Warisan yang Diteruskan
Kantor properti Tuan Chen tidak lagi berbau wibawa; ruangan itu kini hanya menyisakan aroma dupa murahan dan debu yang menyesakkan. Chen duduk di balik meja mahoni, jemarinya yang gemetar mencoba merapikan tumpukan dokumen manifes 88-X yang kini menjadi surat kematian bagi kariernya. Adrian masuk tanpa mengetuk. Ia tidak lagi mengenakan setelan jas perantau yang kaku. Kemejanya kusut, mencerminkan hari-hari panjang yang ia habiskan di balik meja kasir toko kain, mengurai benang kusut jaringan yang ditinggalkan orang tuanya.
“Waktumu habis, Chen,” ujar Adrian. Suaranya datar, dingin, tanpa sisa keraguan yang dulu sering ia tunjukkan.
Chen mendongak, matanya yang cekung menatap Adrian dengan keben
Preview ends here. Subscribe to continue.