Empat Hari Menuju Surat Jual
Arga Pratama baru saja mendorong pintu bengkel tua itu ketika stiker merah bertuliskan DIJUAL menampar matanya di pintu depan rumah warisan.
Kertasnya ditempel miring, salah satu sudutnya masih lembap, seolah orang yang memasangnya sengaja tergesa agar seluruh lorong pesisir sempat melihat lebih dulu daripada pemiliknya sendiri. Bau oli dari lantai bengkel, cat mengelupas di kusen, dan angin asin dari arah pelabuhan bercampur menjadi satu aroma yang membuat rumah itu terasa seperti sedang membusuk pelan. Dari kejauhan, klakson kapal terdengar pendek, seperti mengingatkan bahwa empat hari bisa habis lebih cepat daripada harga diri.
Raka sudah berdiri di halaman depan, kemeja lengan digulung rapi, map cokelat dijepit di bawah ketiak. Di sampingnya, Bu Sari berdiri tegak dengan wajah yang tidak memberi ruang. Maya ada di dekat pintu dapur, tangannya memegang kain lap, matanya sempat bertemu Arga lalu segera turun lagi. Bukan karena tidak tahu harus berpihak ke mana—lebih karena di rumah ini, salah langkah bisa dianggap mengkhianati darah sendiri.
Raka mengangkat dagu sedikit, cukup untuk semua orang di depan warung seberang dan dua pekerja bengkel yang pura-pura sibuk menangkap suaranya.
“Mulai hari ini, urusan rumah ini ditutup. Sudah ada surat pengantar. Empat hari lagi serah terima jalan.”
Tidak ada teriakan. Justru karena itu kalimatnya terasa lebih kasar.
Bu Sari menambahkan tanpa menoleh ke Arga, “Yang penting nama keluarga tidak hancur di depan orang. Kamu diam saja, Ga. Ini bukan urusanmu.”
Kalimat itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat salah satu pekerja bengkel menunduk. Beberapa tetangga yang tadi lewat berhenti sejenak di ambang warung, lalu berpura-pura tidak melihat. Arga merasakan penghinaan itu menempel di kulit, tetapi ia tidak memberi Raka kepuasan melihat wajahnya pecah.
Ia melangkah mendekat ke pintu, menatap stiker itu lebih lama daripada yang seharusnya. Bukan pada tulisan DIJUAL-nya, melainkan pada bagian bawah yang berisi cap notaris kecil dan nomor berkas.
“Siapa yang tempel duluan?” tanyanya datar.
Raka menyeringai tipis, yakin pertanyaan itu tidak akan mengubah apa pun. “Yang penting sudah sah. Tanda tangan Bu Sari masuk. Pembeli tinggal tunggu serah terima.”
Arga menahan diri untuk tidak memandang Bu Sari. Ia justru membaca stiker itu seperti membaca sambungan kabel yang putus: urutan cetak, tekanan cap, dan posisi lem yang terlalu rapi di satu sisi. Cap notarisnya baru, tapi ada bekas lipatan di kertas yang menunjukkan stiker itu pernah disimpan dan dipindahkan lebih dari sekali. Untuk urusan jual-beli rumah tua, hal kecil seperti itu berarti satu dari dua hal: seseorang tergesa, atau seseorang menyembunyikan jejak.
Bu Sari melihat Arga memperhatikan cap itu. Suaranya turun, lebih tajam karena ditahan. “Jangan buat ribut. Kalau kau mau bantu keluarga, bantu diam.”
Maya menggeser kain lap di tangannya. “Bu...”
“Tidak usah,” potong Bu Sari. “Maya, masuk. Jangan berdiri di situ.”
Arga melihat bahu istrinya menegang, lalu mundur setengah langkah. Di rumah ini, bahkan diam pun harus meminta izin.
Pak Hadi, yang sejak tadi berdiri agak jauh di dekat pilar bengkel, mengusap dagunya. Ia orang tua yang jarang ikut campur, pekerjaannya dulu di dermaga membuatnya tahu kapan ombak sedang menyimpan arus bawah. Ia menatap pintu belakang bengkel, lalu sekali saja memandang Arga dengan sangat singkat.
Bukan pesan yang lengkap. Hanya isyarat: ada sesuatu yang bergerak di belakang rumah.
Arga menangkapnya.
Raka mengikuti arah pandang Arga ke pintu belakang, lalu berkata cepat, “Kalau mau lihat-lihat, lihat setelah beres. Orang notaris datang sore ini. Jangan bikin saya ulang bicara.”
Arga tidak membalas. Ia mendekat ke stiker jual, meraba tepi bawahnya seperlunya, lalu mundur lagi seolah hanya ingin memastikan kertas itu menempel kuat. Dalam satu gerakan singkat itu, ia sudah menyimpan dua hal ke kepala: nomor berkas di sudut kanan dan bekas bekas tekanan cap yang sedikit miring ke kiri, seolah ditempel bukan di tempat yang pertama kali disepakati.
Ini bukan sekadar keputusan keluarga yang dipaksakan.
Ada prosedur yang dipotong.
Ada akses yang sudah dibuka lebih dulu.
Dan ada seseorang di rumah ini yang bekerja malam-malam sebelum stiker itu muncul.
Ruang tengah rumah warisan itu sempit oleh kipas tua, map plastik kusam, dan kursi-kursi kayu yang bunyinya selalu berdecit kalau dipindah sedikit. Stiker DIJUAL tadi sudah terlihat dari jendela depan, seperti tanda bahwa bahkan udara pun kini ikut disita.
Raka menaruh berkas di atas meja kayu yang lengket, lalu mengetuknya sekali dengan jari. “Penjualannya final. Tanda tangan hari ini. Empat hari lagi uang muka masuk. Kalau telat, pembeli pindah ke gudang di pelabuhan.”
Bu Sari duduk tegak di ujung meja, wajahnya dipertahankan rapi seperti kain yang ditarik menutupi noda lama. “Rumah ini tidak bisa dipertahankan dengan emosi. Kita butuh napas. Kita butuh nama baik.” Ia menatap Maya sekilas. “Kamu dengar ibumu.”
Maya berdiri dekat lemari kaca, jari-jarinya merapat pada tepi rak. Ia tahu setiap kata yang keluar sekarang bisa menjadi batu di halaman sendiri. “Kalau dijual cepat, kita pindah ke mana?” tanyanya pelan.
“Ke mana saja yang penting aman,” jawab Bu Sari.
Arga melihat, bukan mendengar. Di atas meja, map plastik kusam itu diberi cap notaris yang sama. Namun sudut lipatannya berbeda dari yang ditempel di pintu. Ada dua urutan yang tidak sinkron. Satu lembar tampak lebih baru dari yang lain. Yang paling penting: tanda tangan di halaman depan terlihat terlalu bersih di sekitar garis tekan, seperti baru diambil dari lembar lain dan ditempel ke proses yang sudah dipercepat.
Ia mengangkat mata, menatap Raka sejenak.
“Notarisnya datang langsung ke sini?”
Raka tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena merasa pertanyaan itu sudah terlambat. “Kenapa? Kamu mau jadi saksi?”
Arga tidak terpancing. Ia menatap map itu lagi, lalu bertanya, “Nomor berkasnya kenapa loncat?”
Ruangan langsung hening.
Tidak ada suara piring, tidak ada gesekan kursi. Bahkan kipas tua di langit-langit seolah terdengar lebih pelan. Bu Sari menoleh untuk pertama kalinya ke Arga, kali ini dengan peringatan yang jelas. “Apa maksudmu?”
Arga menunjuk tanpa menunjuk, hanya menggeser dagunya ke ujung map. “Kalau prosesnya rapi, nomor salinan dan nomor pengantar harus nyambung. Ini tidak. Yang satu tercetak belakangan.”
Raka menatapnya sejenak, wajahnya masih tenang tetapi rahangnya mulai mengencang. “Kamu belajar dari mana soal itu?”
“Dari kerja,” jawab Arga singkat.
Itu jawaban yang membuat Bu Sari makin tidak suka. Karena selama ini semua orang di rumah itu sudah nyaman menganggap Arga cuma menumpang, diam, dan tidak punya bobot apa pun. Ia bukan orang yang perlu didengar. Ia hanya nama tambahan di pinggir keluarga.
Tapi Arga sudah melihat cukup banyak berkas bengkel, kuitansi dermaga, dan surat pinjaman untuk tahu kapan ada sesuatu yang dipotong dari jalur yang benar. Kesalahan kecil bukan kesalahan kecil kalau menyangkut hak milik. Itu celah.
Bu Sari meletakkan telapak tangan di meja, suaranya dingin. “Walau ada yang salah, tetap tidak ada gunanya. Keluarga ini tidak bisa menunggu kamu cari panggung.”
Arga menahan napas, lalu menatap Maya, bukan Bu Sari. “Kamu yang tanda tangan?”
Maya diam terlalu lama. Diam yang terlalu lama biasanya berarti dipaksa.
“Sudah cukup,” kata Bu Sari cepat. “Jangan seret Maya ke tengah-tengah.”
Arga menggeser pandangannya ke belakang ruang tengah. Pintu samping menuju lorong belakang bengkel setengah terbuka. Kunci tua tergantung di paku, tapi ada bekas gesek baru di kusen. Seseorang baru saja keluar-masuk dari sana beberapa kali. Dan bila Pak Hadi tadi memberi isyarat ke arah belakang, berarti dugaan Arga bukan hanya dugaan.
Ia berdiri, mengambil posisi yang tidak menantang tapi juga tidak mundur. “Kalau memang final, saya mau lihat semua salinan. Termasuk yang belum ditempel ke berkas utama.”
Raka mendengus pelan. “Kamu pikir kamu siapa?”
Arga menjawab tanpa meninggikan suara, “Orang yang tahu ada halaman yang belum nyambung.”
Kalimat itu tidak besar. Tapi cukup untuk memindahkan udara di ruangan.
Pak Hadi, yang sejak tadi diam di dekat pintu belakang, mengangkat jari telunjuknya sedikit—gerakan kecil yang nyaris tak terlihat. Lalu ia menggeser pandangannya ke lorong samping, ke arah pintu arsip kecil yang selama ini biasa dipakai menyimpan plat bekas, kuitansi lama, dan barang yang tak lagi dipikirkan siapa pun. Tahun lalu ruangan itu sempat disegel karena bocor, lalu dibuka lagi tanpa banyak orang memperhatikan.
Arga menangkap isyarat itu seperti memegang ujung benang.
Bu Sari melihat percakapan tanpa kata itu dan wajahnya mengeras. “Pak Hadi, jangan ikut campur.”
Orang tua itu hanya menjawab pelan, “Saya cuma ingatkan, Bu. Rumah tua selalu menyimpan yang paling penting di tempat yang paling sepi.”
Raka menutup map cokelatnya sedikit lebih keras dari perlu. “Kalau mau cek, cek nanti. Orang notaris datang sore. Yang penting sekarang jangan bikin penghuni panik.”
“Kita sudah panik dari tadi,” gumam Maya, nyaris tak terdengar.
Bu Sari memejamkan mata sebentar, lalu membuka lagi. “Maya, ke dapur. Arga, jangan ke mana-mana.”
Perintah itu ditujukan pada dua orang sekaligus, tapi Arga justru berdiri diam lebih lama. Ia tidak melawan. Ia hanya memaksa semua orang melihat bahwa ia tidak bubar.
Saat Raka sibuk menjelaskan sesuatu pada Bu Sari tentang uang muka dan pembeli di pelabuhan, Arga menoleh ke Pak Hadi dan menangkap anggukan kecil yang hanya berarti satu hal: ada ruang kecil di belakang yang baru saja disentuh orang.
Di rumah seperti ini, berita paling mahal bukan suara tinggi. Melainkan pintu yang pernah dibuka diam-diam.
Arga berjalan ke sisi belakang bengkel, menahan beberapa pekerja yang mulai ingin pergi karena merasa urusan keluarga itu akan meledak sebentar lagi. “Tetap di sini dulu,” katanya pada salah satu dari mereka. “Kalau nanti orang notaris datang, kalian tahu siapa yang lebih dulu lihat stiker itu.”
Bukan perintah besar. Hanya cukup untuk menahan mereka dari bubar.
Itu penting.
Kalau semua orang pergi, keluarga ini akan kehilangan saksi. Kalau ada saksi, Raka tidak bisa memutar proses seenaknya.
Saat Arga mengorek pojok arsip yang baru dibuka, ia menemukan bekas gembok lama yang tak mungkin muncul kalau tak ada sesuatu yang sengaja dipindahkan malam sebelumnya.