Novel

Chapter 3: Terms Rewritten

Bab 3: Arjuna memainkan USB rekaman di rapat sore, membongkar manipulasi file valuasi dan mengubah arah voting tender. Haryo kehilangan kendali sementara, tapi langsung mendapat penundaan resmi dari pejabat lebih tinggi. Nadya menunjukkan keraguan pertama dan menerima pesan rahasia tentang hierarki di atas Haryo. Arjuna menyerahkan salinan bukti ke Mira sebagai cadangan, membayar harga dengan risiko baru. Pembalikan pertama terwujud sebagai perubahan suara dewan dan leverage status, tapi langsung membuka konspirasi elit yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Terms Rewritten

Arjuna Pratama berdiri tegak di ujung meja rapat dewan pengembang pesisir, dinding kaca setinggi langit memantulkan cahaya laut yang menusuk mata. Suara tawa sinis masih menggema dari pagi tadi, tapi kini ruangan itu sudah hening. Haryo Wibowo duduk di kursi utama, jarinya mengetuk-ngetuk map kosong dengan senyum tipis penuh kemenangan. "File valuasi hilang, Pak Arjuna. Tanpa itu, tender Blok Pesisir Timur harus ditutup hari ini juga. Keputusan dewan sudah bulat. Anda... boleh pulang."

Arjuna tidak menjawab langsung. Ia menarik napas pelan, merogoh saku jas hitamnya, dan meletakkan sebuah USB kecil berlapis enkripsi militer di tengah meja berkilat. Denting logam itu terdengar nyaring di antara keheningan. "Ini bukan rekaman biasa," katanya dengan suara rendah tapi tegas, tatapannya tidak goyah. "Ini rekaman proses tender awal. Bukti file valuasi independen sengaja dihilangkan. Dan ada suara oknum yang memerintahkan penghapusan itu."

Nadya Sari, yang duduk di sisi kanan Haryo, langsung menegang. Matanya melebar sesaat sebelum kembali dingin profesional. "Pak Arjuna, ada protokol. Anda tidak bisa—"

"Saya bisa," potong Arjuna pelan. "Karena ini bukti pidana."

Haryo tertawa kecil, tapi jarinya berhenti mengetuk. Ruangan yang tadinya penuh bisik-bisik kini membeku. Arjuna berjalan ke proyektor, memasukkan USB. Layar menyala. Suara Haryo sendiri terdengar jelas dari rekaman: "Hilangkan file valuasi itu malam ini juga. Jangan sampai ada yang tahu. Besok pagi kita voting sesuai rencana."

Anggota dewan bergeser di kursi mereka. Beberapa saling pandang. Satu suara berbisik, "Itu... suara Pak Haryo?"

Nadya berdiri setengah, tangannya terulur seolah ingin mencabut kabel. "Matikan itu. Ini bukan forum yang tepat—"

Arjuna menatapnya tajam. "Ini justru forum yang tepat, Bu Nadya. Atau Anda juga terlibat?"

Rekaman berlanjut. Nada perintah Haryo semakin jelas, disusul suara orang ketiga yang samar: "Yang penting proyek ini jatuh ke tangan yang benar. Ada pihak atas yang sudah menyetujui."

Hening total. Haryo bangkit, wajahnya memucat tapi masih berusaha tersenyum. "Rekaman palsu. Mudah dibuat sekarang."

"Enkripsi militer," balas Arjuna dingin. "Bisa diverifikasi dalam satu jam. Dan saya punya salinan di tempat aman."

Suara voting mulai berubah. Dua anggota dewan yang tadinya mendukung Haryo kini ragu. Satu orang angkat tangan, "Saya usul voting ditunda. Ini serius."

Dalam hitungan menit, mayoritas suara bergeser. Tender tidak lagi bisa ditutup sesuai keinginan Haryo. Arjuna tidak tersenyum. Ia hanya berdiri tegak, tangan di saku, membiarkan fakta itu meresap. Status board berubah: leverage yang tadinya nol kini ada di tangannya. Haryo kehilangan kendali rapat sore ini.

Tapi kemenangan itu tidak bertahan lama.

Telepon Haryo berdering. Ia angkat dengan cepat, mendengarkan sebentar, lalu tersenyum lagi—kali ini lebih tajam. "Baik, Pak. Saya sampaikan." Ia mematikan panggilan dan menatap seluruh ruangan. "Pejabat Kota Level Dua baru saja mengeluarkan surat penundaan resmi. Evaluasi tender ditunda dua minggu untuk verifikasi ulang. Alasan: ada indikasi gangguan eksternal."

Arjuna merasakan otot rahangnya menegang. Penundaan itu bukan kekalahan—tapi pintu masuk ke permainan yang lebih besar. Haryo tidak lagi sendirian.

Nadya menatap Arjuna lama. Matanya mengandung perhitungan baru, bukan sekadar penolakan. Saat rapat bubar, ia mendekat saat yang lain keluar. Suaranya rendah, hanya untuk Arjuna. "USB itu... Anda bawa dari mana? Dan kenapa Anda tunjukkan sekarang, bukan tahan untuk momen yang lebih besar?"

Arjuna menatapnya balik, tidak menjawab langsung. "Karena kalau saya tahan terlalu lama, Mira bisa kehilangan rumah kami besok pagi. Taruhannya bukan hanya tender, Bu Nadya."

Nadya menggigit bibir sebentar. Ponselnya bergetar. Ia melirik layar, wajahnya berubah. Pesan singkat: "Pemilik sebenarnya bukan Haryo. Ada nama di atasnya. Jangan ikut campur terlalu dalam."

Ia menyimpan ponsel tanpa komentar, tapi langkahnya saat meninggalkan ruangan sedikit lebih lambat.

Arjuna keluar gedung saat matahari mulai condong ke barat. Angin laut meniup jasnya. Di pelataran parkir yang terbuka, Mira sudah menunggu, tangannya memegang tas kerja erat-erat. Wajahnya penuh harap bercampur khawatir. "Kak... aku dengar dari luar. Mereka bilang kamu buat Haryo kehilangan suara. Benar?"

Arjuna mengangguk sekali. Ia mengeluarkan USB asli dan menyerahkan salinan kecil ke tangan adiknya. "Ini bukti asli. File valuasi dihilangkan atas perintah. Tapi ada yang lebih tinggi dari Haryo. Penundaan dua minggu ini bukan akhir—ini pintu ke lingkaran yang lebih besar."

Mira memegang USB erat, matanya menyala. "Kita bisa pakai ini untuk selamatkan rumah dan warisan Ayah, kan?"

"Bisa," jawab Arjuna pelan. "Tapi harganya mungkin lebih mahal dari yang kita kira. Aku tidak mau kamu terjebak di tengah, Mira. Pulanglah dulu."

Mira menggeleng. "Kita keluarga, Kak. Kalau kamu naik, aku ikut. Kalau jatuh... kita jatuh bareng."

Arjuna meletakkan tangan di bahu adiknya sebentar, merasakan beban yang lebih berat sekarang. Kemenangan sore ini memberinya ruang bernapas—tapi juga menarik perhatian musuh yang lebih kuat. Ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Ia angkat, mendengarkan suara tenang di ujung sana yang menyebut nama pejabat kota yang lebih tinggi.

Saat panggilan selesai, Arjuna menatap laut yang bergelora. Status board sudah berubah: ia bukan lagi orang yang dibuang. Tapi sekarang, permainan baru saja dimulai. Dan Nadya, Haryo, serta bayangan di atas mereka semua masih menunggu langkah selanjutnya.

Ketegangan antara ketiganya baru akan memuncak.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced