Novel

Chapter 1: Bau Antiseptik dan Penghinaan di Lorong

Aris menghadapi penghinaan publik di rumah sakit dari mertua dan Bram, yang memanfaatkan krisis perusahaan untuk menyingkirkannya. Di tengah kekacauan, Aris berhasil mencuri file tender asli dari saku jas Bram yang tertinggal, mengungkap bukti sabotase sistematis.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bau Antiseptik dan Penghinaan di Lorong

Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, beradu dengan aroma parfum kelas atas yang memuakkan di koridor VVIP Rumah Sakit Medika. Bagi orang-orang yang berlalu-lalang dengan wajah tegang, lorong ini adalah tempat di mana nyawa dipertaruhkan. Namun bagi Aris, ini adalah medan eksekusi sosial.

"Kamu memang benalu tak berguna, Aris!" Suara melengking Ibu Mertua memecah kesunyian. Aris menunduk, mencengkeram erat kantong plastik berisi obat-obatan yang dibelinya dengan sisa uang terakhir di dompetnya. Di depannya, wajah sang mertua memerah padam, urat lehernya menonjol saat ia menuding dada Aris dengan telunjuk gemetar. "Sudah tiga tahun kamu menumpang hidup di rumah kami, dan sekarang, saat anakku butuh biaya operasi, kamu malah datang dengan tangan kosong?"

Aris ingin membela diri, namun suaranya tercekat. Di ujung lorong, sosok pria berpakaian jas rapi berdiri menyandar di dinding, menatapnya dengan seringai meremehkan. Itu Bram, eksekutif yang sedang mengincar lahan perusahaan mertuanya. Bram melangkah mendekat dengan satu amplop cokelat di tangan.

"Aris, ini surat pengosongan rumah," ujar Bram dingin, menyodorkan amplop itu tepat ke wajah Aris. "Dan ini baru permulaan. Istrimu bahkan sudah tidak sudi melihat wajahmu. Dia sudah menandatangani surat cerai pagi tadi." Bram melemparkan selembar kertas ke lantai, tepat di atas genangan air pembersih yang dingin.

Maya melangkah tergesa-gesa dari arah ruang operasi. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca namun penuh amarah saat menatap Aris. Tanpa basa-basi, ia menarik lengan suaminya, menyeretnya menjauh dari kerumunan keluarga besar yang sedang meratapi anjloknya nilai saham perusahaan.

"Apa yang kau lakukan di sini, Aris?" bisik Maya, suaranya bergetar. "Ayah sudah cukup malu dengan statusmu sebagai menantu yang tidak punya kontribusi apa pun. Pergilah. Jangan buat aku semakin terlihat menyedihkan di depan investor."

Aris menatap istrinya dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Di balik kepalanya, otaknya bekerja dengan presisi dingin. Ia mengabaikan rasa sakit dari penghinaan itu, fokus pada satu detail: Bram sedang bersandiwara di depan Pak Surya, ayah mertuanya, dengan menepuk bahu pria tua itu penuh empati palsu.

"Jangan khawatir, Om Surya. Saya sudah menyiapkan segalanya untuk tender besok," ucap Bram, suaranya penuh otoritas yang sengaja dipamerkan agar Maya bisa mendengarnya. "Perusahaan keluarga kita tidak akan jatuh hanya karena satu kesalahan administratif."

Bram melangkah pergi menuju lift, meninggalkan jas luarnya yang tersampir di sandaran kursi tunggu karena terburu-buru oleh panggilan telepon. Ia begitu angkuh, begitu yakin bahwa tidak ada seorang pun yang berani menyentuh miliknya. Aris memanfaatkan kelengahan itu. Saat suasana koridor sedang kacau oleh kepanikan keluarga, ia bergerak cepat namun tenang menuju kursi tersebut.

Tangannya merogoh saku jas Bram. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan terbungkus rapi. Ia menariknya keluar dengan gerakan halus: sebuah file tender asli yang seharusnya sudah hilang dari sistem perusahaan. Aris membuka folder itu sekejap—semua angka, rincian, dan tanda tangan palsu yang dirancang untuk menjebak perusahaan keluarga mertuanya terpampang nyata.

Ini bukan sekadar kesalahan administratif. Ini adalah sabotase yang direncanakan secara sistematis untuk melenyapkan perusahaan keluarga dari peta bisnis kota. Aris menyimpan dokumen itu di balik jaketnya, tepat saat Maya kembali menatapnya dengan tatapan penuh kebencian yang mematikan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced