Novel

Chapter 1: Surat Jual di Pintu Rumah Pesisir

Surat penjualan resmi ditempel di pintu rumah pesisir warisan ibunya, memaksa Mira menghadapi tenggat empat hari, kegelisahan warga, tekanan sopan dari Nando, dan tawaran Ardan berupa kontrak yang bisa menahan warga tetap tinggal sambil memberi akses pada petunjuk tersembunyi di dalam rumah.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Surat Jual di Pintu Rumah Pesisir

Pagi di rumah pesisir itu belum sempat menjadi pagi ketika kertas berstempel merah ditempel di pintu depan, tepat di bawah gagang yang mulai berkarat karena udara asin. Suara selotipnya pendek dan kejam, seperti orang menutup mulut rumah sebelum memamerkan vonisnya ke seluruh kampung.

Mira Salsabila berdiri di ambang beranda, satu tangan masih menahan sisi tubuhnya yang nyeri sejak jatuh dua minggu lalu. Luka itu belum benar-benar sembuh; ia masih bergerak hati-hati saat naik turun papan kayu. Tapi rasa sakit yang paling tajam pagi itu datang dari kertas yang menempel di pintu warisan ibunya.

Ia membaca sekali. Lalu sekali lagi, seolah huruf-hurufnya bisa berubah kalau ia cukup keras menatap.

Pemberitahuan penjualan.

Rumah pesisir, tanah, dan seluruh lampiran haknya akan diproses dalam empat hari. Setelah itu, akses ke berkas dan jalur hukum ditutup bagi pihak yang tak punya dasar kuat. Nama pengajuan tertera rapi di bawah cap resmi: Nando Wiryawan.

Nama itu membuat tenggorokannya kering.

Dari anak tangga beranda sebelah, Bu Rukiah bersuara pelan, “Sudah ditempel sejak subuh.”

Mira tidak menoleh. Jari-jarinya menekan tepi kertas yang dingin. “Kenapa tidak bilang?”

“Karena barusan ada orang kelurahan yang datang, tempel, foto, lalu pergi.” Suara Bu Rukiah serak, tapi matanya tetap tajam. “Empat hari, Mir. Lewat itu, bukan cuma rumah yang pindah tangan. Berkasnya juga.”

Mira menarik napas sekali, pendek. Udara asin masuk seperti pisau tipis. Di kejauhan terdengar kapal pagi lewat, mesin motornya menggerus air dan mengisi sela-sela papan rumah dengan bunyi yang membuat semuanya terasa lebih sempit.

Rumah ini bukan sekadar atap bocor dan lantai yang sesekali berderit. Di bawah papan, di balik lemari, di laci dapur yang dulu pernah dicat ulang ibunya dengan warna hijau pucat, ada sisa hidup yang belum selesai: kuitansi lama, catatan tanah, dan sesuatu yang sejak semalam sudah ia curigai dipindahkan dari tempatnya.

Ia akhirnya menoleh ke Bu Rukiah. “Siapa yang kasih tahu dia aku masih di sini?”

Bu Rukiah mengangkat bahu tipis. “Kalau bukan orang dalam, ya orang yang ingin kamu panik.”

Suara langkah mulai terdengar di jalan tanah. Tetangga pertama berhenti di ujung pagar, pura-pura melihat laut. Yang lain menyusul, membawa wajah-wajah yang tidak sepenuhnya mau menjadi saksi, tapi juga tidak bisa berpura-pura tidak melihat. Beranda rumah itu, yang biasanya dipakai menjemur ikan asin dan menaruh kursi plastik retak, mendadak menjadi tempat semua orang menimbang masa depan.

Mira melipat surat itu perlahan. Bukan karena tenang; karena kalau tidak, tangannya mungkin akan merobeknya di depan pintu.

“Jadi benar,” katanya.

Bu Rukiah mengangguk. “Benar. Dan waktunya tidak main-main.”

Pagi yang asin itu berubah jadi bahan bisik-bisik. Dua ibu yang biasanya duduk lama di beranda kini berdiri dengan tas tergenggam. Seorang bapak tua melongok dari sela pagar dan berkata, seolah sedang bicara pada dirinya sendiri, “Kalau memang mau pindah, mending sebelum empat hari habis. Nanti jalan dan berkas ditutup. Kita nggak bisa apa-apa.”

Kalimat itu tidak diarahkan padanya, tapi jatuh tepat di dada.

Warga bukan cuma penonton. Mereka orang-orang yang menitipkan obat di lemari belakang, menyimpan beras saat panen gagal, dan mengisi ruang tengah rumah ini dengan kabar, doa, dan pinjaman kecil yang tak pernah ditulis. Jika mereka pergi, rumah ini kehilangan separuh napasnya sebelum benar-benar dijual.

Bu Rukiah turun satu anak tangga. Tongkatnya mengetuk papan kayu sekali. “Mereka mulai takut.”

“Takut karena apa?” Mira bertanya.

“Karena yang datang beli itu terlalu rapi.” Bu Rukiah menatap jalan, bukan Mira. “Orang rapi biasanya menang di atas kertas.”

Mira menelan napas yang rasanya getir. Nama Nando tidak asing. Ia bukan lawan yang mengamuk di depan umum. Ia tipe yang datang dengan suara halus, berkas lengkap, dan alasan yang selalu terdengar seperti keselamatan. Justru itu yang membuatnya berbahaya.

Langkah di jalan tanah bertambah dekat. Tetangga-tetangga mundur sedikit, seolah memberi ruang bagi orang yang datang.

Nando Wiryawan berdiri di pagar dengan kemeja terang yang bersih, rambut disisir rapi, sepatu yang nyaris tidak menyentuh debu. Ia tidak terlihat seperti orang yang datang untuk merampas rumah. Ia terlihat seperti seseorang yang hendak menyelamatkan kawasan dari kekacauan.

“Pagi, Bu Mira.” Senyumnya sopan, terlalu tenang. “Maaf kalau kedatangan saya mengganggu.”

Mira tidak menjawab senyum itu. “Surat itu pengganggu yang lebih dulu masuk ke rumah saya.”

Nando menatap pintu, lalu kembali padanya tanpa tergesa. “Saya hanya memastikan administrasinya jelas. Kalau ada dokumen yang belum lengkap, lebih baik diselesaikan sekarang. Waktu Anda tinggal empat hari.”

Ia mengucapkan empat hari seperti orang menyebut jam tutup toko.

Beberapa tetangga saling pandang. Satu orang menggeser sandal ke belakang. Nando menangkap semua itu tanpa menoleh. “Saya paham ini sensitif,” katanya lagi, lembut. “Tapi kalau masalahnya dijaga terlalu lama, warga juga yang akan ikut repot. Rumah ini terlalu penting untuk dibiarkan jadi pusat sengketa.”

Mira ingin tertawa, tapi yang keluar hanya napas pendek. “Pusat sengketa?”

“Bukannya begitu?” Nando tetap tenang. “Kalau tidak ada penyelesaian, akses jalan, urusan obat di belakang, bahkan ruang yang dipakai orang-orang simpan barang kerja—semuanya bisa ikut terhenti. Saya datang justru agar itu tidak terjadi.”

Kalimatnya tepat, bersih, dan menjengkelkan karena terdengar masuk akal.

Bu Rukiah mendengus kecil. “Masuk akal untuk siapa?”

Nando menoleh sopan padanya. “Untuk semua pihak, Bu.”

Mira melihat cara ia memilih kata: tidak kasar, tidak meledak, tetapi cukup dingin untuk menutup jalan. Ia tahu jenis pria seperti ini. Mereka tidak perlu membentak untuk membuat orang kecil merasa sedang menahan arus besar dengan telapak tangan.

“Ada apa sebenarnya?” Mira bertanya. “Anda mau membeli rumah saya, atau mau mengajari saya cara kalah?”

Untuk pertama kalinya, senyum Nando retak sedikit di sudut. Bukan marah. Lebih seperti ia menilai sesuatu yang tidak sepenuhnya terduga.

“Saya mau menyelesaikan urusan ini dengan cepat,” katanya. “Kalau Anda kooperatif, banyak hal bisa diselamatkan. Termasuk nama keluarga Anda.”

Kalimat itu membuat beberapa kepala di beranda menengadah.

Nama keluarga. Selalu itu yang paling mudah dipakai untuk menekan perempuan yang sedang terpojok.

Mira merasakan panas naik ke lehernya, tapi ia tidak memberi Nando kepuasan melihatnya goyah. “Nama keluarga saya tidak Anda simpan di map.”

“Nah.” Nando mengangguk seolah setuju. “Karena itu saya sarankan jangan membuatnya lebih sulit.”

Sebelum Mira sempat membalas, mobil hitam berhenti di pinggir jalan, lebih tenang dari suara kapal pagi tapi jauh lebih tegas. Pintu belakang terbuka, dan seorang lelaki turun dengan langkah yang tidak tergesa, seolah halaman rumah ini memang sudah memperhitungkan kedatangannya.

Ardan Pratama.

Mira mengenali wajah itu dari pertemuan-pertemuan singkat yang tak pernah benar-benar selesai menjadi percakapan. Rapi, tenang, nyaris tak terbaca. Orang-orang besar biasanya membawa diri seperti mereka tidak perlu menjelaskan apa pun. Ardan justru terlihat seperti orang yang sengaja menahan semua penjelasan di belakang lidahnya.

Tatapannya turun sebentar ke surat di tangan Mira, lalu naik lagi ke wajahnya.

“Empat hari,” katanya, bukan pertanyaan.

“Sepertinya semua orang pagi ini suka mengingatkan saya hal yang sama,” sahut Mira.

Ardan tidak tersenyum. “Kalau begitu, berarti waktunya memang terlalu pendek.”

Nando menegakkan badan. “Ardan. Saya kira Anda tidak berkepentingan di sini.”

“Berkepentingan saya justru di sini.” Suara Ardan tetap datar. “Saya mengejar dokumen keluarga yang berkaitan dengan rumah ini.”

Satu kalimat itu cukup untuk membuat udara di beranda berubah.

Mira menatapnya tajam. “Dokumen apa?”

“Yang belum muncul di meja yang seharusnya.”

Itu bukan jawaban penuh, dan justru karena itu terasa lebih jujur daripada omongan Nando.

Bu Rukiah mengamati Ardan dari bawah ke atas. “Kalau Anda datang untuk ambil juga, pergi saja.”

“Kalau saya datang untuk ambil, saya tidak akan berdiri di depan pintu dan memberi tahu dua lawan saya bahwa waktu mereka sudah mepet.”

Kalimat itu membuat Nando menahan napas sebentar. Orang-orang di beranda mulai bergeser, merasakan ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar jual-beli tanah. Mira melihatnya dengan jelas: rumah ini bukan cuma diperebutkan karena nilai tanahnya, tapi karena ada sesuatu di dalamnya yang belum ditemukan—sesuatu yang lebih berbahaya daripada selembar surat.

Ardan melangkah setengah langkah ke sisi beranda, memberi ruang tetapi sekaligus menguasai tempat itu tanpa memaksa. “Mira,” katanya, dan untuk pertama kalinya nama itu terdengar bukan seperti formalitas, melainkan keputusan. “Saya bisa bantu menahan proses ini. Tapi tidak gratis.”

Nando mengangkat alis. “Tentu.”

Ardan mengabaikannya. Matanya hanya pada Mira. “Saya butuh akses ke bagian rumah yang belum dibuka. Dan Anda butuh alasan hukum agar warga tidak bubar sebelum empat hari ini selesai.”

Mira merasa semua orang menunggu ia jatuh atau menolak. Ia bisa menolak. Itu masih miliknya. Tapi menolak berarti membiarkan warga pergi satu per satu, membiarkan rumah ini jadi kosong sebelum kertas berpindah tangan, dan membiarkan Nando masuk tanpa perlawanan yang cukup.

“Kalau saya dengar,” katanya pelan, “apa yang Anda minta sebagai gantinya?”

Ardan menjawab tanpa jeda. “Sesuatu yang di mata publik cukup kuat untuk membuat mereka berhenti menganggap Anda sendirian.”

Mira menatapnya, lalu menatap Nando yang kini diam dengan wajah terlalu tenang. Mereka bertiga tahu, bahkan sebelum kata itu diucapkan, bahwa yang dimaksud Ardan bukan sekadar bantuan.

Ia memisahkan tangan dari surat jual, lalu berkata dengan suara yang cukup keras agar beranda mendengar, “Saya mau dengar rincian kontraknya. Tapi ada syarat saya.”

Nando menoleh tajam. Bu Rukiah berhenti bergerak.

Mira mengangkat dagunya. “Empat hari ini dipakai untuk menahan warga tetap tinggal. Kalau rumah ini masih punya fungsi untuk mereka, mereka tidak pergi. Dan kalau Anda mau bicara soal kunci, soal dokumen, soal apa pun yang disembunyikan di dalam rumah ini—kita buka pelan-pelan, di depan saksi yang tepat.”

Ardan menatapnya beberapa detik, cukup lama untuk membuat keputusan itu terasa seperti taruhan, bukan kemurahan hati. Lalu ia mengangguk sekali.

“Baik,” katanya. “Tapi saya ingin Anda ikut melihatnya sendiri.”

Mereka masuk dari pintu samping, melewati lorong sempit yang dindingnya menyimpan bau kayu tua dan obat gosok. Di dalam, matahari jatuh miring ke atas meja dapur, memperlihatkan debu yang belum sempat disapu dan sebuah kotak arsip yang tutupnya setengah miring di bawah rak piring.

Mira berhenti duluan.

Ada bekas gesekan di lantai, seakan kotak itu pernah dipindahkan tergesa dan dikembalikan terlalu buru-buru. Di celah tutupnya, terlipat ujung kertas cokelat yang sudah menguning.

Bukan kuitansi. Bukan tagihan.

Sebuah peta, atau sesuatu yang sangat mirip dengannya—garis-garis tinta tua, sudut yang ditandai tangan, dan satu tanda silang di bagian yang mengarah ke ruang belakang rumah.

Mira menahan napas.

Dari ambang pintu, suara tetangga dan bisik-bisik beranda masih terdengar, tapi mendadak jauh. Di belakangnya, Ardan berkata pelan, hampir datar, “Jadi memang ada yang disembunyikan di sini.”

Mira tidak menjawab. Ia hanya menatap kertas rapuh itu, lalu mengulurkan tangan dengan hati-hati, seolah benda itu bisa pecah sekaligus membalikkan hidupnya.

Di luar, nama Nando masih berdiri di surat penjualan. Di dalam rumah, sesuatu yang lebih tua sedang menunggu ditemukan.

Dan untuk pertama kalinya sejak kertas merah itu ditempel di pintu, Mira merasakan bahwa empat hari ini mungkin bukan hanya tenggat.

Mungkin ini juga jebakan pertama yang membuka semua yang lain.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced