Sandiwara di Bawah Lampu Gala
Cermin besar di ruang ganti penthouse Adrian memantulkan sosok yang hampir tidak dikenali Elara. Gaun sutra midnight blue itu membalut tubuhnya dengan presisi dingin, menyembunyikan memar martabat yang ia dapatkan di gala penyitaan aset minggu lalu. Di balik kain mahal itu, Elara merasa seperti barang pajangan yang sedang dipoles untuk dilelang—atau lebih tepatnya, untuk diselamatkan.
Adrian berdiri di belakangnya, bayangannya di cermin tampak lebih dominan daripada kenyataan. Ia tidak memberikan pujian. Pria itu hanya menatap pantulan leher Elara dengan tatapan kalkulatif sebelum tangannya bergerak, memasangkan kalung berlian yang dingin ke kulit leher Elara. Sentuhannya tidak memiliki kehangatan seorang kekasih; itu adalah sentuhan seorang pemilik yang sedang memastikan asetnya tidak terlihat cacat.
"Jangan gemetar," suara Adrian rendah, nyaris seperti perintah yang tertanam dalam kontrak mereka. "Di luar sana, wartawan sudah menunggu untuk mengonfirmasi rumor kebangkrutan keluargamu. Jika kau terlihat seperti korban, kontrak ini berakhir sebelum sempat dimulai."
Elara menatap pantulannya sendiri, memaksakan dagunya untuk terangkat. "Aku bukan boneka, Adrian. Aku tahu apa yang dipertaruhkan."
Adrian tidak menjawab. Ia memperbaiki posisi kain gaun di bahu Elara dengan gerakan yang sengaja lamban dan posesif, sebuah pengingat visual bagi siapa pun yang melihat nanti. Elara menyadari perannya bukan sekadar pendamping, melainkan perisai bagi rencana besar Adrian.
Setibanya di ballroom Hotel Grand Astoria, lampu kristal terasa seperti pisau bedah yang menguliti pertahanan diri Elara. Bisik-bisik para sosialita Jakarta menyebar lebih cepat daripada api di musim kemarau. Semua mata tertuju pada mereka—pasangan mendadak yang baru saja mengguncang bursa saham dan gosip kelas atas.
"Elara, benarkah rumor bahwa ayahmu menjual aset terakhir hanya untuk menutupi hutang judi?" Suara tajam itu datang dari Siska, seorang pewaris yang selalu menganggap Elara sebagai ancaman. Siska berdiri dengan segelas sampanye, senyumnya tidak mencapai mata yang penuh kebencian. "Atau apakah pernikahan ini hanya cara Adrian untuk menutupi kebangkrutan keluargamu yang memalukan itu?"
Elara merasakan tenggorokannya tercekat. Ini adalah luka yang masih basah, skandal yang dirancang oleh musuh tak terlihat untuk menghancurkan martabatnya. Sebelum ia sempat merangkai kata, sebuah tangan yang kokoh mendarat di pinggangnya, menariknya rapat ke sisi pria itu. Adrian menatap Siska dengan tatapan dingin yang membuat sang sosialita mundur selangkah.
"Elara sedang dalam masa pemulihan dari kelelahan, bukan dari kebangkrutan, Siska," suara Adrian tenang, namun setiap katanya mematikan. "Dan jika kau masih meragukan posisi istriku di sini, mungkin kau bisa mendiskusikannya dengan departemen hukum perusahaanku besok pagi."
Siska terdiam, wajahnya memucat, lalu ia melangkah mundur. Namun, tekanan tetap terasa mencekik. Adrian menarik Elara menjauh dari kerumunan, menembus tirai beludru berat yang memisahkan ruang utama dengan koridor privat. Di balik tirai, suasana berubah menjadi sunyi yang menekan. Adrian tidak melepaskan pinggangnya. Jarak mereka kini begitu tipis hingga Elara bisa mencium aroma kayu cendana dan parfum maskulin yang tajam.
"Mereka sedang memangsamu, Elara," bisik Adrian. Suaranya rendah, penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Tetaplah di sisiku. Jika kau berani melangkah sendiri, mereka akan merobekmu hingga tak tersisa."
Kembali ke pusat perhatian, Adrian menarik tubuhnya lebih rapat saat kamera wartawan mulai menyorot. Kontak fisik itu begitu intim sekaligus mengintimidasi, mengunci setiap gerak tubuh Elara dalam kendali pria tersebut. Adrian menunduk, wajahnya mendekat ke telinga Elara.
"Tersenyumlah, Elara," bisik Adrian, suaranya bergetar dengan otoritas yang mematikan. "Setiap detik kau terlihat ragu, kau sedang menghancurkan investasi yang kubayar dengan nyawaku. Ingat, kau bukan sekadar istri di atas kertas malam ini. Kau adalah perisai yang akan menelan semua peluru yang diarahkan padaku."
Elara menatap lurus ke arah kamera, memaksakan senyum yang sempurna, sementara jantungnya berdegup kencang karena ancaman yang terselip dalam setiap kata pria itu. Ia menyadari sandiwara ini baru saja dimulai, dan di balik kontrak yang ia tanda tangani, ada rahasia yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kebangkrutan.