Petunjuk yang Mahal, Aturan yang Lebih Kejam
Begitu Arga melangkah ke lorong samping, suara gembok menutup lebih cepat daripada napasnya. Pintu ruang arsip baru saja dikaitkan dari dalam oleh penjaga rumah, wajah lelaki itu tetap datar seperti baru menutup gudang kosong, bukan ruang yang menyimpan nama orang-orang hidup dan mati. Di ujung lorong, bau kertas lembap dan debu garam keluar dari celah pintu yang rapat—bau yang sejak kemarin sudah menempel di tenggorokan Arga seperti peringatan.
“Perintah Ibu Notaris,” kata penjaga itu. “Mulai sekarang, semua pemeriksaan lewat meja depan. Jadwal. Surat. Tanda tangan.”
Arga menahan diri agar tidak memukul besi gembok itu. Enam hari. Angka itu berputar di kepalanya sejak pagi, sejak arsip tersegel itu muncul kembali di hari penutupan estate, dengan cap retak dari sisi dalam dan peti yang jelas pernah dibuka diam-diam sebelum pemeriksaan resmi. Hari kedua belum selesai, dan jalur resmi sudah mulai menyempit di depan matanya.
Di ruang makan, beberapa saksi keluarga masih duduk dengan sendok dan gelas yang tak disentuh. Mereka menoleh ketika Arga masuk, lalu buru-buru menunduk seperti orang yang takut namanya ikut dipanggil. Bram berdiri di dekat kepala meja, kemeja rapi, lengan dilipat santun. Ia tidak terlihat panik. Justru itu yang paling mengganggu.
“Kalau kau memang mau membantu,” ujar Bram dengan suara cukup keras agar semua mendengar, “ikut prosedur. Jangan bikin keributan di hari penutupan.”
Arga menatapnya. “Aku datang untuk lihat arsip yang disegel. Bukan untuk menonton kau mengatur panggung.”
Salah satu bibi jauh menahan napas. Seorang paman menggeser kursinya sedikit, seolah ingin menjauh dari kemungkinan ikut dipilih jadi saksi nanti. Arga tahu tatapan mereka berubah cepat: dari penasaran jadi waspada. Bram tidak perlu berteriak. Ia cukup membiarkan ruangan bekerja untuknya.
Pintu samping terbuka pelan. Maya Siregar masuk membawa map biru dan wajah yang nyaris tak berubah, seperti orang yang sudah menimbang risiko sebelum orang lain sempat mengeluh. Ia meletakkan map itu di atas meja makan, lalu menatap Arga dengan tenang yang tidak memberi ruang.
“Mulai sekarang, akses ruang arsip dipindah ke jalur notaris,” katanya. “Kalau Arga mau salinan, pemeriksaan tambahan, atau pembacaan indeks, semua harus lewat formulir.”
“Berapa lama?” tanya Arga.
Maya tidak segera menjawab. Tangannya merapikan tepi map, satu gerakan kecil yang terlalu tertib untuk dianggap kebetulan. “Tergantung kelengkapan tanda tangan. Bisa hari ini. Bisa besok. Bisa lebih lama.”
Lebih lama berarti lebih dekat ke hari keenam. Arga merasakan jawabannya di tulang lehernya.
Di saku jaketnya, catatan kecil yang semalam ia cabut dari indeks terasa tajam seperti potongan seng. Nama Sari Wibisana tertera di situ, berulang dua kali, lalu satu rujukan samar ke LB terakhir. Petunjuk itu kecil, tapi sejak ditemukan justru membuat semuanya membesar. Seseorang sengaja memisahkan lembar penting dari buku besar. Ada aturan lama di baliknya, dan aturan itu tidak dibuat untuk membantu pencari kebenaran.
Maya mengulurkan pulpen. “Isi dulu. Tujuan pemeriksaan, daftar dokumen yang diminta, dan alasan hukum.”
Arga menatap formulir kosong itu. “Kalau aku isi, aku menunggu. Kalau aku tak isi, aku dianggap mengganggu.”
“Kalau kau tidak ikut prosedur,” kata Maya, suaranya tetap pelan, “aku tidak punya dasar untuk membukakan apa pun.”
Bram menyilangkan tangan. “Dia datang bukan untuk dasar hukum. Dia datang karena tiap hari makin panik.”
Kalimat itu membuat beberapa saksi keluarga menoleh lagi, kali ini lebih lama. Arga menangkap cara Bram memilih kata: bukan mengaku, bukan menyangkal, hanya mengarahkan rasa ruangan ke dirinya. Itu serangan yang rapi. Dan karena rapi, lebih sulit dibantah di depan orang yang sudah ingin percaya.
Sebelum Arga sempat menjawab, suara langkah cepat datang dari lorong belakang. Rani Wisesa muncul dengan map tipis di bawah lengan, rambut disanggul seadanya, wajahnya dingin dan jelas tidak mau terlibat lebih lama dari yang perlu. Ia melirik ke arah pintu arsip yang tertutup, lalu ke Arga.
“Kalau kau masih mau ke ruang katalog, ikut saya sekarang,” katanya. “Sebelum mereka kunci semuanya.”
Bram menatap Rani sepersekian detik lebih lama. Ada sesuatu di sana—kebencian lama, atau rasa malas menghadapi orang yang tahu terlalu banyak. Namun Rani tidak memberi ia kesempatan bereaksi. Ia hanya menunggu Arga memilih.
Maya menggeser formulir lebih dekat. Rani menawarkan jalan yang sempit tapi nyata; Maya menawarkan jalan sah yang makin lambat; Bram menawarkan ruangan penuh saksi yang siap salah paham. Arga sadar ia sedang dipaksa memilih bukan antara baik dan buruk, melainkan antara cepat dan aman. Dan dalam enam hari, dua-duanya terasa seperti barang mewah.
“Sekarang,” kata Rani lagi, lebih singkat.
Arga mengambil catatan kecil dari saku, melipatnya sekali, lalu memasukkannya ke dalam telapak tangannya sendiri seolah menenangkan benda itu agar tidak jatuh. Ia menoleh pada Maya. “Kalau aku isi formulir ini, kau janji tidak menahan indeks yang lain?”
Maya tidak menjawab cepat. Di belakang matanya, Arga melihat hitungan. “Aku janji mengikuti kewenangan yang ada.”
Jawaban itu bukan jaminan. Tapi dari Maya, itu sudah hampir akurat.
Arga menandatangani bagian awal formulir. Satu tanda tangan. Satu pengakuan bahwa ia datang sebagai pemohon, bukan penuntut. Ia benci betapa beratnya guratan tinta itu. Saat menulis nama sendiri, ia merasa seolah sedang menukar sedikit hak atas kebenaran dengan selembar izin yang belum tentu berguna.
Bram tersenyum tipis. “Nah. Akhirnya patuh juga.”
Arga tidak menanggapi. Rani sudah berbalik menuju lorong belakang, dan ia mengikuti tanpa menunggu ucapan lain. Lorong itu lebih lembap dari depan rumah, dindingnya berjamur di dekat lantai, dan tiap langkah membawa bau kertas basah bercampur garam laut. Kipas langit-langit di ujung koridor berdecit seperti benda tua yang dipaksa tetap hidup. Tidak ada sesuatu pun di sana yang terasa netral.
Ruang katalog sempit, lebih mirip ruang kerja pegawai daripada jantung arsip keluarga. Rak-rak kartu berjajar rapat, kotak indeks ditumpuk sampai menekan dinding, dan jendela kecilnya buram oleh debu garam. Di atas meja, lampu neon menyala pucat, membuat warna kulit semua orang tampak kurang sehat.
Rani menarik laci terkunci dengan kunci besi pendek, lalu menaruh satu bundel kartu indeks di depan Arga. “Lihat pola perbedaannya,” katanya.
Arga membuka lembar pertama. Nomor, nama, rujukan silang. Lembar kedua. Lembar ketiga. Lalu ia berhenti.
Ada lubang kecil yang nyaris tak terlihat di pojok serangkaian kartu tertentu, bukan robek biasa, melainkan bekas pengikat yang sengaja dilepas lalu dipasang ulang. Dan di lebih dari satu kartu, rujukan ke LB terakhir dipotong dengan cara yang terlalu bersih untuk disebut kebetulan. Seseorang pernah memisahkan lembar-lembar itu dari buku besar, lalu mengembalikannya seakan tak pernah berpindah. Struktur penghilangan. Bukan kehilangan.
Arga menatap Rani. “Ini memang sengaja dipisah.”
“Sekarang kau percaya?” jawab Rani.
“Sejak kemarin aku percaya ada yang disembunyikan. Sekarang aku tahu caranya.”
Rani tidak tersenyum. Tapi rahangnya mengeras sedikit, tanda bahwa ia mendengar bedanya.
Ia menarik satu kartu lebih tua, sudutnya kusam seperti sering disentuh lalu disembunyikan lagi. Di sana, nama Sari Wibisana muncul sekali lagi, dengan catatan rujukan yang mengarah ke pelabuhan lama. Bukan alamat rumah. Bukan nama perusahaan. Pelabuhan. Jejak yang melebar keluar dari rumah warisan ini.
“Nama ini bukan muncul karena dia orang penting,” kata Rani. “Dia muncul karena dia saksi yang dipakai untuk menutup sesuatu. Dan kalau kau salah baca, yang disalahkan pertama kali biasanya orang yang paling ribut.”
Arga mengingat tatapan Bram di ruang makan. “Kau bilang salah baca?”
“Di keluarga seperti ini, prosedur itu senjata. Ada aturan lama yang dipakai untuk memisahkan lembar tertentu dari buku besar. Supaya orang yang tidak tahu jalurnya cuma lihat catatan yang dipotong. LB terakhir itu bukan hilang. Dipagari.”
Arga mengalihkan pandangan ke map kecil di tangan Rani. “Kau tahu kenapa?”
Rani menatapnya lama. “Aku tahu karena dulu aku ikut diminta merapikan katalog setelah satu pemeriksaan yang tak pernah ditulis resmi.”
Itu kalimat yang membuat ruang sempit itu terasa lebih dingin.
Arga menunggu. Rani menahan diri, lalu berkata, “Aku pernah dijadikan orang yang paling gampang disalahkan. Jangan paksa aku mengulang biaya itu untukmu tanpa alasan.”
Jadi itu sumber jaraknya. Bukan malas. Bukan dingin semata. Ada sejarah orang lain memakai namanya untuk menutup jejak.
Arga menelan ludah. Catatan kecil di telapak tangannya terasa lebih berat. “Aku juga punya biaya,” katanya. “Utang belum lunas. Dan kalau aku pulang dengan tangan kosong, rumah ini bukan satu-satunya yang akan hilang.”
Rani menatapnya, lebih lama kali ini. Arga tidak suka mengatakannya keras, apalagi di ruang kecil dengan dinding tipis yang mungkin mendengar. Tapi kata-kata itu keluar karena ia tak punya apa-apa lagi yang bisa dipakai sebagai mata uang.
“Utang pada siapa?” tanya Rani.
Arga ragu sepersekian detik, lalu menjawab, “Pada orang yang tidak akan menunggu enam hari.”
Rani menghela napas pendek, nyaris tak terdengar. Sesuatu di dalam dirinya bergeser dari penguji menjadi orang yang menilai risiko lebih jujur. Ia membuka map tipisnya, mengeluarkan satu fotokopi rujukan pelabuhan lama, lalu mendorongnya ke depan Arga.
“Kalau nama Sari Wibisana dipakai di sini, berarti ada jalur keluar masuk barang lewat dokumen pengiriman,” katanya. “LB terakhir kemungkinan bukan soal warisan. Bisa jadi catatan transaksi yang menutup keputusan pertama. Keputusan yang melindungi rumah ini dengan cara yang busuk.”
Arga menahan pandangannya pada kertas itu. Ini bukan sekadar jawaban. Ini pergeseran medan. Misteri yang semula tinggal di ruang arsip kini menjulur ke pelabuhan lama, ke transaksi, ke sesuatu yang mungkin dilakukan jauh sebelum hari ini. Dan kalau LB terakhir benar catatan transaksi, maka pengkhianatan pertama bukan cuma soal siapa yang curang, tapi siapa yang memilih diam demi menyelamatkan nama keluarga.
“Kalau aku salah langkah?” tanya Arga.
“Yang paling cepat disalahkan adalah kau,” jawab Rani. “Bram sudah mulai membentuk itu.”
Seolah dipanggil, suara gaduh dari depan rumah menembus koridor. Suara kursi digeser, lalu suara laki-laki yang sengaja dinaikkan agar jelas di telinga semua orang. Arga tidak mendengar seluruh kalimatnya, tapi potongan yang sampai cukup membuat darahnya bergerak lebih cepat.
“...masuk tanpa izin...”
“...mengacaukan penutupan...”
“...bukan prosedur keluarga...”
Rani menutup mapnya. “Kau terlambat kalau masih mau dianggap netral.”
Arga sudah berdiri sebelum kata-kata itu selesai. Ia menyimpan fotokopi pelabuhan lama, menekan catatan kecil ke telapak tangan, lalu keluar dari ruang katalog dengan langkah yang tak bisa dibuat santai. Di lorong belakang, bau garam makin tajam. Di depan, suara keluarga makin ramai. Bram sedang mengubah cerita saat ini juga.
Ketika Arga kembali ke ruang depan, meja makan sudah berubah menjadi panggung. Maya berdiri di dekat map biru, wajahnya masih tenang, tetapi jari-jarinya kini menekan sisi kertas lebih keras. Beberapa saksi keluarga telah berdiri. Satu orang memegang ponsel, siap merekam, atau sekadar menyimpan versi yang paling berguna nanti.
Bram mengangkat tangan sedikit, tenang seperti pembawa acara yang baru menemukan topik paling menguntungkan.
“Kalau semua orang mau tahu,” katanya, “Arga baru saja mengambil berkas dari katalog tanpa izin penuh. Dia datang ke rumah ini bukan untuk membantu. Dia datang untuk mengguncang penutupan dan memaksa akses di luar jalur resmi.”
Ruangan langsung membeku setengah detik, lalu berubah. Tatapan yang tadinya ragu kini mencari target. Arga melihat itu bergerak seperti pintu yang perlahan menutup.
Maya memandangnya, kali ini tanpa ekspresi netral yang biasa. Bukan marah, bukan memihak. Lebih buruk: ia sedang menilai apa yang harus diselamatkan jika situasi ini pecah.
Arga ingin menjelaskan catatan Sari Wibisana, LB terakhir, dan rujukan pelabuhan. Tapi ia tahu penjelasan panjang di ruangan yang sudah dipenuhi tuduhan hanya akan terdengar seperti pembelaan orang yang ketahuan. Dan selama ia bicara, Bram sudah lebih dulu menanam versi yang paling mudah dipercaya.
Jejak sah yang ia kejar justru menutup dua pintu sekaligus: akses ke ruang arsip dipersempit, dan nama Arga mulai dipakai sebagai kambing hitam di depan saksi keluarga.