Novel

Chapter 1: The Public Slight

Bab 1 membuka langsung di dalam ruang rapat dewan pengembang pesisir dengan penghinaan konkret terhadap Arjuna saat tender redevelopment Blok Pesisir Timur. Haryo Wibowo dan anggota dewan meremehkan latar belakang militer Arjuna serta menyoroti file valuasi yang hilang untuk membuktikan ia disposable. Arjuna menahan emosi, menunjukkan restraint, lalu meletakkan USB rekam data lapangan sebagai competence hint tersembunyi. Penghinaan publik terjadi tapi status board mulai bergeser dengan keraguan kecil di ruangan; bab diakhiri dengan hook petunjuk kemampuan tersembunyi yang mengundang serangan balik lebih berat.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Public Slight

Ruang rapat dewan pengembang pesisir pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya. Dinding kaca setinggi langit-langit memantulkan cahaya laut yang terang, tapi juga memantulkan tatapan dua puluh pasang mata yang sudah siap menghakimi. Arjuna Pratama melangkah masuk dengan langkah mantap, jas hitamnya yang sudah agak usang kontras dengan setelan-setelan mahal di sekeliling meja panjang.

"Lihat siapa yang muncul," gumam Mas Rian, direktur proyek, cukup keras agar semua mendengar. Beberapa orang tertawa pelan. Suara itu menusuk tepat di tempat yang paling sakit: reputasi Arjuna sebagai pahlawan perang yang kini dianggap pecundang.

Arjuna duduk di kursi yang disediakan di ujung meja—posisi yang jelas menandakan ia bukan bagian dari lingkaran dalam. Ia merasakan tatapan Nadya Sari dari kursi sekretaris dewan. Wanita itu mengangkat alis tipis, seolah bertanya tanpa suara: Kau benar-benar berani datang?

Ketua rapat, seorang pria berusia lima puluhan dengan suara berat, membuka map di depannya. "Proposal tender redevelopment Blok Pesisir Timur sudah masuk semua. Tapi sebelum kita lanjut, kami butuh klarifikasi dari Pak Arjuna Pratama." Ia menatap Arjuna dengan dingin. "Anda mengajukan penawaran dengan harga yang jauh di bawah pasar. Apa jaminan Anda bisa menyelesaikan proyek ini? Atau ini hanya cara untuk mengganggu proses?"

Bisikan mulai terdengar. Seorang pengusaha muda di sebelah Haryo Wibowo menyeringai. "Hero perang yang jatuh. Medali tidak bisa bayar beton dan baja, Pak."

Arjuna tetap diam, tangannya terlipat di atas meja. Ia tahu taruhannya: jika tender ini jatuh ke tangan Haryo, perusahaan kecil keluarganya yang sudah terpuruk akan kehilangan satu-satunya kesempatan bertahan. Lebih dari itu, nama Pratama akan semakin terkubur di kota ini. Status sosial yang dulu melindungi Mira, adiknya, juga akan lenyap.

Haryo Wibowo bersandar di kursinya, senyum tipis penuh kemenangan. "Kami semua tahu riwayat Pak Arjuna. Kejadian di perbatasan tempo hari... bukan rahasia lagi. Bisnis ini bukan medan perang tempat orang bisa sembunyi di balik seragam. Di sini, kita bicara angka dan kepercayaan."

Kata-kata itu menggantung di udara seperti vonis. Beberapa kepala mengangguk setuju. Nadya mengetik sesuatu di tabletnya, wajahnya tetap profesional, tapi Arjuna sempat menangkap kilatan ragu di matanya—atau mungkin hanya harapannya sendiri.

"File valuasi independen hilang," lanjut ketua rapat tanpa menatap Arjuna lagi. "Tanpa itu, penawaran rendah seperti milik Pak Pratama sulit dibenarkan. Kami sarankan Anda menarik proposal sebelum voting sore ini. Demi nama baik Anda sendiri."

Ruangan bergemuruh pelan dengan tawa tertahan. Arjuna merasakan panas naik ke lehernya, tapi ia menahannya. Bukan karena takut—ia sudah belajar menahan ledakan di tempat yang lebih berbahaya dari ruangan ber-AC ini. Tapi karena ia tahu: satu kesalahan emosi sekarang berarti keluarganya kehilangan segalanya.

Ia bangkit perlahan. "Saya tidak menarik proposal."

Suasana langsung hening. Haryo menyipitkan mata. Nadya menoleh, alisnya terangkat sedikit lebih tinggi.

Arjuna melanjutkan dengan suara rendah tapi jelas, "Karena saya tahu file valuasi itu tidak hilang begitu saja. Seseorang menyembunyikannya. Dan saya punya cara untuk membuktikannya."

Ia tidak mengatakan lebih banyak. Hanya meletakkan sebuah USB kecil di atas meja, hitam mengkilap, ukuran sebesar kuku jari. Bukan barang biasa—alat rekam data lapangan yang pernah ia gunakan di medan, dengan enkripsi militer yang tak mudah dibobol orang biasa.

Nadya menatap USB itu lebih lama dari yang seharusnya. Haryo tertawa pendek, tapi tawa itu terdengar dipaksakan. "Mainan lama dari masa lalu? Lucu sekali."

Arjuna duduk kembali, matanya tak lepas dari Haryo. "Bukan mainan. Ini data yang bisa membuka semua rekaman proses tender awal. Termasuk siapa yang menghapus file valuasi."

Ketua rapat berdehem. "Kita lanjutkan agenda. Voting sore ini tetap berjalan."

Tapi udara di ruangan sudah berubah. Bisikan-bisikan sekarang bercampur dengan keraguan. Arjuna tidak tersenyum. Ia hanya duduk tegak, bahu lebarnya yang terlatih menahan beban berat terasa lebih berat hari ini—bukan karena hinaan, tapi karena beban yang akan datang.

Di luar jendela kaca, ombak pesisir menghantam dermaga baru yang sedang dibangun. Kota ini sedang berubah, dan Arjuna tahu ia harus ikut berubah—atau tenggelam.

Sore harinya, ketika palu ketua rapat hampir jatuh untuk menutup sesi, Arjuna masih memegang USB itu di saku jasnya. Ia belum memainkannya. Belum. Tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat Haryo meliriknya dua kali lebih sering.

Penghinaan hari ini tajam dan publik. Tapi untuk pertama kalinya setelah pulang ke kota ini, Arjuna merasakan sesuatu yang lebih tajam lagi: sebuah celah. Sebuah petunjuk bahwa kekuatan yang dulu membuatnya disebut dewa perang di medan masih ada—dan mulai terlihat.

Ia tahu serangan balik akan datang lebih keras. Tapi kini ia sudah punya kartu pertama di tangan.

Dan kali ini, ia tidak akan melepaskannya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced