Novel

Chapter 12: Jam yang Berhenti

Aris berhasil membongkar malpraktik rumah sakit tepat saat sistem pembersihan otomatis berhenti. Meski Baskoro ditangkap dan bukti malpraktik tersebar, Aris kini menghadapi konsekuensi hukum atas jejak peretasan yang ia tinggalkan, menjadikannya kambing hitam dalam skandal keuangan rumah sakit.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Jam yang Berhenti

Layar monitor di ruang kontrol utama tidak lagi menampilkan grafik detak jantung atau log farmasi. Kini, layar itu hanya memancarkan cahaya biru pucat yang dingin, menyorot debu yang beterbangan di udara. Di sudut kanan atas, angka hitung mundur yang selama dua belas jam terakhir menjadi detak jantung Aris—00:00:00—akhirnya berhenti berdenyut.

Aris berdiri mematung, tangannya masih berada di atas keyboard yang baru saja ia kunci. Di belakangnya, suara langkah sepatu bot polisi menggema di koridor marmer yang steril.

“Aris Pratama?” suara itu berat, milik seorang penyidik dari unit kejahatan siber. “Anda diminta ikut ke ruang pemeriksaan. Sekarang.”

Aris menoleh. Di ambang pintu, ia melihat Dr. Baskoro digiring dengan tangan terborgol. Wajah sang dokter yang biasanya penuh wibawa kini tampak abu-abu, matanya yang tajam menatap Aris dengan kebencian yang murni. Baskoro tidak berteriak; ia hanya tersenyum tipis, sebuah isyarat bahwa permainan belum benar-benar berakhir.

“Jejak peretasan itu tidak akan hilang hanya karena kau mematikan sistemnya, Aris,” bisik Baskoro saat ia melintas. “Aku sudah memastikan namamu tertanam di setiap baris kode sabotase keuangan itu. Kau bukan pahlawan. Kau adalah kambing hitam yang sempurna.”

Aris tidak menjawab. Ia tahu Baskoro benar. Jejak digital yang ia gunakan untuk membongkar malpraktik itu memang ilegal, dan dalam sistem hukum yang kaku, niat baik tidak menghapus tindakan kriminal.

Di sudut ruangan, Maya berdiri mematung. Ia baru saja menyerahkan ponsel berisi bukti otorisasi farmasi kepada penyidik. Wajahnya tampak lebih tenang, meski ada ketakutan yang tersisa di matanya. Ia menatap Aris, memberikan anggukan kecil—sebuah pengakuan bisu atas aliansi rapuh mereka. Anaknya sudah menunggu di lobi, jauh dari jangkauan pengaruh rumah sakit yang kini sedang diobrak-abrik oleh tim forensik.

“Aris,” panggil Dimas, operator studio yang kini tampak pucat pasi. Ia memegang hard drive cadangan yang berisi rekaman Raka. “Polisi sudah menyita semuanya. Apa kita akan selamat?”

“Kita sudah melakukan apa yang harus dilakukan,” jawab Aris datar. Ia menatap layar monitor yang kini kosong. Tidak ada lagi data yang bisa dihapus. Tidak ada lagi pasien yang bisa dimanipulasi. Namun, kebenaran itu datang dengan harga yang mahal: kariernya, reputasinya, dan kebebasannya sendiri.

Saat Aris berjalan keluar dari ruang kontrol, ia melewati Raka yang sedang diinterogasi di lorong. Petugas keamanan itu menunduk, tidak berani menatap Aris. Aris menyadari bahwa sistem yang ia lawan bukan hanya Baskoro, melainkan seluruh struktur yang dibangun di atas kebohongan.

Di lobi rumah sakit, suasana sudah berubah. Garis polisi membentang di depan meja resepsionis. Wartawan mulai berkerumun, mencoba menangkap gambar dari skandal yang baru saja meledak. Aris melangkah keluar menuju udara malam yang dingin. Ia bisa merasakan ponselnya bergetar di saku—panggilan dari pengacara yang ia hubungi tadi pagi.

Ia berhenti sejenak di depan pintu kaca otomatis yang kini berfungsi normal. Ia menatap pantulan dirinya di kaca: seorang pria yang lelah, yang baru saja menghancurkan sebuah institusi untuk menyelamatkan satu kebenaran.

Jam pengintai memang telah berhenti, tetapi tagihan atas keputusannya baru saja dimulai. Aris menarik napas panjang, menatap layar monitor besar di lobi yang kini menayangkan berita utama tentang penangkapan Baskoro. Kebenaran telah terungkap, namun di dunia ini, kebenaran sering kali menjadi beban yang harus dipikul sendirian. Ia melangkah pergi, meninggalkan rumah sakit yang kini tak lagi memiliki rahasia untuk disembunyikan, menuju masa depan yang tidak pasti.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced