Harga Kebebasan
Aula Pertemuan Tetua tidak lagi terasa seperti ruang rapat, melainkan ruang sidang yang mencekam. Bau dupa cendana yang pekat kini beradu dengan aroma keringat dingin. Di atas meja kayu jati yang tua, manifes 88-X dan buku besar keluarga tergeletak terbuka—sebuah vonis yang tidak bisa lagi disanggah oleh Tuan Chen.
Chen berdiri di tengah ruangan, bahunya merosot. Namun, matanya masih menyapu ruangan, mencari celah. "Ini semua fabrikasi!" teriaknya, suaranya pecah. Ia menunjuk Adrian dengan jari yang gemetar. "Anak ini orang asing. Dia datang hanya un
Preview ends here. Subscribe to continue.