tengah dilema moral yang memaksanya untuk memegang kendali penuh atas bukti-bukti yang ia miliki.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Negosiasi di Balik Layar

Pintu ruang kerja Aris menutup dengan bunyi klik yang presisi, mengunci dunia di luar sana. Cahaya lampu meja yang kekuningan menyorot tumpukan dokumen di atas meja mahoni, namun bagi Elara, fokusnya hanya tertuju pada satu berkas: laporan audit internal yang ia curi dari brankas pribadi Aris tadi malam.

"Kau sudah membacanya, bukan?" suara Aris terdengar dingin, tanpa basa-basi. Ia berdiri di balik meja, kemeja putihnya sedikit kusut, menyiratkan malam yang panjang tanpa tidur. Tidak ada tatapan hangat seperti saat ia melindunginya di pesta tadi sore. Yang ada hanyalah tatapan seorang pebisnis yang sedang menghitung kerugian.

Elara melempar dokumen itu ke atas meja. "Pencucian aset. Kau menggunakan warisan keluargaku untuk menutupi lubang dalam merger Danuarta, Aris. Kau bukan pelindungku. Kau hanya predator yang sedang memastikan makanannya tidak dicuri oleh predator lain."

Aris tidak mengelak. Ia justru melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Elara bisa mencium aroma kayu cendana dan kopi hitam yang pekat. Aris menatap tajam, tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku jarinya memutih. "Aku tidak pernah mengklaim diriku sebagai pahlawan, Elara. Aku hanya menawarkan kesepakatan. Tanpa dukunganku, Ratna akan melenyapkanmu sebelum matahari terbit besok. Rapat dewan besok pagi adalah pertaruhan terakhirku—dan kau memegang kartu as yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan kita berdua."

Aris berbalik ke jendela besar, siluet tubuhnya tampak kaku. Di tangannya, korek api logam berdenting halus. "Jika aku tidak membawa bukti yang bisa menekan Ratna, posisiku di Danuarta akan berakhir. Berikan dokumen pemalsuan tanda tangan itu sekarang, dan aku akan menjamin posisimu di keluarga ini tetap aman."

"Aman?" Elara tertawa getir, meremas tas kulitnya yang berisi salinan asli dokumen tanah. "Kau memintaku menyerahkan satu-satunya senjataku sementara kau adalah arsitek di balik kehancuran keluargaku sendiri. Kau tidak melindungiku, Aris. Kau hanya sedang menyelamatkan kursi direksimu dari badai yang kau ciptakan sendiri."

Aris berbalik, matanya menatap Elara dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tercekat. "Aku tidak punya pilihan saat itu. Dunia bisnis ini tidak mengenal belas kasihan bagi mereka yang tidak memiliki leverage. Jika kau menyerahkannya, aku bisa memastikan kau mendapatkan kembali kendali atas asetmu, bukan sekadar janji kosong."

Elara terdiam, menimbang tawaran itu. Aris mendekat, kelelahan yang nyata kini tampak di balik tatapannya. "Kau pikir aku melakukan ini hanya untuk kekuasaan?" suara Aris rendah, nyaris seperti bisikan yang menahan beban bertahun-tahun. "Keluarga Danuarta dan keluarga besarmu... mereka adalah predator yang sama. Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk merangkak naik dari posisi sebagai anak haram yang tak diinginkan, hanya agar aku bisa berada di posisi di mana aku bisa menghancurkan mereka dari dalam. Aku mengalihkan dana itu agar tidak jatuh ke tangan Ratna, agar suatu saat nanti, aku bisa mengembalikannya padamu."

Elara merasakan dinginnya bukti fisik di saku blazernya. Mereka berdua hanyalah bidak dalam permainan yang lebih besar, terjebak dalam labirin kebohongan yang dirancang oleh orang-orang di balik layar. Sebelum ia sempat menjawab, ponsel di atas meja marmer bergetar. Nama Ratna muncul di layar, sebuah peringatan akan ancaman yang tak pernah tidur.

"Elara," suara Ratna di seberang sana terdengar tenang, namun mengandung racun. "Aku tahu kau memegang sesuatu yang bukan milikmu. Berikan bukti itu padaku malam ini, dan aku akan memberimu satu hal yang paling kau inginkan: kebenaran tentang kematian ayahmu yang sebenarnya kau curigai selama ini."

Elara menatap Aris, lalu kembali ke layar ponselnya. Keputusan ini bukan lagi tentang uang, melainkan tentang masa lalu yang menghantuinya. Ia tidak akan menyerahkan bukti itu kepada siapa pun. Jika ia harus hancur, ia akan memastikan mereka semua jatuh bersamanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced