Debu dan Digital (84 Jam Tersisa)
Lampu neon di langit-langit ruang arsip berkedip, memuntahkan cahaya dingin yang membuat tumpukan berkas di atas meja tampak seperti gundukan tulang. Aris mencengkeram kartu memori mikro itu hingga buku jarinya memutih. Benda sekecil kuku itu terasa panas, seolah-olah ia memegang bara api yang membakar telapak tangannya. Ponsel di saku celananya bergetar hebat—sebuah peringatan yang tidak lagi samar. Angka 84:00:00 di layar ponselnya berkedip merah, menuntut perhatian. Setiap detik yang terbuang di labirin beton ini adalah kerugian yang tidak bisa ia tebus.
"Aris, kita harus bergerak sekarang," bisik Maya. Suaranya gemetar, matanya liar memindai
Preview ends here. Subscribe to continue.